A Blossom’s story

Hans3

Musim semi, suatu musim tatkala daun pelan-pelan kembali lahir dan menghijau, Musim dimana kuncup bunga-bunga bermekaran, rerumputan bergoyang perlahan bersamaan dengan sinar matahari yang muncul kembali dari balik cakrawala.

Musim semi juga musim dimana anak-anak sekolah menyingsing ransel sambil membicarakan rencana memancing dan bersepeda di sore hari.Musim saat ikan-ikan melompat gembira karena manusia melemparkan makanan ke pinggir danau.Musim yang kembali melahirkan harap serentak dengan berlalunya musim hujan yang selalu menenggelamkan manusia di balik selimut dengan cokelat hangat di meja sebelah ranjang.

Musim semi ialah musim perayaan akan permulaan. Untuk Sahira musim semi bukan hanya tentang permulaan, musim semi juga bermakna kerelaan.Tiga tahun sebelumnya pada sebuah musim semi di dekat danau.

Hari itu, Sahira dan Firoz memutuskan menjauh dari hiruk pikuk kota besar. Pergi menuju sebuah desa di pinggir danau. Di sanaterhampar padang rumput hijaupenuh bunga liar yangtengah mekar dengan sempurna. Di tengah perjalanan tersebut keduanya sesekali menertawakan orang-orangkotayang kerap melewatkan musim mekarnya bunga-bunga di sekitar mereka.

Dengan skuter matik, mereka menyusuri setapak. Di ujung jalan yang sempit, Firoz menaruh roda dua yang ia sewa dari penduduk lokal. Sahira gembira setengah mampus dan Firoz tertawa kecil melihat keriangan Sahira yang tak dibuat-buat.

Firoz berjalan dua langkah di belakang Sahira, membawa sebuah tas berisi dua buah botol minum, satu kotak semangka dan dua buah buku yang tengah mereka baca.

Hans1

“Aku bahagia,” ucap Sahira.

“Aku juga,” balas Firoz, tersenyum.

“Kenapa kau bahagia?”tanya Sahira sambil terus berjalan.

“Berada di padang rumput, di bawah bukit, di tengah bunga-bunga liar bermekaran dan gadisku yang tersenyum tanpa henti dibekali sekotak semangka dingin yang mulai hangat.Ini sempurna sayang.”

“Kau suka bunga?”sahira melemparkan tanya tanpa menghentikan langkahnya.

“Tentu, aku tidak punya alasan untuk membenci mereka.”

“Suatu ketika, aku bertemu seorang pria Yunani.Lelaki itu percaya bahwa setiap perempuan memiliki bunga mereka sendiri. Aku hanya menjawab iya, karena  pria tersebut terus mendongeng. Aku tanya juga padanya, bagaimana aku tahu bunga yang hidup di dalam diriku? Kau tahu apa jawabannya?,” Sahira terus bercerita.

“Apa?”

“Ia berasumsi bahwa semua bunga itu cantik apalagi saat mereka tengah bermekaran.Dan ketika kau bertemu satu bunga kemudian hatimu riang gembira, niscaya bunga itu ialah bunga keberuntunganmu,” kata perempuan itu sambil berhenti sekejap sambil menoleh ke Firoz yang sudah berada di sampingnya.

“Hahahaha, kau kan riang dengan semua bunga. Kemarin kau bilang kau akan menanam bunga matahari, minggu lalu kau membeli biji lavender. Kemudian mawar-mawar milikmu pun kau ajak bicara. Jadi yang mana milikmu?” tawa Firoz pecah yang membuat mukanya terlihat sedikit merah muda.

“Ah kau jangan tertawa dulu.Aku belum usai.Jadi dia bilang, bahwa perempuan yang lahir di bulan Maret memiliki kedekatan dengan bunga Daffodil.Menurutnya, perempuan di bulan Maret ialah mereka yang berani dan indah seperti puisi. Dari kedua telapak tangan perempuan Maret  akan ada kesembuhan-kesembuhan. Saat itu aku berpikir mungkin dia ada benarnya.Maksudku, dia waktu itu tidak tahu jika aku mahasiswa kedokteran, bisa jadi dia tidak mendongeng.”

Firoz mulai mengambil posisi di bagian tanah yang agak datar.Dilebarkannya kain piknik warna coklat muda sambil tetap menjawab Sahira yang masih antusias bercerita.

“Jika Daffodil adalah bungamu, kenapa kau tidak mencoba menanamnya?”

“Bunga Daffodil agak sukar ditanam. Aku belum pernah melihat bibitnya dijual di kota kita. Kata pedagang bunga mereka mendapatkan Daffodil dari pegunungan di Pulau Jawa,” kata Sahira.

“Baiklah, apa aku boleh memelukmu?”Pertanyaan Firoz sambil menarik lembut tangan kekasihnya itu sekaligus menghentikan pembahasan tentang bebungaan.

Sahiramerebahkan tubuhnya dalam dekap hangat kekasihnya.Kekasih paling lembut dan bersahaja yang memeluk dan terus membelai lembut rambutnya.Desah nafas mereka terdengar tanpa jarak.Suara semilir angin menjadi nada pengiring yang dengan murah hatidipersembahkan oleh alam.Bunga-bunga liar seakan menjadi penari latar yang bergoyang mengikuti angin.

Sahira duduk kemudian membalikkan badannya untuk menatap kekasihnya tersebut

“Terimakasih,” ucapnya setengah berbisik.

“Aku yang berterimakasih.Aku ingin berteriak ke seluruh penduduk danau ini bahwa gadis di depanku ini begitu indah,” balas Firoz.

“Kau boleh berteriak.Bunga-bunga yang mekar akan menangkap kata-katamu, dan aku akan mekar di antara kelopak bunga-bunga liar ini.”

Firoz berdiri, tersenyum dan berteriak ke bentang danau yang sedang sepi sore itu.

“Oh musim yang bermekaran, terimakasih alam dan semesta.Bunga mekar dan gadis periang membikin aku lahir kembali….’’ tanpa malu-malu Firoz berteriak hingga parau.

“Hahahaha,” Sahira merasa geli.Dia ikut tertawa, lalu berdiri dan memeluk Firoz lekat.

Dalam pelukannya yang masih erat, Firoz berbisik ke telinga Sahira, “Ini bulan kelahiran mu, Sayang, kita harus merayakannya.”

“Bagaimana kita merayakannya?”

“Ah, aku akan memasang sebuah lagu dan mari bergoyang.”

“Hmm, karena ini adalah hari jadiku, aku yang akan memilih bagaimana cara kita menikmatinya. Kau harus setuju,” balas Sahira.

“Baiklah.Bagaimana kau ingin melewati sore ini sayang?”

“Mungkin akan menyenangkan jika mendengar kau menyanyikan lagu kegemaranku,” pinta Sahira.

“Oh Tuhan.Sudah kuduga. Kau akan merengek untuk melihat aku tampak bodoh dengan menyanyi. Sumpah demi apapun, aku tidak memiliki suara yang pantas dikumandangkan dan lagian aku tidak tahu nada, aku akan malu.”

“Yah, begitulah caraku menikmati kejutan kecilmu ini,” Sahira tersenyum yang membuat Firoz tak punya daya menolak permintaannya.

“Baiklah, akan kucoba tapi aku sedikit menawar ya.”

“Hmm, apa?.”

“Aku akan memutar lagu kesukaanmu dan mengikuti mereka bernyanyi.Boleh ya?”

“Hahaha, boleh,” jawab Sahira.

Lelaki itupun memutar lagu “Affection” milik Ciggarettes After Sex sambil melantunkan liriknya dengan lembut. Tepat di bagian refrain, Sahira menghentikan pemutar musik dan lelaki itu terus bernyanyi meski suaranya sedikit lebih pelan.Dan wajahnya, kembali memerah dengan senyum yang menggantung malu-malu.

 

Siang itu, saat matahari bergerak perlahan menuju Barat mereka larut menikmati lantunan lagu tersebut dengan latar bunga-bunga yang mekar dan angin lembut yang menghisap keringat mereka berdua.Sesekali Firoz menyapu peluh yang mengalir bersembunyi di antara rambut Sahira.

Kemudian, Firoz mengeluarkan sebuah buku yang di bungkus kertas cokelat.

“Selamat ulang tahun, gadis bunga Daffodil yang mekar di bulan Maret,” katanya masih dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya.

“Ahhhhhhh, ulang tahunku masih satu minggu lagi.Ini terlalu cepat,” jawab Sahira.Wajahnya sumringah.

“Hahaha. Aku akan memasak di hari ulang tahunmu dan nona di depanku ini akan menjadi bos besar di hari itu. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan buku ini untukmu.Berada di sini diantara alam yang begitu hangat bersamamu selalu menjadi kesukaanku. Di halaman terakhir buku ini ada sesuatu yang selalu ingin aku ungkapkan, tapi kau tahu kan, aku ini tidak pandai berbicara banyak sepertimu. Aku juga tidak cukup bisa merangkai kata ala penulis, jadi jangan tertawakan ya,” kata lelaki itu dengan sedikit malu-malu.

“Hahahaha.Kalau jelek, kau akan aku hukum,” jawab Sahira sambil tertawa.

“Hmm, ada satu lagi berarti yang lupa disebutkan oleh pria Yunani itu.Bahwa gadis yang lahir di bulan Maret suka mengancam,” kata Firoz sambil memeluk kekasihnya.

“Hahahaha,” Sahira tertawa sambil jemarinya bergerak lincah membuka bungkus kertas cokelat itu.

Hans2

Sebuah musim semi yang manis dan penuh dengan tawa. Kegirangan yang ringan memadu dengan keindahan alam.Musim semi bagai rasa jatuh cinta yang baru, yang lahir dengan semarak dan penuh loncatan-loncatan rasa sukacita.

Hari berganti malam.Malam yang lahir dari keabadian yang bersembunyi di balik rembulan.Bulan yang menggerakkan ikan dan lautan. Hari berganti nama jadi minggu dan minggu berganti seragam menjadi bulan. Lalu, waktu melahirkan kegirangan yang tiada bisa dilukiskan.Tetapi, begitupun waktu jugalah yang menelan manusia dan kebahagian yang mereka usahakan.

Musim semi tersebut mereka lewati bukan hanya dengan pelukan, berbagai lagu kesukaan danbuku-buku melainkan juga dengan realita bahwa pada tiap manusia ada cinta dan impian.Demi impian itu pula, para kekasih sering kali harus berjalan pada dua arah yang tak bisa beriringan.

Ketika manusia jatuh cinta mereka kerap berlagak bagai anak-anak.Namun manusia yang sadar dan bertumbuh adalah dua orang dewasa yang dianugerahi impian dan kesempatan. Dan atas nama impian dan kesempatan itu pula, musim semi – musim semi berikutnya harus mereka lewati di dua benua yang saling berjauhan.

Bunga yang bermekaran bersama sebuah buku akan selalu menjadi sepenggal kisah dengan seorang kekasih terdahulu bagi Sahira. Kekasih yang akan selalu mengirim sebuah foto bunga Daffodil  atau bunga apapun yang tengah mekar di kotanya. Kekasih yang dipaksa mundur karena jarak Swedia – Indonesia menjadi kian tak masuk akal. Sedangkan Sahira, perempuan yang diimpikan lelaki itu juga tak tahu bagaimana caranya untuk menyeimbangkan antara impian dan kehidupannya di rumah sakit dengan memiliki kekasih yang terpaut jarak ratusan mil dan selisih waktu enam jam.

Meski begitu, tak sekalipun ada sungut-sungut dari kedua manusia ini.Lelaki itu masih kerap mengirim gambar musim bunga di negerinya.Sahira yang memutuskan berpindah ke salah satu pulau nan indah di Indonesia juga sesekali mengirim gambar senja di pantai-pantai sekelilingnya.

 

Denpasar, 25 Maret 2017

Story by : Rini Siallagan

Edited by : Ropesta Sitorus

Photographed by : Hans Lesmana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s