Aku, Kau dan KUA.

Kau, memaksa ku pergi ke gedung kusam itu. Tempat segala berkas kawin orang tertumpuk busuk di makan cecurut.
Lin, tidak salah jika kita pergi ke KUA. Toh kau mencintai ku. Jadi mari kita satukan saja. “Saran Reza”.

Reza, kita sudah bersama selama tiga tahun, kita bahkan mengenal lebih lama. Aku masih 27 tahun. Jangan kau paksa aku ke KUA, aku masih belum seyakin itu.”jawab Linda”.

Aku heran pada mu, orang tua kita sudah bertanya, aku sudah 32 tahun, kau dan aku sudah lebih dari cukup untuk menghidupi anak. Lagian kita bagian masyarakat, menikah itu identitas masyarakat kita. “Balas Reza”.

Apakah kau tahu? Aku hanya punya satu alasan kenapa aku ogah ke KUA dengan mu. Pemikiran dangkal mu ttg pernikahan. Pernikahan bukan ttg identitas kemasyarakatan kita, bukan juga jadwal hidup setelah di atas 25 tahun untuk perempuan dan di atas 30 untuk laki-laki, pernikahan itu tentang komitmen kita satu sama lain yang naik satu tingkat. Dan satu lagi aku bisa menikah tanpa harus ke KUA. “Jawab Linda”.

Kau terus keras kepala, kau dan aku hidup diantara orang tua, diantara makhluk sosial bernama masyarakat. Kau pikir pemikiran mu itu akan mudah pada akhirnya. Kau akan menambah populasi tanpa memberi kemudahan administrasi pada anak jika kelak ada di antara kita. Kau tak boleh egois. “Jawab Reza”.

Lalu kita harus ke KUA hanya karena surat untuk anak? Alasan apa itu? Apakah tak bisa kau berikan alasan lain?” Tanya Linda”.

Aku tak ingin kita ribut, tapi jika kau tak ke KUA sepenuhnya bukan masalah bagi ku tapi jadi masalah bagi orang tua mu dan orang tua ku. Dan aku di mata mereka menjadi pejantan tak bertenaga kuda karena tak berhasil membujuk mu menikah, hilang daya sengatku. “Jawab Reza”.

Jika sengat mu hanya dinilai dari pergi tidaknya kita ke KUA maka aku tak butuh sengat karbitan macam begitu. Sengat mu dalam menciptakan kita yang beritme teratur dan bernafas pelan sudah jauh lebih dari cukup, tak perlu hitam atau tanda tangan dari pria berpeci yang tiba-tiba mendadak sakral dalam hidup kita. Aku tak butuh sengat karbitan itu. “Jawab Linda”.

Apakah kau akan menikah dengan ku kelak?”tanya Reza”.

Kita akan ke KUA suatu hari baik nanti, saat dimana aku dan kau tidak lagi ribut karena KUA, saat dimana aku adalah manusia yang kau hargai kesiapannya. Menikah itu tidak sama dengan membeli perabot yang ketika tak cocok bisa kau jual kembali, menikah itu seperti memilih tempat berwisata, kita harus tahu apa yang mau kita kunjungi, kita nikmati baik dan buruknya dan juga tentang rupiah jadi tunggulah sampai aku benar-benar paham tentang tempat yang akan kita arungi itu.”jawab Linda”.

Linda, mencintai mu tak mudah apalagi memahami isi kepala mu yang tak sederhana tapi meski begitu kau magnit bagi segala yang diam di dalam aku” bisik Reza dalam hati”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s