Lelaki Empat Puluh Lima Tahun di Kedai Kopi

iii

 

Malam itu langit  mendung, jalanan basah akibat gerimis yang awet, hujan nampaknya enggan turun deras, angin bertiup pelan-pelan menyapu sisa hari. Kota di malam minggu itu berjalan tak ubahnya malam lain, gegap gempita kota besar bertiup dari dalam melahap pelan rasa sukacita penduduk kota yang sendiri. Lelaki ini merayakan ulang tahunnya sambil memainkan ujung gelas kopi hitamnya, ia memutar telunjuknya mengelilingi gelas kecil berwarna hijau tua tersebut.

 

Kedai kopi kecil itu tak jauh dari kediamannya, ia hanya perlu berjalan kaki sekitar lima belas menit untuk mencapai rumahnya. Sehari-hari ia akan membawa sebuah buku dan duduk di kedai tersebut sampai para pekerja memadamkan lampu terakhir di kedai kopi tersebut. Seringnya ia membawa buku, terkadang ia juga membawa sebuah buku harian dan menghabiskan malam dengan menulis kemudian merobek tulisan  dan membuangnya ke kotak sampah bulat berwarna hitam yang berada tepat di sisi kanannya.

Para pekerja kedai kopi itu tampaknya sudah terbiasa akan kehadiran lelaki tersebut, mereka juga sudah paham apa yang akan dipesan lelaki itu, yakni segelas kopi hitam tanpa gula dan dua buah kue cokelat. Satu jam kemudian Ia akan kembali meminta satu gelas kopi hitam lagi kali ini tanpa kue cokelat.

Mungkin sudah dua tahun lelaki itu secara rutin akan mengunjungi kedai kopi kecil, awalnya hanya di akhir pekan hingga kemudian menjadi tiga kali dalam seminggu. Ia akan duduk di balik kaca dan melihat jalanan sambil menatap tanpa kedip kaca tersebut. Jika para pelayan tak mengajaknya berbicara, ia akan diam dan membaca sepanjang malam sampai para pekerja mematikan lampu dan meminta ia segera membayar tagihan kopinya dan selalu begitu hingga sudah dua tahun ini.

Malam ini, gerimis masih jatuh dengan lembut seolah selamanya muka bumi akan dihantui gerimis begini. Jalanan tersebut memiliki sisi untuk pejalan kaki dan di seberang kedai tersebut terdapat kumpulan kedai dan restaurant tempat para penduduk kota menghabiskan rupiah mereka. Malam yang agaknya dingin membuat para kekasih yang sedang jatuh cinta merapatkan diri sambil berjalan cepat melawan gerimis, melemparkan bulir-bulir gerimis ke jalanan dan kaca-kaca  kumpulan kedai-kedai di sisi jalanan tersebut.

Kedai kopi tersebut melantunkan lagu-lagu lama, kali ini Louis Armstrong memenuhi tiap sudut kedai kopi kecil itu. Lelaki  tersebut menatap nanar cermin di mukanya, embun nampak pelan-pelan hadir memudarkan pandangannya. Sesekali lelaki tersebut membersihkan embun  dengan tisu. Ia kembali menulis sesuatu di buku hariannya, tangannya tampak tekun bergerak.

Para pelayan di kedai kopi kecil itu tidak pernah terlalu sibuk, ukuran kedai yang tak terlalu besar membikin pelanggan mereka takkan menumpuk, suasana kedai kopi itu yang agak muram memang tak seperti kebanyakan kedai kopi kota besar pada umumnya, kedai itu didominasi warna cokelat dan hitam serta lampu temaram, lukisan hitam putih menggantung di dinding bata berwarna cokelat gelap, tidak ada lukisan bertulis petuah bijak atau perumpamaan kopi yang menempel, hanya beberapa lukisan hitam putih misalnya gambar wajah Aretha Franklin yang tertawa kecil atau wajah John F Kennedy yang tersenyum menunjukkan gigi putih rapat miliknya. Kursi di kedai tersebut terbuat dari besi tua yang sarat usia dan diberi sebuah sofa bulat berwarna abu. Meski begitu akan selalu ada para pemuda dan penduduk kota yang memesan kopi walau kebanyakan dari mereka akan membawa pulang, mungkin mereka tidak suka dengan suasana sendu tempat itu.

 

Hujan gerimis menjadi semakin mendekati kekekalan, berjam sudah terus mengalir dari langit. Kendaraan roda empat terus berjalan pelan di tengah tumpukan roda empat lain di jalan raya tersebut. Lelaki yang sendirian itu sesekali melihat ke jalanan dan menggelengkan kepalanya sementara senandung ‘’ Lets Stay Together dari Al Green’’ bersenandung dari sekeliling kedai kopi.

Seorang pelayan bertanya kepada seniornya. ‘’ Berapa usia lelaki itu?’’ tanya seorang pelayan wanita muda tentang lelaki itu ke seniornya. ‘’ Aku tidak tahu pasti, mungkin empat puluhan. Ia pelanggan setia kita, kediamannya tak jauh dari rumah pemilik kedai ini’’ kata seniornya. ‘’ Ah, itu artinya Ia pria mapan, mengapa ia selalu sendiri?’’ tanya wanita muda ini sambil membersihkan gelas-gelas dengan kain bersih. ‘’ Ia tinggal sendiri memang, Ia seorang yang memiliki posisi baik di sebuah Bank milik asing di kota ini, aku tahu itu dari bos kita’’ ujar seniornya ini. ‘’ Wah, akan ada banyak perempuan yang senang jika ia mengajak  berkencan, lihatlah!, Ia itu tampan dan wangi tubuhnya lembut, dan  selalu sopan’’ ujar wanita muda itu. ‘’ Jangan bodoh, konon kabarnya ia adalah pria murung yang ditakuti oleh banyak orang di tempatnya bekerja, senyum tak pernah keluar dari wajahnya, jadi jangan heran jika ia sendirian’’ ujar pelayan senior tersebut. ‘’ Apa yang salah jadi orang berwajah murung dan dingin?’’ tanya wanita muda itu. ‘’ Tidak salah namun menjadi tanda tanya besar jika kau seorang pria kaya yang tinggal di rumah nyaman dengan wajah yang tampan namun kau selalu memasang wajah murung, kau perlu pertanyakan kenapa dengan mimik itu?’’ jawab pelayan senior tersebut. ‘’ Mungkin ia yatim piatu, atau duda ditinggal selingkuh atau istri dan anaknya mati digilas kereta api’’ jawab wanita muda itu serius. ‘’ Sudah, kau kembali bekerja. Kau terlalu banyak menonton drama korea’’ jawab Pelayan senior mengakhiri pembicaraan.

 

Lelaki tersebut meneguk kopi hitam miliknya yang mulai dingin, tatapannya lurus ke arah jalanan yang dihantam kendaraan dan rintik gerimis. Ia menutup buku hariannya, ia membukanya kembali, mengamati seksama buku harian dengan kedua bola mata yang bergerak ke kiri dan kanan, ia merobek selembar halaman kemudian meremasnya dan membuangnya tepat masuk ke keranjang sampah.

Ia meneguk kopi tanpa jeda, menaruh gelas tersebut diatas alasnya, membersihkan bekas bibirnya dengan telunjuknya, kemudian membersihkan telunjuknya dengan tisu yang kembali ia remas dan berakhir di keranjang sampah. Kemudian ia menaruh tiga lembar rupiah merah di sebelah gelas kopi hitam tersebut dan meninggalkan kedai  saat Frank Sinatra dengan ‘’Witchcraft’’ menyelimuti kedai syahdu.

Perempuan muda itu berlari keluar melihat lelaki tersebut berjalan agak tergesa dengan menggunakan jaket jins yang melindungi kemeja abu miliknya dari gerimis, lelaki itu memasukkan kedua tangannya di kantong celana yang ia kenakan, ia tak menoleh barang sekalipun, langkahnya pasti menerobos gerimis. Perempuan itu menutup pintu kaca kedai  kopi dengan wajah lesu. Ia memasuki kedai sambil membawa kain bersih untuk membersihkan meja bekas lelaki tersebut. Ia membersihkannya dengan lamunan punggung lelaki itu, punggung besar yang ia sering lihat. Ia bergerak ke arah keranjang sampah, membuka satu persatu kertas yang ada di dalamnya, wanita muda itu ingin menemukan selembar kertas yang  sebelumnya diremas oleh lelaki itu. Tak perlu waktu lama baginya untuk menemukan apa yang ia cari. Kertas berwarna putih gading tersebut tampak kusut meski masih bisa dibaca dengan jelas.

Ada sebuah puisi di dalamnya

Gerimis, gerimis, air mengalir ragu dan pelan dari langit

Menghantam kegelapan dan dinginnya kota yang ramai oleh manusia tak bernyawa

Para kekasih melaju tergesa, menelan malam tanpa tujuan, mungkin teater atau mungkin gedung-gedung kota yang bisu dan menyeramkan.

Duduk seorang kekasih terpaku di seberang cermin, menelan liur seorang diri, sudah lama undur diri dari gelanggang .

Roda empat bernyanyi ribut penuh ketergesaan, para pelayan hilir mudik mengenyangkan mulut-mulut kelaparan, rasa lapar yang menjijikkan, rasa lapar milik manusia yang tertawa pura-pura.

Jika saja penunggu cermin ini kembali ke jalanan, memakai baju hangat melawan gerimis, melangkahkan kaki nya ke jalan pulang atau pun ke jalan yang ia tak pernah berani lewati

Seorang polisi berbadan tambun menggerakkan tangannya dibawah lampu jalan, para pengemis lari sembunyi-sembunyi, rambut mereka basah oleh gerimis, kota pilu milik manusia.

Penunggu cermin ragu, menikmati kopi dalam kecamuk di kepala

Ia bagai orang asing di keramaian yang diciptakan oleh waktu

Ia tersesat di dalam asa dan kepiluan milik tahun yang terus lahir…..

 

Perempuan tersebut melipat kertas tersebut, menatap kertas  dalam rasa campur aduk. Ia membawa gelas milik lelaki itu dan uang yang ditinggalkan. Ia menaruh surat itu di kantung  seragamnya.

Perempuan muda dengan rasa ingin tahu yang penuh mengirim doa dalam bisu agar dipertemukan dengan lelaki itu. Sehabis ia mencuci gelas-gelas, ia kembali melihat kertas tersebut. Ia mencoba membaca sebuah kalimat yang dicoret, ia membacanya perlahan dan seksama, ‘’ Selamat Empat Puluh Lima’’ kemudian perempuan itu terkejut, ah lelaki tersebut baru saja merayakan ulang tahunnya dalam diam dan seorang diri.

 

Bali, February 22 2017

Picture by : Simon Prades taken from Pinterest

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s