Mimpi 13 tahun lalu

image

Malam masih begitu awal, kita berjanji tuk menikmati satu dua gelas teh. Bukan, bukan untuk teh tapi aku punya sebuah rahasia yg ingin aku kau tahu. Mungkin juga kau punya rahasia yg akan kau muntahkan malam ini di rumah teh itu.

Kau duduk di sudut ruangan, di tepi jendela dengan cermin yg mulai lembab oleh dingin malam di luar dan pendingin ruangan di dalam. Kemeja putih yg kau kenakan tampak begitu tepat di tubuh mu. Kerahnya nampak rapi dan bersih. Kau memainkan tepi gelas sambil membaca sebuah buku.

Aku berdiri di depan pintu, mengamati mu sebentar, ku lihat wajah mu dengan bola mata yg berputar menatap penuh lembar buku, sesekali kau membasahi bibirmu, ada sekumpulan rambut kecil di sekitar wajah mu yg berarak rapi. Aku membayangkan kau berdiri di depan cermin kamar kecil mu, dengan setumpuk krim lalu melalap habis rambut kecil itu di akhir pekan.

Kau melihat ku, kau berdiri dengan penuh senyum yg mengembang dari satu sudut ke sudut lain. Aku melangkah dan kau berjalan. Kini kita di tepi meja, di sudut ruangan sebuah rumah teh. Kau dan kemeja putih bersih, aku dan sebuah gaun biru tua.

Selang beberapa detik, aku seperti masuk ke dalam sebuah mimpi. Kecupan basah dan hangat mendarat di kening. Kita duduk saling memandang dan segelas kamomil teh sudah kau pesan untukku, kau paham mengenai seleraku.

Tangan mu mengelus tangan ku, kau persilahkan aku membuka cerita rahasia.

Rahasia apa? Aku gugup dan membayangkan ini sebuah rahasia adidaya, apakah aku berlebihan?”tanyamu”.

Hahaha, semacam rahasia besar ttg program nuklir Iran. Begitu?”tanya ku”

Bukan, itu terlalu gelap. Mungkin semacam rahasia bahwa sebenarnya bumi tidak bulat dan Colombus menipu kita”jawabmu”.

Tidak ada tipuan, kepura-puraan atau konspirasi. Ini sebuah rahasia silam. Kau hanya harus tahu krn aku rasa kau yg memainkan rahasia ini”jawab ku”.

Aku? Bermain peran utama? Di masa silam?”tanyamu penuh ingin tahu sambil meneguk teh hangat”.

Iya, aku pernah bertemu dengan mu ketika aku masih berusia 13 tahun, dan dalam mimpi itu, saat itu aku sudah berusia 27 tahun dan kau mungkin sekitar 30. “Jelasku”.

Maksudmu? Kita pernah bertemu 13 tahun lalu dengan rupa saat ini? Kau percaya ttg kehidupan sebelumnya?”tanyamu dng mimik serius”.

Aku tidak tahu ttg kehidupan sebelumnya, tetapi kita bertemu di kehidupan yg skarang, kehidupan yg sedang kau dan aku jalani ini. Mungkin aneh atau janggal atau mustahil tetapi aku sadar dengan sahih bahwa itu kau dan aku” jawab ku”.

Dimana? Dan bagaimana? Aku tahu kita mengenal satu tahun lalu dan menjadi kita sekarang beberapa bulan belakangan tetapi aku juga kerap berpikir, kenapa kita terasa seperti saling paham bahkan saat kita tak berbicara, seperti entah mengapa kadang aku tahu apa yang akan kau lakukan, seperti aku mengenalmu cukup baik padahal kita baru setahun mengenal tetapi aku ingin mendengar ttg kita di 13 tahun lalu, karena apa yg aku pikir mungkin belum cukup bisa menerima itu dengan mentah. “Katamu sambil memainkan jemari ku”.

13 tahun lalu, kau yg sekarang mencari dan singgah ke diri ku yg sekarang tetapi dalam wujud aku yg saat itu masih 13 tahun, kau datang dalam sebuah peluk, diatas seprai putih dan tirai kamar berwarna abu-abu, lampu tidur kuning temaram yg memantul ke penjuru tembok, aku terbaring dalam peluk dada mu dan kau memeluk dari belakang sambil mengelus rambut ku, kaki mu menggesekan telapak kaki ku, kau paham bahwa gerakan itu akan menghantarkan aku pulas, aku memainkan kaus tanpa lengan berwarna putih milikmu, sesekali kau melihat ku dan memberi kecup, aku tertidur diantara sadar dan degup jantung mu. Temaram cahaya kuning memantul ke arah kita dari segala penjuru tembok kamarmu, sesekali dalam kantuk yg nyaman aku lihat tirai abu-abu yg bergoyang kecil.

Tahukah kau bahwa kamar itulah petunjuknya, tirai abu-abu, posisi jendela, tata ruang kamar, lampu tidur dan seprai putih serta celana tidur mu dan tentu wajah mu. Ketika pertama aku memasuki kamar mu, seperti aku memasuki sebuah ruangan masa lalu dan masa depan sekaligus, saat malam itu kau peluk aku dalam kantuk yg pelan-pelan di temaram kuning cahaya lampu tidur dengan tirai abu-abu, aku jadi sadar bahwa cuplikan mimpi 13 tahun lalu yg selalu datang saat aku menatap cermin sekarang sudah ada di depan ku, aku di dalam kepingan mimpi.”jelasku”.

13 tahun lalu, kita bertemu dari masa depan, alam bawah sadar mu ku temui, begitu?”tanyamu”

Apakah aku gila?”tanya ku”

Tidak, tidak sama sekali. Kadang alam bawah sadar kita berjalan mencari sebuah jejaring yg hilang, meski konon kabarnya hanya satu juta dari satu milyar penduduk yg bisa memaksimalkan fungsi pengatur emosi otak, aku percaya pada mu.”jelasmu sambil menggeser posisi kursi mu dan berpindah di sebelah ku”

Kau genggam kedua tanganku, melipat jemarimu di sela jemari-jemari ku.

Kau tahu apa yg membikin ku, mengajak mu berkenalan di tengah keasingan setahun lalu?

Karena tawa mu, karena segala tawa renyahmu yg mengambil perhatian, dan suara itu yg aku kenali sekian lama.
Aku tak menceritakannya karena menurutku segala tentang mu sudah dan akan aku ketahui pelan-pelan, segala jawaban juga akan tersaji bagai menu makan malam. Terkadang muncul semacam pertanyaan, siapakah kita berdua hingga ada banyak sekali kegenapan yg begitu ajaib mempertemukan kita.

Sekarang segalanya menjadi jelas, aku di masa muda dan dimasa depan bahkan telah menangkap mu dalam mimpi, memelukmu dalam keheningan malam, bagiku tawa mu ialah petunjuknya, sedari dulu aku selalu mencari tawa, mengenalinya hingga aku tahu banyak jenis tawa. Dahulu, aku pernah membaca bahwa tawa ialah resonansi suara yg kaya, yg didalamnya ada banyak kandungan harapan dan respon.
Segala tawa yg aku dengar sejak dulu, semacam makanan yg menarik tapi tak membuatku kenyang, seketika aku dengar kau tertawa saat itu, aku tahu bahwa tawa mu adalah yg aku cari. Ini bukan ttg aku meneliti tawa, juga bukan tentang aku mengoleksi berbagai macam tawa hanya aku tahu bahwa ada satu tawa yg aku cari dan tawa mu lah yg akan mengenyangkan aku.

Jadi aku paham sekarang, suara dan visual kita sudah bertaut sejak lama”ucap mu”.

Aku sandarkan kepala ini di bahumu, segala kehangatan melebur masuk ke dalam kutis dan menembus tulang, tangan mu mengelus punggung tanganku, kau perhatikan seksama mata ku, segaris senyum yang aku kenal betul mengembang puas.

Mungkin sekalipun kita sudah bertemu 13 tahun lalu, kita sudah bertaut sekian lama tetap tidak akan mudah, tapi kau harus tahu bahwa segalanya pasti memiliki titik akhir yg layak”ucapmu”.

Kalau mudah, kau tak kan sampai harus menemui ku 13 lalu, “jawab ku”.

Dan dua gelas teh di depan kita kehilangan panasnya, malam kehilangan sengat gelapnya, bahu mu dan kemeja mu mengirimkan panas secara paralel ke tubuh ku, dan kecupan mu membaringkan ku dalam kantuk yg pelan, kau selalu mampu menghantarku dalam segala yg nyaman.

Singaraja, 4 Juni 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s