LUPA

Forget 1

Suatu pagi yang tampak biasa seperti pagi kebanyakan. Bunyi pesan berdering di telefon genggam. Kau melontarkan sebuah teori.Sebuah teori tentang lupa. Menurut Hermann Ebbinghaus dalam teori kurva lupa. Kita bisa merumuskan perkara lupa dan ingat. Sebenarnya, aku antara mengantuk dan mencoba paham akan isi pesan mu. Menurut Hermann rumusnya ialah :

R : e T/S

Retensi Ingatan ialah waktu dibagi kekuatan relative sebuah ingatan.

Aku bertanya, jika S ialah kekuatan relative sebuah ingatan maka akan ada faktor yang mempengaruhi nilai S. Apakah faktor tersebut? Kau menjawab dalam pesan bahwa ada dua teori dalam upaya manusia untuk mempengaruhi nilai S. Antara lain ialah teknik mnemonic dan pengulangan berkala.

Aku menghela nafas. Antara kantuk yang mulai hilang dan sinar matahari yang menyusup lewat tirai dan menimbulkan silau. Dalam batin aku mulai berpikir. Gerangan apalah yang menghantam mu hingga tengah malam waktu di negeri mu kau membicarakan teori Hermann Ebbinghaus.

Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan? “tanya ku”

Begini, aku terkadang suka dan tidak suka dengan kemampuan manusia melupakan. Kita manusia cepat sekali melupakan. Kita meningglkan banyak hal yang berharga di masa yang lewat. Waktu itu, sekitar dua tahun lalu dalam sebuah siang yang segar dan suara riak danau yang tenang, aku melihat wajah mu dengan seksama. Aku pikir begini, sebaiknya aku mengamati dengan seksama. Tulang pipi mu, bola mata mu, warna kulit mu, bahkan aku mencoba merumuskan wawangian vitamin rambut mu. Aku tidak ingin melewatkan satu detail pun.

Pagi ini, aku bangun dari tidur. Aku menyadari satu fakta baru. Aku sudah melupakan banyak fragmen ingatan itu. Aku terbangun dalam kesedihan. Kau tahu, aku ingin meningatmu. Sekalipun, aku meminta kau mengirimkan gambarmu, aku melihat model rambut baru mu. Tapi tetap saja dalam sepuluh menit aku kembali lupa. Dan, aku membenci hal itu. Itu sebuah kemmapuan yang ingin aku lawan.

 

Aku menarik nafas, antara senang atau beban.

Sebenarnya tidak masalah bagi ku dilupakan. Toh, hidup selalu begitu. Kita bisa melupakan sebagian besar mungkin hampir semua tapi aku selalu yakin akan ada satu fragmen yang tertinggal. Mustahil mengingat semua. Sekalipun oleh sebuah repetisi yang sempurna.

 

Apakah kau masih mengingat sesuatu dari ku? “tanya mu”

Tentu. Tidak banyak lagi memang. Tapi mengingatmu tidak sulit dan itu sudah cukup untuk ku.

 

Saat itu dini hari, saat kau harus terbang meninggalkan Medan. Aku masih dibanjiri kantuk yang berat. Kepergianmu membuatku berusaha melawan kantuk, saat aku sarapan pagi sebuah kupu-kupu besar menempel di dinding apartemen ku. Aku ingat aku mengirimkan gambarnya kepadamu. Saat itu, aku mulai menyibukkan diri membaca. Memasukkan makanan ke mulut ku, menyeruput kopi, tapi segera aku sadari sesuatu hal. Aku bagai sebuah kemeja satin yang lepas dari gantungan dan terjatuh di almari, kusut dan perlu segera dirapikan. Begitu kisut dan tak bertenaga.

Kau belum lupa. Kau masih mampu mengingatnya. Itu menyenangkan.

Tidak, aku tidak mengingat banyak.

Aku punya sebuah pertanyaan terakhir. Apakah menurut mu kita akan bertemu lagi?

Ahh, manusia ini memang sulit yah. Kita bisa saja bertemu di kota lain. Toh kau dan aku bekerja. Tetapi kita juga ditarik dan menarik banyak hal sehingga memang hal-hal dari masa lalu seperti sesuatu yang kita tunda atau tidak lagi menjadi utama. Terkadang, aku berpikir mungkin kelak aku akan berkunjung ke negeri mu untuk berjalan-jalan dan memberi buku kepadamu. Namun nampaknya, aku juga tidak ingin segera melaksanakannya. Dan aku juga yakin kau merasakan hal yang serupa. Kita manusia memang begitu. Kita menginginkan banyak hal. Ingin menyimpan sebanyak mungkin. Tapi kita tidak diciptakan untuk mewujudkannya. Mungkin lebih baik begitu.

 

Aku ingin bertemu dengan mu. Terkadang ada niatan berlibur dan membaca di tepi danau dengan mu. Melakukan repetisi nyata. Tetapi seketika ingatan akan pedihnya membayangkan aku di pagi hari selepas kau pergi juga menghantam keberanian ku. Aku kadang juga berpikir, lebih baik segala sesuatu sekali saja dan selebihnya adalah kenangan. Tetapi jangan berpikir aku ingin melupakan mu. Sekalipun kau tidak boleh berpikir begitu.

 

Aku tersenyum.

 

Kau harus segera tidur. Mungkin membakar dedaunan supaya lebih santai dan ringan.

Kita manusia berjuang melawan sifat alamiah kita sendiri, ujar mu.

 

F,

 

Denpasar,

19 Agustus 2016