Discover Sutet Episode 1

Tadi malam, sesuai dengan rencana awal aku menghubungi Wilma. Sudah sekian bulan lewat tanpa ada pembicaraan yang intim antara kami berdua. Wilma dan aku banyak sekali bercerita, yah bayangkan saja lah dua wanita yang isi kepalanya lebih rumit dari kabel listrik dibawah tanah. Jadi, Wilma ini adalah salah satu sahabat dekatku, kedekatan kami agak berbeda penampakannya, maksudnya Uni satu ini tidak suka basa basi apalagi nasi basi sehingga jangan terlalu sering menghubungi dia karena selain kemungkinan telefon mu diabaikan ada juga kemungkinan telefon mu menggangu aktifitas menggambarnya yang konon kabarnya dalam sepuluh tahun kedepan akan menggemparkan New York Fashion Week ( Ada amin?AAAAAMMMIIIIN).

Dalam obrolan ngalur ngidul yang tanpa bosan serta penuh nostalgia tersebut tidak terasa kami sudah bercakap-cakap selama empat jam. Kami kami bertukar gagasan terkait museum, masa depan digital printing, buku, rencana masa depan bahkan rencana pembangunan hotel bintang empat di Batu sangkar yang menurut Uni Wilma agaknya terasa kurang pas karena tidak dibarengi dengan hadirnya hostel yang lebih bermasyarakat harganya. Diantara sekian topik, sebenarnya kami berdua bertelfon ria karena secara bersamaan kami merindukan dua hal yakni : Richard dan kehidupan semi bohemian kami di Sutet (gaya betul istilah ini, ah anggaplah begitu sekalipun beberapa orang dulu menyebut gaya hidup kami hipster gagal, hahaha dan sesungguhnya tidak ada niatan kami menjadi hispter).

Dahulu kala di sebuah era kegelapan, aku dan Wilma pernah tinggal di sebuah rumah mungil yang cantik dan bersih di sebuah kawasan sehat di sekitar Medan. Rumah dua lantai tersebut adalah sebuah cerita yang secara pribadi untukku adalah periode teramat vital yang akan selalu aku ceritakan kepada siapapun dan termasuk di jurnal ini. Kalian tahu, atau begini saja, bayangkanlah sebuah rumah yang nyaman kemudian di huni oleh enam orang dengan enam abnormalitas dan semuanya mengalami distorsi dan delusi otak.

Ah sebenarnya menurut beberapa pengunjung Sutet, aku ialah satu-satunya mahluk yang mendekati normal di rumah tersebut. Sesungguhnya kalau aku pikir-pikir sekarang ini, aku rasa memang semua temanku ini mahluk luar angkasa, sungguh kawan, kalian akan merasa beruntung sekaligus seperti kejatuhan rasa syukur yang teramat besar  dan bersamaan dengan itu akan ada sensasi perasaan keren campur merinding (tenang mereka belum ada yang pernah mati suri atau bangkit dari kubur apalagi bersetubuh dengan mayat demi ilmu kebal) jika mengingat dan membayangkan pengalamanku. Baiklah akan aku ceritakan sedikit, tapi sedikit saja yah karena jika terlalu banyak aku rasa tidak baik juga dan lagian aku takut dilempar molotov oleh Richard jika terlalu cerewet.

Edisi kali ini mengingat tadi malam aku dan Wilma banyak bercerita tentang Richard maka aku akan sedikit bernostalgia tentang Richard dan pengaruhnya setidaknya bagi aku, Wilma dan Sutet itu sendiri.

Richard aka Simon aka Pimpinan tertinggi di Rumah Sutet. Tunggu, pasti kau membayangkan pimpinan tertinggi yang memperoleh segala keistimewaan seperti mendapat kamar terbaik, kamar mandi pribadi, seprai sutra dan balkon berlatar pemandangan indah nah disinilah letak keistimewaan Richard, dia justru semua kebalikan dari contoh orang yang menjadi terhormat dengan segala hak khusus.Richard memperoleh gelar terhormat dan tertinggi justru dengan segala kesederhanaannya. Ia begitu rendah hati.

Dag Solstad bilang bahwa ada dua jenis manusia yakni jenis manusia yang memberi paling banyak namun merasakan paling sedikit dan tidak suka banyak bicara serta ada jenis lain yakni meminta paling banyak namun justru  memberi  paling sedikit dan cerewet. Nah, Richard ialah jenis yang pertama dan aku adalah jenis yang kedua.

Saat pertama kali kami menyewa rumah tersebut aku langsung memberi stempel pada kamar terbaik dengan balkon dan pintu yang paling megah sehingga Richard harus berbagi dengan teman satu lagi di kamar yang biasa saja kemudian Uni Wilma dikamar lantai dasar yang kecil dan jendela seiprit yang tidak bisa dibuka penuh dan sering jadi tempat lewat nyamuk. Aku langsung bilang “aku bayar lebih tapi pokoknya aku dikamar terbaik”. Richard dan penduduk lain membiarkan saja aku dikamar tersebut toh mereka juga malas bertengkar karena kamar dan lagian mereka ini mahluk yang menganggap permintaan ku yang banyak itu sebagai bentuk kementelan ku yang agaknya tidak mudah dijinakkan jadi dibiarkan saja, aku rasa begitu. Tetapi kalian tahu pepatah yang mengatakan bahwa ”Karma lebih cepat daripada Blue bird‘ nah tidak lama dari keberadaan kami dirumah tersebut kamarku sering mengalami kebanjiran dari kamar mandi rumah sebelah dan tempat tidur andalan ku sering sekali harus digeser sana sini , aduh, jadi pelajarannya adalah bagaimanapun,tindakan tidak adilmu akan menuai ganjarannya. Aku juga ingat, pertama kali kami pindah ke rumah Sutet, Richard membeli bed cover andalan berwarna biru keabuan, di sore hari ia memasangnya dan merapikannya hingga licin dari ujung ke ujung kasur lainnya, tak lama dari kegiatan bersih-bersih sorenya itu aku bermain kekamarnya dan duduk diatas seprai baru tersebut. Kami mengobrol sambil lalu dengan Richard dan teman lain yakni Darsono. Kemudian aku berdiri karena akan mengambil air putih di dapur yang terletak dilantai dasar. Ketika aku berdiri, Darsono berteriak”Aduh kau sedang haid yah? tembus pula di seprai ini” kemudian aku jawab saja”Yah namanya haid tidak bisa dilarang kalau mau tembus, cuci aja”. Richard dengan santai menjawab” Butet…Butet kau ini tidak bisa membikin orang santai barang sebentarpun” lalu aku menjawab” Bey, kan namanya perempuan”. Dia tidak marah dan tidak pernah meributkan apapun, ia melepas seprai baru tersebut, merendam dan mencucinya tanpa mengeluh apalagi mengumpat bahkan ia membuatkan aku teh manis hangat. Bisa kalian bayangkan hati orang yang bisa melakukan itu? Kalau yang lain pasti aku sudah ditelan hidup-hidup atau jika aku berjuang melawan maka di komplek tersebut akan ada suara teriakan yang menggegerkan sore penduduk perumahan tersebut dan setelah ada teriakan itu maka para satpam akan berpura-pura patroli sore untuk memastikan tidak ada pembunuhan dirumah itu. Sebenarnya tidak ada pembunuhan, itu hanya suara ku yang memiliki hobi adu mulut dengan Darsono, menyanyi dan bertelefonan sambil teriak.

Wilma, dimana Wilma? Ah, Wilma akan ada di rumah selepas Magrib. Ia pulang bekerja (jujur aku lupa apa nama perusahaan ia bekerja karena seingatku selalu berganti. Dia acapkali memutuskan keluar tanpa pesan dari setiap perusahaan sialan yang penuh aturan dan menuntut ia melepas kerudungnya). Ia akan duduk di kursi kayu diruang utama Sutet. Dengan teh manis yang dibuatkan oleh Richard. Richard tengah mendengar lagu seraya mengutak-atik jepretannya di laptop. Darsono akan duduk ditangga rumah berhadapan dengan Wilma. Lalu, Wilma akan menceritakan segala kezaliman para atasannya atau kebobrokan perusahaan tempatnya bekerja. Aku ingat, ia sebenarnya seorang pegawai dibagian humas sebuah bimbingan belajar yang hidup segan mati tak mau. Suatu ketika atasannya akan memberi bunga papan kesebuah pesta pemakaman dan kejamnya pemilik bimbel tersebut meminta Wilma membuat sendiri bunga papan. Dan Wilma ini meski kesal setengah mampus tetap saja ia merangkai indah bunga-bunga palsu tersebut. Kalau tidak salah ada peristiwa dimana seharusnya ia menuliskan Turut Berduka Cita malah menjadi Selamat Menempuh Hidup Baru. Hahahaha. Kami terbahak-bahak sampai sakit perut. Wilma menceritakannya enteng saja.

Kita kembali ke Richard.

Wilma selalu bilang bahwa Richard ialah saudara lelakinya merangkap saudara perempuannya sekaligus berperan kekasih hati, kawan seperjalanan dan juga atasannya di sebuah usaha jasa fotografi yang mereka rintis bersama kawan lain. Bagi Wilma, Richard begitu penting dan penting. Ia bercerita bahwa ketika ia memutuskan kembali ke kampung halaman dan meninggalkan peruntungannya di Medan, saat itu didalam bus ALS ia menangis dari malam hari hingga pagi dikemudian harinya alhasil ia sampai kampung halaman dengan mata sembab seperti orang baru cerai. Wilma berucap” Kau tahu Rin, ada masa dimana aku dan Richard membangun impian masa muda kami, memakan makanan dengan hemat apalagi dia, dia rela makan menu biasa saja agar aku bisa makan lebih enak. Suatu masa dimana aku dan dia dipenuhi ide dan kami mengeksekusinya dalam Trotoa. Sehingga yang membuatku begitu pilu di bus adalah aku tidak bisa bersama Richard  lagi dan mewujudkan impian kami bersama. Tapi, kau harus tahu Rin, siapapun yang menghancurkan Trotoa dan membuat Richard sedih maka aku tidak akan segan-segan memaki dan mendorong orang tersebut ke jurang biar mati sekalian”.

Ah, aku percaya bahwa Wilma serius akan perkataannya tersebut. Kau harus percaya pada ucapan seorang sahabat yang diserang rindu kronik.

Di Rumah Sutet, ada banyak orang. Tetapi akulah yang paling tidak berguna. Kehadiranku hanya pemanis. Richard bisa memotret dengan baik dan membuat berbagai teh organik, Hery aka Randy bisa memotret dengan baik juga bahkan ia bisa memasak berbagai menu karo dengan kelezatan diatas rata-rata rumah makan Karo, Wilma ia bisa menggambar ilustrasi dengan bakat dan keindahan yang nyaris tanpa cela, Kak Lina ia bisa berdagang apa saja, apa saja, mulai dari tiket pesawat, pulsa elektrik, tas plastik, apa saja dan ia juga cakap menulis setidaknya ini terbukti dari suatu peristiwa yakni Suatu ketika kak Lina berkunjung ke toko buku tersohor lalu membaca sebuah buku dan ia mulai merasa kenal dengan tulisan tersebut, seketika ia sadar itu adalah tulisannya. Hahahaha, kemudian ia menghubungi penulis itu, berdebat kemudian mendapatkan royalti dan penjelasan.

Tami aka Temonk, ah dia ini seorang sales marketing yang mumpuni, ia bisa meraih rupiah dari postingan antah barantah di facebook, bbm dan instagram. Ia menjual teh, produk pelangsing, obat jerawat, obat pelancar haid dan segala yang terkait. Ia akan duduk ditangga dan mengatur foto  sedemikan rupa kemudian menambhakan bahasa iklan lalu bukalah facebookmu maka kau akan melihat iklannya lewat di timeline mu. Oh ya, Bang Guntur, wah dia ini banyak sekali keahliannya, ia baik dalam banyak hal kecuali menata emosi. Ia jagoan dalam merayu wanita, menjual adem sari, memilih warung BPK yang enak dan murah, ia juga pendekar andalan kami, maksudnya, kalau jam dua dini hari kami kelaparan maka aku cukup merengek kecil ke kasurnya dan meminta mie aceh maka dia akan segera mengambil jaket, memakai topinya dan menghidupkan motor gedenya yang akhirnya sekarang tinggal nama. Dan Darsono, dia banyak kecakapan juga sebenarnya cuman karena setiap hari aku marah dengannya maka aku tidak bisa memperoleh keahlian apapun dari dia, tapi setelah aku pikir-pikir dia itu baik juga. Maksudku, kalau dirumah tidak ada makanan enak, besoknya dia akan mendapatkan kiriman dari kampungnya di Tarutung sana berupa beras merah dan ikan teri kemudian akan dimasak oleh Hery dan yang menghabiskannya tentu  aku dan Tami. Maklumlah Darsono ini dosen yang baik sehingga pulang selalu tengah malam. Aku ingat betul Bang Darsono ini sangat penakut sekali, ia takut kuntilanak, pocong dan jenis setan-setan produk film Susana dahulu kala. Aku aneh sekali dengan hal ini, maksudku dia ini lelaki yang tampangnya jantan jadi dia musti berani dong. Tapi sesungguhnya aku ini wanita iblis yang jahat, aku suka sekali menakut-nakutinya, aku pernah memakai mukenah Tami dan menggeletakkan diriku ditangga rumah yang remang sambil menghidupkan lilin aromaterapi kemudian dari kamar ia akan memanggil namaku dan aku diam saja, hahahaha, atau aku bersembunyi didalam lemari pakaiannya dengan mengurai rambutku, yang terjadi ialah ia berteriak dan lari tunggang langgang ke pos satpam, hahahahahahhaha. Aku jahat sekali. Sebaiknya aku harus meminta maaf padanya.

Dari semua keajaiban itu, Richard ialah orang yang paling cool dirumah tersebut.

Bagaimanapun aku berteriak dan marah kepada Bang Darsono maka Richard akan bilang kepada Darsono” Sudahlah, jangan kau ambil hati si Rini ini, dia hanya mau kau jadi lebih baik meski caranya agak sporadis” kemudian Darsono akan diam dan kembali bercanda.

Atau jika Hery sedang gundah gulana dan meringkuk dikamar sambil melihat-lihat telefon genggam maka Richard akan datang dan mengajaknya bercerita sambil memberi suntikan semangat seperti ” Kam ini kek anak SMA, biasa begitu memang. Kam harus semangat, lihat itu udah banyak klien kam”.

Atau saat Wilma geram akan atasan-atasannya yang setengah manusia maka Richard hanya akan tertawa sambil menunjukkan foto Noah Mills atau Jon Kortajarena yang berhasil membuat Wilma lupa bahwa dunia ini agak kejam.

Atau saat Bang Guntur tengah bersitegang dengan anggota lain muka bumi ini misalnya adik atau tetangga atau rekan kerjanya maka Bang Guntur akan duduk sambil merokok di ruang utama dengan Richard dan Richard akan berkata” Biasanya itu Bro, kalau kam emosi datang aja kesini, minta kunci ama si Rini, jangan kam berkeliaran dijalanan sana”

Atau saat Tami tengah bosan dan hampir putus asa dengan skripsinya maka Richard akan memompa semangatnya” Ayok Temonk, diketik aja sambil dengar lagu kita disini”.

 

Dan itulah Richard, ia bisa membuat siapa saja lupa bahwa dunia ini agak pahit. Ia begitu penuh cinta kasih. Ia akan mengambil semua buku lamanya dan memberikannya kepadaku dan berucap” Kam pasti akan suka Kundera, dia ini tipikal psikologi analitik persis seperti apa yang kam suka, baca ya bey”.

 

Richard punya kebiasaan ini, bangun pagi hari lalu mandi dan duduk dengan teh manis hangat sambil menyanyi dari laptopnya kemudian membuatkan yang lain minuman kesukaan kami.

 

Aku sepaham dengan Wilma bahwa kami bisa melakukan apa saja kepada siapa yang berlaku kejam kepada Richard, maksudku, jika seseorang berbuat tidak adil kepada Richard maka aku bisa menjambaknya dan melepaskan semua tata aturan sopan santun yang aku junjung, aku akan menjambak, mencakar muka, mendiaminya hingga sepuluh kehidupan.

 

Kalau sekarang aku tidak bisa memasak, tidak bisa membuat teh manis yang enak dan kopi yang sedap maka salahkan lah Richard dan Hery yang selalu melakukannya untukku sehingga aku jadi perempuan manja, hahahaha.

 

Aku beruntung bukan? Kalau kelak aku punya anak (aku sungguh tidak tahu ini kapan) maka aku akan membiarkan anakku hidup satu rumah dengan teman-temannya dengan segala perbedaan diantara mereka karena aku rasa itu baik, setidaknya kau belajar bahwa meskipun kita manusia ini adalah spesies aneh dan cenderung jahat meski begitu semua kita hakikatnya memiliki kebaikan atau setidaknya keunikan yang harus kita terima dan kita hargai.

 

Baiklah Richard, kau harus tahu, aku dan Wilma akan selalu menjadi pendukung fanatikmu, tidak peduli apa dan bagaimana kami nanti, kau adalah milik kami. Kau harus ingat ini, jadi kau harus sehat agar kita bisa berjalan-jalan lagi mungkin ke Mentawai.

 

Aku mencintai dan merindukan mu

Your Bey,

R,

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s