Underneath of Sunset Story

ii

 

Semua orang jatuh cinta pada senja, warnanya yang menguning menutupi birunya langit membikin semua terbius. Senja bisa jadi keajaiban yang membuat kita lupa bahwa hari terik baru saja dilewati.  Sesungguhnya, aku benci setengah mati dengan senja. Kau mau tahu mengapa?

Aku kehilangan ibuku tepat pada senja di sebuah hari yang kelabu. Saat itu senja tengah merekah bagai bunga matahari yang mekar dikebun belakang rumah. Aku ingat betul, kelembaban udara begitu pas dan aroma sore pun semerbak menyerbu. Aku menunggu ibu ku di depan sekolah. Saat itu aku berusia sekitar 12 tahun, aku masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Setiap sore di hari senin hingga jumat aku akan mengikuti kelas tambahan untuk ujian akhir. Di hari Senin, persis seperti hari itu kelas tambahan diadakan hingga jam lima sore hari untuk membahas kumpulan contoh soal . Sebenarnya, aku benci sekolah. Maksudku, mengapa kita duduk disebuah gedung selama dua belas jam dan mendengarkan sekumpulan orang dewasa yang bosan dengan hidup mereka dan mereka kerap mempertontonkan dengan terbuka usaha mereka berjuang melawan kantuk meski akhirnya gagal menutupinya. Manusiawi memang, barang tentulah mereka mengantuk  apalagi anak-anak yang dipaksa duduk manis mendengar ocehan mereka yang sudah seperempat hati itu. Pada pukul lima, kelas akan berakhir dan aku akan menunggu ibuku di depan sekolah, yakni di pos satpam sambil menggambar dengan pensilku. Ibu akan tiba pukul 17.20 atau jika terkena lampu merah ia akan tiba pukul 17.25. Apakah ia pernah terlambat melebihi jam tersebut? Maka jawabannya tidak pernah.

Senja itu, aku menggambar senja di halaman sekolah ku. Ada langit yang jingga dengan burung gereja yang terbang berkeliling diatas gedung sekolah, sekumpulan mobil bergantian masuk dan keluar menjemput para anak murid, sebagian anak-anak terlihat lelah dan berwajah menakutkan. Orang tua anak-anak tersebut juga tampak bosan dan tak banyak bicara dengan anak mereka. Matahari terlihat akan pulang, bulan mulai menampakkan diri samar-samar, aku masih menggambar di pos satpam.

`               Aku melihat jam dinding di pos satpam dan benda bundar tersebut menunjukkan pukul 17.30 sore hari. Aku berdiri dan berjalan ke depan pagar sekolah, aku menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tak ada tanda ibu atau mobilnya. Aku kembali masuk ke pos satpam. Ibuku tidak suka aku menunggu diluar lingkungan sekolah, ia percaya bahwa siapa saja bisa menjadi korban penculikan tak terkecuali aku. Ia bilang bahwa dunianya akan runtuh jika aku tak disampingnya. Dan, apakah kau tidak akan mengindahkan pesan seperti itu?

Aku duduk hingga satpam memberikan segelas air putih dan menanyakan alamatku. Aku hanya menjawab bahwa ibu tidak mungkin tidak menjemputku. Tapi jam dinding sudah bergerak pada pukul 18.00 sore hari. Ketika aku asik menggambar, aku melihat mobil orangtua teman satu kelas ku didepan pagar sekolah. Ibu Amelie namanya, ia turun dengan tergesa, tangannya tampak meremas jari-jarinya sendiri. Ia memanggil namaku. Aku berdiri dan menjawab.

‘’Lehon, kau akan pulang bersama kami’’ ujarnya sambil memberikan tangannya.

‘’Ibu akan menjemputku, meski kau tetangga ku tapi aku takkan membiarkan ibu pulang tanpa ku’’

‘’Lehon, kita akan pergi ke rumah sakit, aku sungguh tidak bisa memberi tahu lebih banyak’’ ujarnya sambil meneteskan air mata.

Aku lari dan masuk kemobilnya.

Sepanjang perjalanan tidak satu pun suara keluar dari mulutku tidak juga airmata. Aku lihat di sebelahku seorang anak perempuan, dia teman sekelasku, anak perempuan ibu Amelie. Sofia nama anak perempuan itu, ia tampak menangis dan terus menerus menjatuhkan airmata. Aku benci melihatnya, aku menoleh kearah jendela dan melihat senja jingga yang tampak seperti jingga indah lainnya, aku melihat harapan. Sofia sesenggukan di sebelahku, oh, sungguh aku ingin sekali berteriak agar ia berhenti menangis.

Mobil Ibu Amelie masuk ke halaman depan sebuah rumah sakit dan berhenti di halaman parkir, aku lari masuk ke ruang gawat darurat, aku tahu bahwa setiap orang akan masuk ke ruang itu dahulu. Ruangan itu tampak besar dan dipenuhi puluhan tempat tidur yang ditutupi kain biru sebagai pemisah satu ranjang ke ranjang lainnya. Aku mencari Ayahku, ia pasti disekitar Ibuku. Seorang suster menghentikan pencarian ku.

‘’Maaf, anak kecil. Ini ruang gawat darurat. Kau bisa menunggu didepan!’’ ujarnya

‘’Aku mencari ibuku’’ jawabku sambil terus bergerak kearah tempat tidur lainnya.

‘’Ah, siapa nama ibumu?’’ tanyanya.

‘’Anita Sudarma, itu nama ibuku’’ jawabku tergesa-gesa.

Tiba-tiba Ibu Amelie memelukku dan menuntunku ke ruangan lain.

‘’Lehon, kau akan melihat ibumu di ruangan lain’’ jawabnya sambil menuntunku keluar dari ruang gawat darurat.

Aku tak melepaskan tangan tersebut, aku tahu bahwa tangan itu akan membawaku berjumpa dengan ibuku. Sofia tampak berada ditangan kanan ibu Amelie. Ibu Amelie juga menuntun Sofia yang masih terus menangis.

Kami memasuki ruang jenazah. Aku ingin menangis dan menghajar siapa saja. Namun semua urung aku lakukan karena tampak olehku Ayahku, ia duduk melantai di depan ruang jenazah, berlumur darah dan meratap. Ia menggunakan jas kantornya dan duduk penuh airmata. Ia menunduk bagai kehilangan seluruh hartanya. Aku mendekatinya.

‘’Apa yang terjadi dengan Ibu, Yah?’’ tanya ku duduk di dekatnya.

‘’Ia mengalami kecelakaan , mobilnya dihantam truk pengangkat batu bata yang oleng. Ia ditengah perjalanan menuju sekolahmu.’’ Jawab Ayah sambil menaruh tangannya di pundakku.

Aku berlari masuk keruang jenazah, beberapa suster melarangku, aku terus memaksa. Ayah mendatangiku dan menuntunku melihat ibu. Sungguh, aku melihat darah segar keluar dari kuping ibu, aku melihat kepalanya, aku raba kepalanya, tidak ada satupun luka namun darah terus mengalir dari kedua kuping ibu dan kulit wajah ibu pucat dingin.

‘’Ayah, tidak ada luka di kepala ibu. Seharusnya ibu tidak mati’’ ujarku.

‘’Lehon’’ ujar Ayah.

‘’Dimana dokternya?’’ Tanya ku.

Seorang lelaki berusia empat puluhan dan jas putih tampak datang ke arah ku, ayah, jenazah ibu dan dua orang perawat yang tengah merapikan jenazah ibu.

‘’Ada apa Nak? Aku adalah dokter forensik yang bertugas hari ini’’ ujar lelaki itu.

‘’Dengar yah, aku tidak peduli kau dokter apa, itu tidak penting. Yang mau aku tahu mengapa ibu ku mati padahal tidak ada luka besar di kepalanya atau jantungnya atau wajahnya? Dan satu lagi, apakah kau tidak bisa menghentikan darah yang mengalir dari kedua kuping ibuku?’’ tanya ku sambil menatap wajahnya.

‘’Baiklah akan aku jelaskan. Kepala ibu mu membentur sesuatu yang keras, menurutku sesuatu yang sekeras besi atau batu. Dan benturan itu menyebabkan tulang dasar kepalanya patah kemudian menekan otaknya dan menyebabkan darah  keluar dari kupingnya. Sebaiknya, aku tidak menceritakan ini kepadamu tapi aku tahu kau punya hak dan tengah menuntut hak mu.’’ Ujar dokter tersebut sambil duduk menjongkok di depanku.

‘’Apakah kau tidak bisa menghentikan darah sialan itu?’’ tanyaku.

‘’Kita akan menaruh kasa untuk menyumbat darah tersebut dan setelah beberapa jam itu akan berhenti’’ ujarnya.

‘’Lehon, berhentilah bertanya!’’ ujar Ayah.

Ruang jenazah yang dinginnya bagai kutub selatan tersebut sungguh terasa panas bagiku, orang-orang hilir mudik di ruangan tersebut. Para perawat selalu datang dengan kain putih dan toples-toples plastik berisi kasa putih yang aku yakin mereka gunakan untuk menutup banyak kuping, hidung dan mulut manusia tak bernyawa. Tiba-tiba sakit kepala menyerangku dengan hebat, aku tak bisa melihat orang utuh, mereka semua menjadi berbayang di mataku. Aku duduk dan menekan kedua sisi kepalaku. Aku melihat ke arah jendela, sinar matahari tampak masih kuat dan langit berwarna jingga terang. Kepalaku makin nyeri saat melihat pemandangan itu. Ku arahkan wajahku ke pintu masuk ruang jenazah dan kulihat Ibu Amelie dan Sofia berdiri sambil menangis.

Aku berdiri dan bergerak kearah ibu, aku memeluknya, aku sungguh kelelahan, kepalaku terasa akan meledak, aku terus memeluknya tapi ibu diam dan kulitnya dingin.

Sore itu adalah senja terkutuk yang pernah ada di muka bumi ini.

Esok harinya, jenazah ibu dibawa kegereja. Banyak sekali orang menangis dan menceritakan betapa baiknya ibu. Ayah terus memandangi wajah ibu sambil menangis. Asal kalian tahu, Ayah dan ibu ku berkencan selama sepuluh tahun sebelum menikah. Ayah ialah pria pendiam yang hobi sekali bermain catur dan lawan kesukaannya bermain catur hanya Ibu. Ibu ialah perempuan periang, ia suka sekali memasak dan bercerita. Ibu bilang bahwa Ia dan Ayah ialah sahabat selain sepasang kekasih dan itu benar. Dunia ayahku tidak ada selain menggambar bakal gedung-gedung atau bangunan lain serta kekasihnya yaitu Ibu. Di acara pemakaman Ibu, teman-teman kantornya banyak menitikkan air mata dan memberikan bunga. Mereka mendatangi dan memeluk ku sebelum pulang. Mereka mengelus kepalaku dan aku menjadi sakit kepala. Ayah ku terus duduk di sebelah peti jenazah Ibu, mengelus rambut Ibu dan memandangnya tanpa jemu. Aku duduk disebelah Ayah meski kerap pergi ke kamar kecil untuk muntah.

Ibu dimakamkan tepat saat senja yang sialnya kembali berwarna jingga. Hanya ada aku, ayah dan Ibu Amelie beserta suaminya. Ibu Amelie ialah teman ibu bertukar menu masakan. Meski begitu aku tidak akrab dengan anaknya yaitu Sofia, menurutku Sofia terlalu ramai. Di kelas, ia selalu duduk paling depan dan mengangkat tangan setiap ada pertanyaan, ia juga menanam bunga ester berwarna ungu di halaman kelas kami dan akan berteriak kepada siapa saja yang menggangu bunga-bunga tersebut. Ia sepertinya tahu kalau aku tak menyukainya sehingga ia juga tak pernah bermain kerumah ku.

Kematian ibu bagai badai musim dingin yang tak berkesudahan. Tiga bulan setelah ibu pergi aku harus menghadapi ujian akhir sekolah. Kau tahu, apa yang terjadi dengan ujian ku? Hancur. Aku terpaksa mengikuti ujian paket susulan setelah Paman ku menemui orang di dinas pendidikan. Aku lebih banyak menggambar di kamar ku. Ibu Amelie menjemputku saat pulang sekolah di sisa tiga bulan terakhir sekolah dasar. Setelah ujian usai, Ayah dan aku memutuskan untuk melanjutkan hidup ditempat Ayah dan Ibu dulu berkuliah dan merintis awal karir mereka yakni di Berlin.

Di Berlin, aku hanya hidup dengan Ayah. Ayah bekerja diperusahaan tempat ia dan ibu dulu pernah memulai hidup bersama. Ayah, seperti kubilang sebelumnya, ia adalah pria pendiam dan mengerikannya ia menjadi pemurung. Kami tidak banyak berbicara, ia hanya akan membuatkan sarapan untuk ku dan mengisi botol air putih ku kemudian meninggalkan selembar uang untuk makan siang di sekolah. Ia akan pulang di malam hari sekitar pukul sepuluh malam dan ketika ia pulang aku tengah menggambar atau belajar merokok di kamarku, ia tidak akan mengunjungi atau mengintip kamarku. Ia akan masuk kekamarnya, mematikan lampu kamar seketika juga.

Ketika aku berusia 15 tahun, aku menulis pesan di kulkas. Begini isi pesan ku;’’Sebaiknya Ayah menikah saja, jika dibiarkan begini terus, kau akan mati muda dan ibu akan marah dengan mu karena meninggalkan ku’’. Aku tempelkan pesan itu di kulkas sebelum pergi sekolah lebih awal dari biasanya. Malam harinya, ia mengetuk kamar ku. Aku membuka pintu kamarku. Ia tampak menderita, sungguh, ada lingkaran besar yang membusur di bawah matanya, ada garis wajah yang membikin wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dari usia sebenarnya, aroma tubuhnya juga usang dan lembab.

‘’Aku ingin berbicara’’ katanya

‘’Silahkan’’ jawabku

‘’Sudah tiga tahun sejak ibumu pergi dan baru kali ini aku membicarakannya kepadamu, aku sungguh tidak tahan melihat wajahmu, kau membawa mata ibumu kemana pun dan itu melahirkan kepedihan tak tertahankan kepadaku, apakah kau tahu itu?’’ tanyanya

‘’Aku tidak tahu, apa mau mu?’’ tanyaku sambil menghidupkan sebatang rokok

‘’Aku tahu, aku tidak bisa lagi menjadi ayah idealmu seperti ketika ibumu masih ada dan ini semakin menghancurkan aku, karena ini pasti tidak disukai ibumu. Tapi, kau juga harus paham, bahwa aku sudah berusaha. Aku membawamu kesini karena aku ingin belajar menerima semuanya, semua. Meskipun ternyata aku yakin, aku sudah gagal. Aku semakin mencintai dan merindukan ibumu dengan gila dan hebatnya. Setiap hari sehabis pulang bekerja, kau tahu, aku selalu pergi ke klinik konsultasi psikiater. Aku tidak bisa tidur lebih dari tiga jam sejak hampir tiga tahun ini, aku terus terbangun setiap malam, selalu ingin kencing, otot wajahku selalu berkedut-kedut ke arah kanan, kemudian aku akan pergi ke depan cermin dan melihat otot wajah ku bergerak di luar kendali ku, kengerian seketika itu juga menghantam ku bahkan pada suatu malam aku buang air kecil tanpa ku sadari. Aku ingin berteriak , mengambil pisau kemudian mengiris urat tanganku tetapi aku dengar sesuatu bergerak dari kamarmu. Otot wajah ku selalu berulah di malam hari maka tak seorang pun tahu dan ini membuat ku justru semakin pedih. Aku membaca di majalah kesehatan mereka menamai hal tersebut sebagai involuntary movement yang disebabkan oleh banyak hal seperti epilepsi, gangguan cemas, depresi atau Parkinson. Seketika itu juga aku memutuskan mengunjungi psikiater sehabis pulang bekerja, disana aku menceritakan semua yang ku rasakan. Kau tahu, psikiater ini seorang lelaki tua yang tidak terlalu bijak namun untungnya ia suka mendengar. Ia hanya meresepkan pil-pil dan mendengar saja. Sejujurnya, aku rasa aku juga tidak akan sembuh dengan semua pil itu. Meski begitu, aku tetap datang karena setidaknya aku memiliki orang yang mendengar keluh kesahku. Lehon, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menahan semua ini. Aku sungguh tidak tahu. Aku harap kau lebih baik dari aku.’’ ujar Ayahku sambil menyalakan rokok miliknya.

‘’Kau tahu, aku tidak suka kematian, oh sudah barang tentu tidak seorang pun yang menyukainya. Kematian tidak membuat siapa pun lebih baik. Aku pikir, ibu sudah tenang di sana atau setidaknya ia sudah tak tahu apa-apa lagi Ayah, namun lihatlah kita berdua. Kulit kita dipenuhi luka, luka yang terus terbentuk sejak ibu mati.’’ Ujar ku.

Ayah diam. Ia terus menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian ia kembali ke kamarnya.

Sejak ibu pergi, aku hanya menggambar dan membaca. Tugas sekolah aku selesaikan dengan lekas di sekolah, bukan karena aku rajin, sungguh, aku melakukannya agar sesampainya di rumah aku hanya akan menggambar dan membaca. Aku menyukai buku karya Franz Kafka dan Jack Kerouac.

Sehabis malam itu, Ayah tetap hidup dengan dunianya dan aku,sementara duniaku makin rumit. Tanpa ibu dan sekarang ditambah dengan seorang ayah yang menderita depresi berat. Setiap aku pulang sekolah, aku menyimpan ketakutan bahwa mungkin ayah tidak bekerja dan memutus urat nadi nya di dapur. Ketakutan itu semakin banyak setiap hari, aku melihat ayah semakin kerempeng. Teman kantornya bahkan pernah mengizinkannya cuti agar ia memeriksakan kesehatannya. Namun ayah mengelak, ia bilang ia hanya tidak bisa tidur karena itu lemaknya habis. Ketika aku berusia 17 tahun, ayah harus beristirahat di rumah sakit jiwa, ia tidak bisa tidur dan hilang selama dua malam. Aku pergi mencari ke setiap rumah teman kerjanya, semakin menyedihkannya karena ayah tidak akrab dengan siapa pun, setelah dua malam mencari tanpa hasil tiba-tiba seorang polisi membawa ayah pulang dan mengatakan bahwa ia linglung dan tidur dipinggir jalan. Esok harinya, aku membawanya ke dokter jiwa, kami memutuskan ayah akan dirawat disana.

Selama enam bulan dirawat dan enam bulan berobat rawat jalan, pada sebuah senja sepulangnya dari sekolah, aku menemukan ayah dengan mulut berbuih tanpa nafas di kamarnya. Sore itu, jendelanya terbuka dan langit musim panas begitu cerah, bunga dan rumput bergoyang riang, warna langit lagi dan lagi jingga keemasan dan ayah ku berbusa mulutnya tanpa nafas berhembus. Aku berteriak, meneriakkan kata ‘’Ibu’’ dan ayah tetap tidak bangun.

Dengan bantuan uang tabungan milik Ayah  serta uang asuransi kedua orang tua ku, aku membawa jenazah ayah dari Berlin ke Jakarta. Paman ku datang ke Berlin dan membantu semua urusan. Ayah di kebumikan tepat di sebelah ibu.

Saat senja kembali menjadi pilu di hadapan makam kedua orangtua ku, entahlah, namun aku merasa sedikit lebih baik melihat Ayah ada disamping ibu. Aku pikir, ia bukan ayah yang buruk. Ayolah, ia bertahan enam tahun dengan siksaan hidup tanpa kekasihnya sambil meneguk pil depresi ditambah lagi ia tidak bisa tidur lebih dari tiga jam, aku rasa ia memang seorang pejuang. Saat itu aku berjalan kaki dari komplek pemakaman. Sambil menyulut rokok dan terus melihat berbagai makam manusia di sisi kanan dan kiri yang di atasnya ada bunga-bunga.  Lucu juga bunga-bunga itu ada yang segar dan ada juga yang kering kerontang. Menurut bijakku, tak ada gunanya kita menaruh bunga di makam, karena para manusia yang sudah pergi ke keabadian tersebut toh tidak tahu. Aku tidak sekalipun menaruh bunga di makam ibuku, bukan karena aku tak mencintai ataupun menghormatinya hanya saja aku rasa ia juga jijik dengan itu. Saat tengah berpikir, seorang menyapa ku.

‘’Lehon, kau Lehonkan?’’ ujar wanita itu

‘’Iya. Ada yang bisa ku bantu?’’ tanyaku

‘’Aku mendengar bahwa Ayahmu wafat dan aku sungguh sedih untuk itu. Kalian langsung pergi setelah kau tamat sekolah dasar dan tak pernah kembali’’ ujarnya.

‘’Iya’’ jawabku

‘’Aku ibu Amelie, tetangga kalian’’ ujarnya

‘’Iya, aku tahu, aku menyadarinya ketika kau berbicara’’ ujarku

‘’Rumah kalian dirawat dengan baik oleh ibu Suti, ia pekerja yang setia, ia tidak mengambil uang pensiun ibumu lebih dari yang ia butuhkan untuk rumah kalian, suaminya Pak Karjo bekerja menjadi supir di rumah kami sehingga mereka tak begitu kesepian.’’ ujar Ibu Amelie.

‘’Terima kasih Ibu Amelie’’ ujarku

‘’Kau masih ingat jalanan Jakarta?’’ tanyanya

‘’Ah, aku akan naik taksi di simpang sana.’’ Jawabku

‘’Ikutlah denganku’’ ujarnya

‘’Aku mohon.’’ Ujarnya

Sore itu aku kembali melintasi Ibukota setelah enam tahun.  Di perjalanan pulang, aku banyak diam dan melihat ke arah jendela di sebelah kiri ku dan memandangi jalanan Jakarta yang sesak dan macet bagai selokan menjelang banjir.

‘’Aduh, Jakarta makin macet saja dari tahun ke tahun. Tentu kau tidak nyaman yah kembali ke sini’’ ujarnya

‘’Ah, tidak masalah. Besok lusa aku akan kembali ke Berlin jadi tidak masalah’’ ujarku

‘’Apa yang akan kau lakukan di sana?’’ tanyanya

‘’Aku akan mengikuti ujian akhir menuju universitas dan mungkin sambil menunggu aku akan bekerja paruh waktu di sana’’ ujar ku

‘’Bagus sekali, jurusan apa yang akan kau pilih, Nak?’’ tanyanya

‘’Aku ingin mengambil beasiswa di Paris untuk jurusan seni rupa.’’ ujar ku

‘’Wah, kau pasti akan terpilih dan melewatinya dengan baik’’ ujarnya

‘’Semoga’’ ujar ku

‘’Lehon, dua tahun lalu, aku dan Sofia serta suami ku berlibur ke Eropa kami mencoba menghubungi ayahmu untuk makan malam bersama namun ia tidak membalasnya dan keluargamu juga tidak tahu dimana persisnya kalian tinggal, maaf karena kami tidak bisa membantu apa-apa.’’ ujarnya

‘’Tidak masalah, memberi tumpangan ini saja sudah cukup’’ ujar ku

 

Aku kembali ke Berlin, bekerja paruh waktu di sebuah gudang gerai pakaian. Ayahku tampaknya memiliki kinerja yang baik dikantor, tabungannya masih lebih dari cukup meski begitu aku pindah ke rumah sewa yang lebih kecil. Kemudian, aku mengikuti ujian beasiswa di sebuah universitas di Paris. Sambil menunggu pengumumannya, aku memutuskan melakukan perjalanan mengelilingi Asia selama enam bulan. Aku bisa saja keliling Amerika atau Eropa namun tentu aku tidak ingin menghabiskan tabungan Ayahku secepat itu. Aku membiarkan rumah orangtua ku di Jakarta di rawat oleh Ibu Suti dan Pak Karjo. Mereka punya seorang anak lelaki dan sekarang menjadi guru di kepulauan Seribu, aku senang mereka senang.

Ketika aku memperoleh beasiswa, aku pindah ke Paris dan memulai bersekolah di sana. Setahun pertama, aku murni seorang pelajar namun di tahun berikutnya aku mulai bekerja. Sebenarnya tidak buruk, aku menggambar ilustrasi dan gambar ku dibeli oleh para pembuat kaus atau tas bergambar. Pekerjaan yang sesuai minat ku dan tidak melelahkan. Di waktu luang, aku membaca dan membuat puisi. Sekarang aku tengah membaca salah satu buku Chuck Palahniuk yang berjudul ‘Survivor’.

Pasti kalian berpikir, tampaknya aku kuat dan berhasil melewati periode kelam dalam hidupku. Ah, tidak salah namun juga tak sepenuhnya betul. Kematian ibu dan ayahku tentu seperti yang aku bilang sebelumnya bahwa bagaimana pun kematian akan meninggalkan lubang pada setiap yang ditinggal. Dan lubang ditubuh ku ada, di kepalaku. Setiap sore hari aku akan sakit kepala apalagi jika aku melihat langit berwarna keemasan.

Aku pernah memeriksakannya ke dokter dan melakukan CT-Scan namun tidak sedikit pun ada tumor atau infeksi di otak atau tulang sinus milikku. Semua normal. Dan, tentu aku sedikit malas harus ke psikiater. Setiap senja jika aku keluar dan melihat keramaian maka sakit kepala akan menyerangku hebat, mataku berbayang dan aku muntah. Sekian tahun sejak ayah mati aku memiliki serangan itu. Sebenarnya sebelum ayah mati setiap sore aku akan sakit kepala namun ini akan segera hilang jika aku berdiam diri di kamar dan menggambar. Sejak itu, aku tahu bahwa obat untuk kepalaku ialah menghindari senja dan bersembunyi. Tentu setelah ayah mati dan kehidupan universitas tahun pertama membuat ku mau tak mau harus keluar di sore hari dan serangan sakit kepala itu kembali rutin muncul.

Namun, aku harus menguasai hidupku. Aku biasanya menghindari keluar ruangan di sore hari dan jika memungkinkan aku menghindari keramaian di sore hari.

Sekarang sudah delapan tahun sejak Ayah pergi dan empat belas tahun dari wafatnya ibu, aku tengah duduk di sebuah kedai kopi di kota Jakarta. Aku memutuskan pulang untuk berlibur dan mengunjungi kakak lelaki ayahku yakni Paman ku. Ia tinggal dengan istrinya, mereka orang yang hangat dan selalu suka repot demi orang lain. Sepupuku, Arista baru saja memiliki putri keduanya. Ia meminta aku memotret mereka sekeluarga. Setelah dua hari di Jakarta, aku memutuskan menghubungi Ibu Amelie.

Ibu Amelie begitu senang dan terharu ketika aku bilang akan berkunjung. Esok harinya aku berkunjung dan rumah baru mereka sebenarnya tidak jauh dari rumah lama mereka.

Saat itu menjelang malam, mereka tengah mempersiapkan makan malam. Aku sungguh tidak enak hati, jujur, aku tidak suka dijamu begitu. Ibu Amelie memasak makanan kesukaan ku, tentu, tentu ia tahu, ia adalah teman karib memasak ibuku. Ia memasak tumis kacang panjang dicampur wortel kecil yang dimasak tidak terlalu matang dan sedikit diberi udang kecil. Sebagai lauk nya, ia membakar ikan gurami dan membuat sambal cabai rawit bercampur jeruk nipis. Di meja makan ada aku, Ibu Amelie dan suaminya yakni Pak Sirya serta anak perempuan mereka yang adalah teman sekolah dasar ku yakni Sofia.

Suasana tampak hening, nampaknya mereka tak tahu harus membicarakan apa. Dan Sofia, tampak sangat tenang, aku hampir lupa jika ia adalah anak berisik dikelas. Ibu Amelie hanya sesekali menuangkan air putih ke gelas ku. Aku mengunyah makanan tersebut dan tanpa ku sadari, air mataku jatuh tanpa bisa ku hentikan. Mataku tiba-tiba merah dan terus berair. Suasana makin hening. Aku mengambil tisu dan membasuh air mataku. Aku sungguh merindukan ibuku, masakan ibuku, dapurnya, suasana meja makan, bunyi sendok yang ramai, tangan yang menuangkan air putih kegelas ku. Aku merindukan ayahku, ayah yang akan menyalakan televisi dan menceritakan setiap hewan di televisi tersebut kepadaku. Dan tanpa ku sadari aku terus menangis, untuk mengakhiri air mata ini aku pun meminta izin ke kamar kecil.

Aku mencuci muka  di kamar kecil, seseorang mengetuk pintu kamar kecil.

‘’Lehon, ini handuk kecil untukmu’’ ujar Sofia

Aku membuka pintu dan mengambil handuk tersebut

‘’Terima kasih’’ ujar ku

Ia memeluk ku tiba-tiba dan menangis. Ia memeluk ku erat dan terus sesenggukan menangis. Ia melepaskan peluk nya tersebut dan duduk berjongkok sambil melipat tangannya di atas lutut miliknya dan terus menangis.

‘’Kau kenapa?’’ tanyaku sambil ikut duduk

‘’Kau ini, sungguh manusia kejam. Aku membaca semua tentang mu, kau seniman yang sukses dan aku bahkan meminta pertemanan dengan mu di sosial media dan kau bahkan tidak menganggap ku. Aku sering bermain kerumah mu dan meminta kepada Ibu Suti agar aku diizinkan tidur di kamarmu’’ ujarnya

‘’Dan kau menangis karena itu?’’ ujarku

‘’Kau ini memang aneh, apakah aku harus mengatakan semuanya di depan kamar mandi?’’ tanyanya

‘’Kau mau apa?’’ tanyaku

‘’Apakah kau mau mengunjungi rumah lama mu? Aku akan membawa mu ke sana dengan skutermatik ku. Bukankah tidak jauh’’ ujarnya

‘’Baiklah’’ ujarku

Sofia mengendarai sepeda motor yang menurutnya ia peroleh dari menang undian berhadiah di supermarket. Dalam batinku, menang undian adalah hal konyol. Sofia ini wanita beruntung. Ia memiliki semua dan menang undian motor pula. Sofia, ia tidak berubah banyak. Ia tetap cantik dengan kulitnya yang bersih dan matanya yang bersinar bening, ia membiarkan rambut  sepundak miliknya terurai.

Kami memasuki halaman rumah dan disambut dengan Pak Karjo.  Tanpa basa basi, Ia memeluk ku erat disertai Ibu Suti yang berjalan ke luar dari rumah seraya menangis.

Kami duduk di ruang keluarga, aku merasa asing, jujur saja. Aku merasa agak sedikit sakit kepala. Aku meminta pamit ke kamar kecil.Aku menatap kaca selama sepuluh menit, hingga pintu kamar mandi diketuk oleh Sofia.

‘’Apakah kau baik-baik saja?’’ tanyanya

‘’Ah, iya. Aku hanya sedikit sakit kepala’’ ujarku

‘’Apakah kau ingin istirahat?’’ tanyanya

‘’Aku ingin pulang ke rumah paman, itu akan lebih baik.’’ ujarku

‘’Apakah kau marah?’’ tanyanya dari balik pintu

‘’Tidak, aku hanya sedikit sakit kepala.’’ ujarku

‘’Apakah kau akan membuka pintu kamar mandi?’’ tanyanya

‘’Iya, jika kau tidak terus berdiri disitu dan mau bergeser agar aku bisa keluar.’’ ujarku

‘’Ah iya, baiklah’’ jawabnya

‘’Terima kasih’’ jawabku sambil membuka pintu.

‘’Terima kasih Sofia, aku ingin sekali bercerita lebih banyak dengan mu hanya saja aku diserang sakit kepala sekarang.” ujar ku

‘’Terima kasih’’ ujarnya menunduk

‘’Aku meminta maaf karena sedikit pun aku tidak membantu mu belajar saat ujian akhir sekolah dasar, aku mengetuk pintu kamarmu  saat itu dan kau tidak membukanya, aku pikir kau tidak menyukai kami lagi.’’ Ujarnya

‘’Ah, sudahlah ujian itu tidak penting bagiku’’ ujarku

‘’Lehon, apakah kau akan pergi lagi?’’ tanyanya

‘’Iya, saat ini aku akan pergi ke rumah paman ku dan tidur’’ jawabku

‘’Aduh bukan, maksudku kembali ke Paris’’ jawabnya

‘’Ah, aku ingin berbincang-bincang denganmu besok di kedai kopi milikmu, kalau kau mau, aku ingin engkau melihat gambar  milikku yang akan ikut pameran di sini, kalau kau tidak keberatan tentunya’’ jawabku

‘’Baiklah, jam berapa?’’ tanyanya sambil tersenyum lebar

‘’Jam berapa kau tidak sibuk?’’ tanyaku

‘’ Makan siang, bagaimana?’’ tanyanya

‘’Baiklah’’ ujarku

‘’Ah, kau suka betul yah menemui ku di kamar kecil?’’ tanyaku

‘’Hahahaha, ini kebetulan saja’’ ujarnya tertawa

 

Sesampainya di rumah paman, aku mencuci muka dan mengganti kemeja dengan kaus kemudian menggambar dan setelah dua jam menggambar aku pergi tidur. Sebelum tidur, aku merenungi masa kecil ku dengan ayah dan ibu, ayah tidak mau membicarakan kesedihan dan rasa putus asa serta rindunya  terhadap ibu kepada siapa pun dan itu membikin ia begitu menderita. Aku rasa, aku juga belum pernah menceritakan ini kepada siapa pun, kepada setiap teman kencan ku, teman- teman sesama pelukis ku di Paris atau pun teman-teman ku lainnya, aku merasa iba dengan diriku.

Aku tiba-tiba merasa ingin menelefon Sofia namun kubatalkan. Aku pikir, aku bisa menceritakannya dengannya besok.

Dan sekarang, aku disini, di sebuah kedai kopi cantik milik Sofia. Menurut bibi ku, Sofia seorang pembuat kue yang handal dan meninggalkan pekerjaannya demi kedai kopi dan bakery mungil miliknya.

Aku duduk sambil membaca buku, seraya menunggu Sofia yang sedang membuatkan dua gelas kopi untuk kami. Dengan bersemangat, Ia bilang, ia membuatkan red velvet spesial untuk ku. Sesungguhnya, aku tidak peduli red velvet apapun namun aku peduli ketika ia bilang ia akan membuatkan kue untukku.

Setelah banyak tahun yang lewat, aku ingin memiliki sesuatu yakni keberanian, keberanian melepaskan diriku, kematian orang terkasih akan membuat ngeri. Kengerian yang menghantam bahkan membuatmu tak berani keluar dari raga mu, dan aku rasa aku harus mengakui bahwa melebur dengan luka ialah keberanian terhebat daripada meneguk pil depresi.

 

 

 

 

Kopitoko Sanur, February 17 2017

 

Picture by Adam Hale taken from Pinterest

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s