A Blossom’s story

Hans3

Musim semi, suatu musim tatkala daun pelan-pelan kembali lahir dan menghijau, Musim dimana kuncup bunga-bunga bermekaran, rerumputan bergoyang perlahan bersamaan dengan sinar matahari yang muncul kembali dari balik cakrawala.

Musim semi juga musim dimana anak-anak sekolah menyingsing ransel sambil membicarakan rencana memancing dan bersepeda di sore hari.Musim saat ikan-ikan melompat gembira karena manusia melemparkan makanan ke pinggir danau.Musim yang kembali melahirkan harap serentak dengan berlalunya musim hujan yang selalu menenggelamkan manusia di balik selimut dengan cokelat hangat di meja sebelah ranjang.

Musim semi ialah musim perayaan akan permulaan. Untuk Sahira musim semi bukan hanya tentang permulaan, musim semi juga bermakna kerelaan.Tiga tahun sebelumnya pada sebuah musim semi di dekat danau.

Hari itu, Sahira dan Firoz memutuskan menjauh dari hiruk pikuk kota besar. Pergi menuju sebuah desa di pinggir danau. Di sanaterhampar padang rumput hijaupenuh bunga liar yangtengah mekar dengan sempurna. Di tengah perjalanan tersebut keduanya sesekali menertawakan orang-orangkotayang kerap melewatkan musim mekarnya bunga-bunga di sekitar mereka.

Dengan skuter matik, mereka menyusuri setapak. Di ujung jalan yang sempit, Firoz menaruh roda dua yang ia sewa dari penduduk lokal. Sahira gembira setengah mampus dan Firoz tertawa kecil melihat keriangan Sahira yang tak dibuat-buat.

Firoz berjalan dua langkah di belakang Sahira, membawa sebuah tas berisi dua buah botol minum, satu kotak semangka dan dua buah buku yang tengah mereka baca.

Hans1

“Aku bahagia,” ucap Sahira.

“Aku juga,” balas Firoz, tersenyum.

“Kenapa kau bahagia?”tanya Sahira sambil terus berjalan.

“Berada di padang rumput, di bawah bukit, di tengah bunga-bunga liar bermekaran dan gadisku yang tersenyum tanpa henti dibekali sekotak semangka dingin yang mulai hangat.Ini sempurna sayang.”

“Kau suka bunga?”sahira melemparkan tanya tanpa menghentikan langkahnya.

“Tentu, aku tidak punya alasan untuk membenci mereka.”

“Suatu ketika, aku bertemu seorang pria Yunani.Lelaki itu percaya bahwa setiap perempuan memiliki bunga mereka sendiri. Aku hanya menjawab iya, karena  pria tersebut terus mendongeng. Aku tanya juga padanya, bagaimana aku tahu bunga yang hidup di dalam diriku? Kau tahu apa jawabannya?,” Sahira terus bercerita.

“Apa?”

“Ia berasumsi bahwa semua bunga itu cantik apalagi saat mereka tengah bermekaran.Dan ketika kau bertemu satu bunga kemudian hatimu riang gembira, niscaya bunga itu ialah bunga keberuntunganmu,” kata perempuan itu sambil berhenti sekejap sambil menoleh ke Firoz yang sudah berada di sampingnya.

“Hahahaha, kau kan riang dengan semua bunga. Kemarin kau bilang kau akan menanam bunga matahari, minggu lalu kau membeli biji lavender. Kemudian mawar-mawar milikmu pun kau ajak bicara. Jadi yang mana milikmu?” tawa Firoz pecah yang membuat mukanya terlihat sedikit merah muda.

“Ah kau jangan tertawa dulu.Aku belum usai.Jadi dia bilang, bahwa perempuan yang lahir di bulan Maret memiliki kedekatan dengan bunga Daffodil.Menurutnya, perempuan di bulan Maret ialah mereka yang berani dan indah seperti puisi. Dari kedua telapak tangan perempuan Maret  akan ada kesembuhan-kesembuhan. Saat itu aku berpikir mungkin dia ada benarnya.Maksudku, dia waktu itu tidak tahu jika aku mahasiswa kedokteran, bisa jadi dia tidak mendongeng.”

Firoz mulai mengambil posisi di bagian tanah yang agak datar.Dilebarkannya kain piknik warna coklat muda sambil tetap menjawab Sahira yang masih antusias bercerita.

“Jika Daffodil adalah bungamu, kenapa kau tidak mencoba menanamnya?”

“Bunga Daffodil agak sukar ditanam. Aku belum pernah melihat bibitnya dijual di kota kita. Kata pedagang bunga mereka mendapatkan Daffodil dari pegunungan di Pulau Jawa,” kata Sahira.

“Baiklah, apa aku boleh memelukmu?”Pertanyaan Firoz sambil menarik lembut tangan kekasihnya itu sekaligus menghentikan pembahasan tentang bebungaan.

Sahiramerebahkan tubuhnya dalam dekap hangat kekasihnya.Kekasih paling lembut dan bersahaja yang memeluk dan terus membelai lembut rambutnya.Desah nafas mereka terdengar tanpa jarak.Suara semilir angin menjadi nada pengiring yang dengan murah hatidipersembahkan oleh alam.Bunga-bunga liar seakan menjadi penari latar yang bergoyang mengikuti angin.

Sahira duduk kemudian membalikkan badannya untuk menatap kekasihnya tersebut

“Terimakasih,” ucapnya setengah berbisik.

“Aku yang berterimakasih.Aku ingin berteriak ke seluruh penduduk danau ini bahwa gadis di depanku ini begitu indah,” balas Firoz.

“Kau boleh berteriak.Bunga-bunga yang mekar akan menangkap kata-katamu, dan aku akan mekar di antara kelopak bunga-bunga liar ini.”

Firoz berdiri, tersenyum dan berteriak ke bentang danau yang sedang sepi sore itu.

“Oh musim yang bermekaran, terimakasih alam dan semesta.Bunga mekar dan gadis periang membikin aku lahir kembali….’’ tanpa malu-malu Firoz berteriak hingga parau.

“Hahahaha,” Sahira merasa geli.Dia ikut tertawa, lalu berdiri dan memeluk Firoz lekat.

Dalam pelukannya yang masih erat, Firoz berbisik ke telinga Sahira, “Ini bulan kelahiran mu, Sayang, kita harus merayakannya.”

“Bagaimana kita merayakannya?”

“Ah, aku akan memasang sebuah lagu dan mari bergoyang.”

“Hmm, karena ini adalah hari jadiku, aku yang akan memilih bagaimana cara kita menikmatinya. Kau harus setuju,” balas Sahira.

“Baiklah.Bagaimana kau ingin melewati sore ini sayang?”

“Mungkin akan menyenangkan jika mendengar kau menyanyikan lagu kegemaranku,” pinta Sahira.

“Oh Tuhan.Sudah kuduga. Kau akan merengek untuk melihat aku tampak bodoh dengan menyanyi. Sumpah demi apapun, aku tidak memiliki suara yang pantas dikumandangkan dan lagian aku tidak tahu nada, aku akan malu.”

“Yah, begitulah caraku menikmati kejutan kecilmu ini,” Sahira tersenyum yang membuat Firoz tak punya daya menolak permintaannya.

“Baiklah, akan kucoba tapi aku sedikit menawar ya.”

“Hmm, apa?.”

“Aku akan memutar lagu kesukaanmu dan mengikuti mereka bernyanyi.Boleh ya?”

“Hahaha, boleh,” jawab Sahira.

Lelaki itupun memutar lagu “Affection” milik Ciggarettes After Sex sambil melantunkan liriknya dengan lembut. Tepat di bagian refrain, Sahira menghentikan pemutar musik dan lelaki itu terus bernyanyi meski suaranya sedikit lebih pelan.Dan wajahnya, kembali memerah dengan senyum yang menggantung malu-malu.

 

Siang itu, saat matahari bergerak perlahan menuju Barat mereka larut menikmati lantunan lagu tersebut dengan latar bunga-bunga yang mekar dan angin lembut yang menghisap keringat mereka berdua.Sesekali Firoz menyapu peluh yang mengalir bersembunyi di antara rambut Sahira.

Kemudian, Firoz mengeluarkan sebuah buku yang di bungkus kertas cokelat.

“Selamat ulang tahun, gadis bunga Daffodil yang mekar di bulan Maret,” katanya masih dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya.

“Ahhhhhhh, ulang tahunku masih satu minggu lagi.Ini terlalu cepat,” jawab Sahira.Wajahnya sumringah.

“Hahaha. Aku akan memasak di hari ulang tahunmu dan nona di depanku ini akan menjadi bos besar di hari itu. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan buku ini untukmu.Berada di sini diantara alam yang begitu hangat bersamamu selalu menjadi kesukaanku. Di halaman terakhir buku ini ada sesuatu yang selalu ingin aku ungkapkan, tapi kau tahu kan, aku ini tidak pandai berbicara banyak sepertimu. Aku juga tidak cukup bisa merangkai kata ala penulis, jadi jangan tertawakan ya,” kata lelaki itu dengan sedikit malu-malu.

“Hahahaha.Kalau jelek, kau akan aku hukum,” jawab Sahira sambil tertawa.

“Hmm, ada satu lagi berarti yang lupa disebutkan oleh pria Yunani itu.Bahwa gadis yang lahir di bulan Maret suka mengancam,” kata Firoz sambil memeluk kekasihnya.

“Hahahaha,” Sahira tertawa sambil jemarinya bergerak lincah membuka bungkus kertas cokelat itu.

Hans2

Sebuah musim semi yang manis dan penuh dengan tawa. Kegirangan yang ringan memadu dengan keindahan alam.Musim semi bagai rasa jatuh cinta yang baru, yang lahir dengan semarak dan penuh loncatan-loncatan rasa sukacita.

Hari berganti malam.Malam yang lahir dari keabadian yang bersembunyi di balik rembulan.Bulan yang menggerakkan ikan dan lautan. Hari berganti nama jadi minggu dan minggu berganti seragam menjadi bulan. Lalu, waktu melahirkan kegirangan yang tiada bisa dilukiskan.Tetapi, begitupun waktu jugalah yang menelan manusia dan kebahagian yang mereka usahakan.

Musim semi tersebut mereka lewati bukan hanya dengan pelukan, berbagai lagu kesukaan danbuku-buku melainkan juga dengan realita bahwa pada tiap manusia ada cinta dan impian.Demi impian itu pula, para kekasih sering kali harus berjalan pada dua arah yang tak bisa beriringan.

Ketika manusia jatuh cinta mereka kerap berlagak bagai anak-anak.Namun manusia yang sadar dan bertumbuh adalah dua orang dewasa yang dianugerahi impian dan kesempatan. Dan atas nama impian dan kesempatan itu pula, musim semi – musim semi berikutnya harus mereka lewati di dua benua yang saling berjauhan.

Bunga yang bermekaran bersama sebuah buku akan selalu menjadi sepenggal kisah dengan seorang kekasih terdahulu bagi Sahira. Kekasih yang akan selalu mengirim sebuah foto bunga Daffodil  atau bunga apapun yang tengah mekar di kotanya. Kekasih yang dipaksa mundur karena jarak Swedia – Indonesia menjadi kian tak masuk akal. Sedangkan Sahira, perempuan yang diimpikan lelaki itu juga tak tahu bagaimana caranya untuk menyeimbangkan antara impian dan kehidupannya di rumah sakit dengan memiliki kekasih yang terpaut jarak ratusan mil dan selisih waktu enam jam.

Meski begitu, tak sekalipun ada sungut-sungut dari kedua manusia ini.Lelaki itu masih kerap mengirim gambar musim bunga di negerinya.Sahira yang memutuskan berpindah ke salah satu pulau nan indah di Indonesia juga sesekali mengirim gambar senja di pantai-pantai sekelilingnya.

 

Denpasar, 25 Maret 2017

Story by : Rini Siallagan

Edited by : Ropesta Sitorus

Photographed by : Hans Lesmana

Fatamorgana

I was a girl with small smile, sitting on the bench ahead of the pastory.

You came late on that sunday, with sweaty hand in the midst of flaming Medan.

You took yourself beside me, smile and talked about Indonesian economy. It was when the pastor held forth with his purple froack. I was smiling, a small and thin smile again, and again. You kept talking about economy, again and again. And the pastor kept talking about sinner, oh boy, it could be us (the two human kept murmuring on sunday praying).

Out of blue, i asked a stupid question. ” Do you believe in God?”

You laughed, hold your voice on the tip of your tongue.

I  constrained my voice..exactly on the tip of my lips.

” What are we doing here now?” you asked.

” I dont know, i am here because this is the only way for me to have a chance to talk with you”

You went silent, the pastor stared at us. His eyes went to left as we stared him back.

” The question you have asking me went through to the core our presence, being here”you said.

I was dazed, the pastor looked fluctuate and my hands became numbness.

” I think it will be nice to know a girl with wide economy insight. I mean, for example a girl who working for Economy media or Economy department” you added.

” Why? What the special thing from those kinda girl?”

” Nothing, but it just makes me feel enthusiastic lately” you said.

The pastor took his voice louder, maybe he wanted to throw the microphone on to us.

” So, you do not believe in God” i said.

You went silent and stared at your fingers

”If so, why are you here, at this moment? i asked.

” Dont take this seriously, take this as a pleasure moment” you said.

(In that time, in my little machine called a heart, i am screaming, screaming like i am on the edge of the coast. Pleasure, what the hell of pleasure!!!?? I came along from capital city, i sent a message with many smiles emoticon, i asked you to have sunday time in your favorite small church and i have been here a half hour earlier with fully excitement and you came late about fifteen minutes with  stupid economy conversation, and you want me to take this as a pleasure) But sure, those words were real only in my small machine. I had long long silent.

Now, three years later. I am working in economy department. I have been writing about Indonesian economy since the pleasure stupid conversation in the church.

Out of blue, one hour ago we met in coffee shop near my flat.

You just came back from Germany, two years scholarship.

I have been keeping myself calm since then. Inside of my small machine, i had plenty questions.

I had my sumatran mandheling coffee and you had your, which it is gayo coffee.

The song from Vence Joy ”Riptide” was playing from the corner music speaker.

” Do you know? i will have my wedding party in two months” you said.

The cold coffee shop went freezing, the others visitors looked freezing, my eyeball went spinning to hold the tear, i took a sip of my coffee. A slight bit glimpse of wind came for a second and i am given strength out of nowhere.

” Ah, congratulation. I will come if i am not busy and of course if i have flight budget to Medan” i said.

” Please, dont take this seriously, this time in this coffee shop, the conversation we had in university and in other places, just come to my wedding party” you added.

” I will come, if i have flight budget” i said.

” You are the sweetest girl, like my sister” you said

” Oke, dont pity me. I am fine. I thought you are lighthouse of mine. Then this last minutes, i have been realized since the last word of your that you never see me. Sister? i am not that sweet, and never be that sweet. I love the way you encouraged me in university and it brought me to see you as a my lighthouse, but i have finally know at this moment i am wrong, you were only fatamorgana. You were shining everywhere but never be here with me….so it was hurting me before and i am not trying to make myself feel better but i am feeling relieved now, at least i knew the truth.”

” I trust you” you added

( Inspiration by one of very warming and enlight conversation i had with one of my sweet bestfriend, and she is working in economy region)

Art Cafe Sanur, February 04 2017

LUPA

Forget 1

Suatu pagi yang tampak biasa seperti pagi kebanyakan. Bunyi pesan berdering di telefon genggam. Kau melontarkan sebuah teori.Sebuah teori tentang lupa. Menurut Hermann Ebbinghaus dalam teori kurva lupa. Kita bisa merumuskan perkara lupa dan ingat. Sebenarnya, aku antara mengantuk dan mencoba paham akan isi pesan mu. Menurut Hermann rumusnya ialah :

R : e T/S

Retensi Ingatan ialah waktu dibagi kekuatan relative sebuah ingatan.

Aku bertanya, jika S ialah kekuatan relative sebuah ingatan maka akan ada faktor yang mempengaruhi nilai S. Apakah faktor tersebut? Kau menjawab dalam pesan bahwa ada dua teori dalam upaya manusia untuk mempengaruhi nilai S. Antara lain ialah teknik mnemonic dan pengulangan berkala.

Aku menghela nafas. Antara kantuk yang mulai hilang dan sinar matahari yang menyusup lewat tirai dan menimbulkan silau. Dalam batin aku mulai berpikir. Gerangan apalah yang menghantam mu hingga tengah malam waktu di negeri mu kau membicarakan teori Hermann Ebbinghaus.

Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan? “tanya ku”

Begini, aku terkadang suka dan tidak suka dengan kemampuan manusia melupakan. Kita manusia cepat sekali melupakan. Kita meningglkan banyak hal yang berharga di masa yang lewat. Waktu itu, sekitar dua tahun lalu dalam sebuah siang yang segar dan suara riak danau yang tenang, aku melihat wajah mu dengan seksama. Aku pikir begini, sebaiknya aku mengamati dengan seksama. Tulang pipi mu, bola mata mu, warna kulit mu, bahkan aku mencoba merumuskan wawangian vitamin rambut mu. Aku tidak ingin melewatkan satu detail pun.

Pagi ini, aku bangun dari tidur. Aku menyadari satu fakta baru. Aku sudah melupakan banyak fragmen ingatan itu. Aku terbangun dalam kesedihan. Kau tahu, aku ingin meningatmu. Sekalipun, aku meminta kau mengirimkan gambarmu, aku melihat model rambut baru mu. Tapi tetap saja dalam sepuluh menit aku kembali lupa. Dan, aku membenci hal itu. Itu sebuah kemmapuan yang ingin aku lawan.

 

Aku menarik nafas, antara senang atau beban.

Sebenarnya tidak masalah bagi ku dilupakan. Toh, hidup selalu begitu. Kita bisa melupakan sebagian besar mungkin hampir semua tapi aku selalu yakin akan ada satu fragmen yang tertinggal. Mustahil mengingat semua. Sekalipun oleh sebuah repetisi yang sempurna.

 

Apakah kau masih mengingat sesuatu dari ku? “tanya mu”

Tentu. Tidak banyak lagi memang. Tapi mengingatmu tidak sulit dan itu sudah cukup untuk ku.

 

Saat itu dini hari, saat kau harus terbang meninggalkan Medan. Aku masih dibanjiri kantuk yang berat. Kepergianmu membuatku berusaha melawan kantuk, saat aku sarapan pagi sebuah kupu-kupu besar menempel di dinding apartemen ku. Aku ingat aku mengirimkan gambarnya kepadamu. Saat itu, aku mulai menyibukkan diri membaca. Memasukkan makanan ke mulut ku, menyeruput kopi, tapi segera aku sadari sesuatu hal. Aku bagai sebuah kemeja satin yang lepas dari gantungan dan terjatuh di almari, kusut dan perlu segera dirapikan. Begitu kisut dan tak bertenaga.

Kau belum lupa. Kau masih mampu mengingatnya. Itu menyenangkan.

Tidak, aku tidak mengingat banyak.

Aku punya sebuah pertanyaan terakhir. Apakah menurut mu kita akan bertemu lagi?

Ahh, manusia ini memang sulit yah. Kita bisa saja bertemu di kota lain. Toh kau dan aku bekerja. Tetapi kita juga ditarik dan menarik banyak hal sehingga memang hal-hal dari masa lalu seperti sesuatu yang kita tunda atau tidak lagi menjadi utama. Terkadang, aku berpikir mungkin kelak aku akan berkunjung ke negeri mu untuk berjalan-jalan dan memberi buku kepadamu. Namun nampaknya, aku juga tidak ingin segera melaksanakannya. Dan aku juga yakin kau merasakan hal yang serupa. Kita manusia memang begitu. Kita menginginkan banyak hal. Ingin menyimpan sebanyak mungkin. Tapi kita tidak diciptakan untuk mewujudkannya. Mungkin lebih baik begitu.

 

Aku ingin bertemu dengan mu. Terkadang ada niatan berlibur dan membaca di tepi danau dengan mu. Melakukan repetisi nyata. Tetapi seketika ingatan akan pedihnya membayangkan aku di pagi hari selepas kau pergi juga menghantam keberanian ku. Aku kadang juga berpikir, lebih baik segala sesuatu sekali saja dan selebihnya adalah kenangan. Tetapi jangan berpikir aku ingin melupakan mu. Sekalipun kau tidak boleh berpikir begitu.

 

Aku tersenyum.

 

Kau harus segera tidur. Mungkin membakar dedaunan supaya lebih santai dan ringan.

Kita manusia berjuang melawan sifat alamiah kita sendiri, ujar mu.

 

F,

 

Denpasar,

19 Agustus 2016

 

 

 

 

Selamat 26

kue

Selamat memasuki 26, selamat melewati pembatas antara usia.

Tahun lalu  kita menikmati lima potong kue tart cokelat di tepi danau didampingi segelas kopi, lalu agar suasana semakin romantis kau menambahkan dua buah lilin diantara gelas kopi kita.

Kemungkinan ada banyak dimuka bumi ini” kata mu”

Jika kemungkinan terburuk terjadi dan setiap tahun aku dan engkau takkan bertemu maka aku ingin kau dan kenangan tetap aku rayakan hingga usia 30 tahun” Pinta mu”

aku tertawa, apa kau akan mengingat meski ternyata aku takkan bertemu engkau lagi? “tanya ku”

Rini, aku ingin mengingat setiap kelegaan yang kau hadiahkan, setiap tawa dan penjelasan lucu mu sampai batas otak ku, aku tahu lupa adalah hadiah. kau tahu jika aku mengingatmu lebih dari lima tahun maka aku pasti gila “jelas mu”

baik, aku paham. aku tidak apa-apa kau ingat selama lima tahun” ujar ku”

Senja itu ada peluk mu yang menyelimuti aku, kau bagai burung camar yang bersembunyi di dalam sangkar dan nyenyak. Kulitmu kemerahan akibat terbakar matahari, aku memainkannya. kau terus mendekap seperti mendekap adalah satu hal yang begitu mewah.

terima kasih karena pernah memuja dengan begitu sempurna, mencinta hingga aku merasa lengkap.

selamat ulang tahun, F.

Selamat menikmati potongan kue cokelat di belahan bumi lain.

Si Robin dan Akuarium

image

Seekor Ikan Beta di Kamar beraroma Rokok.

Ada dua puluh ekor ikan di sebuah akuarium di kamar kecil tersebut. Dua puluh ikan Beta berwarna-warni yang di beli pemiliknya tuk melatih tanggung jawab sekaligus tuk melepas segala atribut penat mereka.
Dua puluh ikan ini dipilih secara acak dari penjual ikan pinggir jalan kota Medan. Tak ada alasan khusus kenapa harus yang dua puluh ini selain warna mereka yang ceria.
Dua puluh ikan ini pun lagi-lagi pasrah akan di bawa kemana mereka. Dalam kantung pelastik bening mereka di giring ke habitat baru.
Ada se ekor ikan, sebutlah ia Robin. Robin bergembira selama perjalanan.
Se ekor Beta lain bernama Icon bertanya, hey Robin, aku lihat kau begitu gembira, ada apa?” Tanya Icon”.

Icon, tetiba ada ide di kepala ku. Mungkin ketiga lelaki ini akan mengembalikan kita ke sungai lalu kita akan bebas dari aquarium atau kantung pelastik”jawab Robin”.

Hahahahaha, tolol kau Robin. Tak kah kau lihat mereka sudah membeli akuarium dan wajah mereka tak mengisyaratkan piknik ke sungai tuk memulangkan kita. Jangan kau lahirkan impian di siang bolong Robin”jawab Icon”.

Lalu Robin murung, ia tak menyadari akuarium di pangkuan seorang lelaki gagah di sebelah supir. Ia mengambang pasrah di pelastik penjara itu.

Sampailah mereka di sebuah rumah mungil yg tampak asri.

Robin berteriak ke Icon.
Con, mungkin ada kolam di belakang rumah ini dan kita dibiarkan disana. Kau lihat rumah mereka ada banyak bunga.”teriak Robin”.

Lalu 19 ikan tersebut tertawa.
Kau terus gali mimpi, sudahlah kau kubur saja mimpi mu kembali ke sungai itu”jawab Icon”.

Betul kata Icon, tidak ada kolam, tidak ada halaman belakang yg rindang justru sebuah kamar kecil yg miskin udara.
Akuarium diletakkan di sebelah televisi merek Korea, pemutar air disetel, ditambahkan sedikit tanaman air lalu kami di masukkan ke akuarium tersebut.

Kami dua puluh ikan muda, dalam satu akuarium mini di kamar gelap yg selalu dipenuhi asap rokok.

Icon pun memanggil 19 ikan lain.
Kawan-kawan, lebih baik kita dibiarkan di pedagang ikan saja. Lihat sudah dua hari kita disini tapi tak ada hiburan yg kita peroleh. Hanya dua lelaki yg kerap berargumen, mengorok hingga siang hari, merokok hingga tengah malam, aku bosan. Lagian kalau kita di pedagang kemarin, setidaknya dia merawat kita karena kita akan di jual dan yg lebih penting di sana kita melihat banyak orang dengan keragamannya sperti di sungai, di sungai kita lihat ada banyak pemancing yg kita trtawai tingkahnya. Di sini hanya dua manusia tsb, membosankan!”ujar Icon”.

Jadi apa ide mu?”tanya Linda”

Kalau kita begini terus, aku lebih baik mati. Apa bedanya mati dng diracuni asap rokok yang tebal setiap hari? Toh kita juga akan mati keracunan dan kurus.”jawab Icon”.

Mati? Kau gila! Aku ingin bertahan dan menarik perhatian mereka. Mungkin kelak mereka akan melepaskan aku ke sungai.”jawab Robin”.

Hahahahaha” 18 ikan lain tertawa”.

Robin, jangan kau tersinggung. Mereka ikan pemalas. Aku juga tak mau mati pasrah. Kadang memang sebagai ikan tak banyak pilihan yg kita punyai. Tetapi tak banyak bukan berarti tak ada kan?” Ucap Linda”.

Apa yg akan kau lakukan Linda?”tanya Robin”.
Mungkin, aku akan bertahan sekuat yg aku bisa. Jikapun aku harus mati karena asap rokok tebal, berkurangnya cahaya dan oksigen di kamar ini, pengapnya ruangan ini, aku akan tetap memilih mati alamiah. Bunuh diri itu hanya untuk pecundang. Kau sudah tahu Icon dan yg lainnya sejak di sungai pun selalu malas, mereka hanya berenang di bawah lumut, pasrah menanti sisa-sisa lumut. Mereka kurus dan tak menarik. Entah kenapa lelaki itu memilih mereka? Pilihan bodoh!”jawab Linda”.

Kau pintar dan lucu Linda. Aku juga tak akan ikut dlm aksi bunuh diri mereka. Bukan karena itu konyol hanya saja aku yakin suatu saat aku pasti kembali ke sungai”jawab Robin”.

Ah, aku tak seberani itu menggantung mimpi. Tapi aku punya mimpi.”jawab Linda”.

Apa mimpi mu Linda?”tanya Robin penasaran”.
Kau lihatlah kamar di seberang sana! Aku suka kamar itu, ada jendela yg sllu terbuka, ada pepohonan rindang dibalik jendela dan aku perhatikan pemiliknya tak merokok. Kamar itu juga cukup cahaya dan sirkulasinya cukup. Bagiku hidup di kamar itu sudah cukup.”jawab Linda”.

Tapi kau tak bebas, berada di toples kaca itu juga membosankan dan apa bedanya dng akuarium ini?”tanya Robin Heran”.

Berbeda, sedari dulu aku sudah paham ttg nasib ikan beta macam kita. Ibu ku bahkan diangkut dari sungai sejak aku masih begitu kecil. Bberapa jam setelah melahirkan aku dan saudara-saudaraku. Saudara-saudara ku yg lain gagal menaklukkan sungai dan seorang saudara ku juga ditangkap oleh pedagang ikan. Sejak itu aku sadar betul bahwa ikan beta seperti kita sudah tak memiliki banyak pilihan, aku belajar menerima jika kelak aku tertangkap maka aku harus menikmati siapa pun tuan ku. Lagian di sungai juga bukan hidup yg lebih menyenangkan. Kau lihat saja setiap hari ikan-ikan besar merebut makanan kita, pemancing-pemancing yg menggoda dng cacing gemuk, jaring nelayan yg siap memperdaya kita, belum bom ikan yg siap menghantam nyawa kita dan rumah kita kapan saja. Di toples kaca seperti di kamar sebelah sudah surga bagi ku”jelas Linda”.

Tapi di sungai, sekalipun kita mati. Kita mati dirumah. Kita mati berjuang”jawab Robin”.

Mati, bagaimanapun sebuah kematian tetap perjuangan. Sekalipun itu bunuh diri karena kekenyangan pelet tetap Icon dan 18 kawan kita berjuang kenyang demi mati. Walau konyol bagi ku tetap saja mereka berjuang.”jawan Linda”.

Jadi kau akan pindah?”tanya Robin”

Aku berharap, tuan kamar sebelah tertarik dengan kemungilan ku dan tarian ekor ku.”jawab Linda”.

Hari pun berlalu, minggu-minggu membosankan semakin memantapkan tekad Icon dan 18 ikan tuk bunuh diri.

Besok siang, kedua lelaki ini sudah kembali ke kamar ini, besok Jumat itu jadwal mereka tidur di kamar ini. Kita harus mati selambat-lambatnya pagi kita harus mati”sela Icon”.

Apa tidak sebaiknya kita mati di depan mereka? Toh mereka tdak tahu cara menyelematkan ikan. Dan bagaimana cara kita mati?”tanya Lupard”

Lihatlah Robin, benarkan kata ku, mati itu sendiri perjuangan”jelas Linda”.

Robin mengangguk tanda setuju.

Kita mati dng cara melukai satu sama lain, aku akan meminta Robin melukai ku. Dan tidak sulit kita mati, kita saja tinggal tulang begini.”jelas Icon”.

Aku tak mau melukaimu, kau gila.”jelas Robin”.
Baiklah jika kau tak mau. Aku akan mati belakangan dan ketika dua manusia itu membagi pelet, aku akan menelan mereka semua.”jawab Icon”.

17 ikan itu pun bertarung hingga lelah, lelah ditambah lapar dan oksigen di kamar yg kian menipis. Lima hari sudah kamar ini tak berpenghuni, jendela tak dibuka, tirai menutup tiap senti jendela, pemutar air yg mati akibat token yg belum di isi ulang sehingga mati pun sepertinya pilihan bijaksana.

Tersisalah Robin, Linda dan Icon.

Terdengar suara tiga lelaki pemilik rumah ini, kedua lelaki itu menuju kamar mereka.

Ya ampun, Zack lihatlah hampir semua ikan kita mati”teriak Ramon kaget”.

Ih pasti karena pemutar air mati, yah sudahlah kita kubur saja di belakang. Apa lagi mau kita bikin?”jawab Zack santai”.
Ya ampun tiga ikan kalian ini lemas, sudahlah yg paling kecil nanti aku pindahkan saja yah ke kamar ku”pinta Neil”.

Ambil saja Neil, biarlah dua itu saja kami rawat. Mungkin kemarin kami terlalu impulsif membeli dua puluh ikan”jawab Zack”.

Neil pun menuju dapur, membersihkan toples kaca yg selama ini jadi vas bunga ester, ia ambil koleksi bunga pelastiknya. Ia rangkai akuarium sederhana.

Hey Robin, lihatlah tuan itu pasti akan memungut aku. Aku paling mungil dan lincah. Ia pasti menyukai ku. Ah impian aku segera terpenuhi.”teriak Linda sambil menari”.

Mungkin kau benar Linda, ia tampak mempersiapkan rumah baru mu. Apakah aku masih bisa melihat mu?”tanya Robin”

Tentu, aku berharap ia menaruh ku di tepi meja itu. Sehingga aku dan kau masih bisa saling melihat dan tenang saja, kita para ikan selalu tahu cara berbicara satu sama lain meski jarak ribuan mil. Kita tak perlu telefon seluler mereka.”ujar Linda”.

Benar, aku akan bersiul, setiap aku bersiul kau harus menoleh ke arah sini!” Pinta Robin”.

Tenang, setiap kau bersiul aku akan menari untuk mu”jawab Linda”.

Sementara Icon lemas di sela-sela tumbuhan air yg mulai busuk.
Icon, kau akan mati sebentar lagi. Apakah yang kau rasakan?”tanya Robin”.

Ada tiga hal yang aku pikirkan sekarang, kau mau tahu apa?”tanya Icon”.
Apa?”jawab Robin dan Linda”.
Pertama. Aku muak dengan tingkah kalian yg terus berlagak optimis dan semangat di akuarium busuk ini. Kalian sperti pemain sandiwara di televisi sebelah ini.
Kedua. Aku cukup miris dengan nasib ku yg memilih mati belakangan, tak kah kalian lihat? Ekspresi si Zack dan Ramon melihat mayat 17 kawan kita, ekspresi datar tanpa belas kasih dan sesal. Bagaimana mungkin ia sanggup berkata bahwa membeli kita semua adalah tingkah impulsif mereka. Aku sedih menyaksikan tontonan kejam ini. Seandainya aku mati lebih dahulu dng imajinasi bahwa kedua tuan itu akan pilu dan sedih, mungkin mati begitu lebih baik. Mati dng imajinasi dan harapan terakhir.
Ketiga. Aku harap semoga kolam ini meledak dan membasahi kasur itu lalu mereka melepaskan kalian ke sungai terdekat.”jelas Icon”.

Icon pun mulai mengap-mengap tanda oksigen mulai menipis di insangnya, insangnya meronta mengemis oksigen, Icon tak hiraukan bahasa tubuhnya.

Sementara Robin dan Linda menyaksikan Icon tanpa bisa melakukan apa-apa, menghambat kematian sama sulitnya dengan mempercepat kematian.

Icon dalam selang 30 menit kehilangan nyawa, mengambang lemas tak bertuan. Melayang di sela-sela tumbuhan air yg mulai busuk. Berputar pasrah akibat pemutar air, tak juga melawan, Icon sudah mati dan sukses bunuh diri.

Ya ampun Ramon, satu lagi ikan kita tak bergerak. Sepertinya dia mati.”ujar Zack sambil mencelupkan telunjuknya ke sela-sela tumbuhan air”.
Ih kenapa mati semua yah?”tanya Ramon sambil menyalakan rokoknya”

Lalu Neil datang sambil membawa jaring kecil tuk menangkap Linda.

Kalian tahu, ikan itu hewan yg sensitif. Mereka tahu bagaimana cara mati yg baik. Dan jelas saja ikan lele sekalipun akan mati jika pemutar air tak hidup selalu, ruangan pengap, gelap dan bau rokok begini. Dan lagi pula kita sudah lima hari tak di rumah ini, mereka jelas kelaparan.”jawab Neil sambil memboyong toples berisi Linda ke kamarnya”.

Tapi kan Neil, kata bapak pedagang itu mereka ini ikan kuat, tak akan mati sekalipun seminggu tak makan.”jawab Zack”.

Sudah ku bilang, ikan itu hewan sensitif, di lautan dan danau sana mereka jadi indikator kelayakan laut dan danau itu sendiri. Kau pikir mereka ikan dari samudera dekat kutub sana yang sanggup hibernasi berbulan. Mereka ini ikan tropis, setidaknya tiga hari kita harus tebar makanan mereka. Lagian apa yg tidak di ucapkan oleh pedagang”ucap si Neil”.

Sudahlah, mari kita kubur saja si ikan yg malang ini”ucap Ramon”.

Robin pun menyaksikan Linda diboyong ke kamar seberang dan Icon di bawa ke halaman belakang tuk dikubur.

Robin pun berputar sesekali menikmati pelet, ia juga kerap melihat kedua tuannya berbincang sambil menyulut rokok, ia juga ikut menyaksikan televisi yg terus menyiarkan kematian seorang komedian karena sakit kronis, ia juga sering memdengar musik elektro di kamar ini. Kadang2 jendela di buka walau tirai di tutup. Asap rokok terus mengepul seraya asbak yang makin penuh.

Eh Zack, kasihan yah ikan ini sendirian. Mungkin kalau kita pergi ke Toba, kita lepaskan saja dia disana.”ucap Ramon”.

Ke Toba, jauh sekali. Sebaiknya kita beli saja beberapa ikan lagi supaya dia tidak sendirian”ucap Zack”.

Nanti mati lagi, lagian kita mungkin belum tepat memelihara ikan. Kita masih tinggal di dua kota, belum bisa merawat mereka dng maksimal”ujar Ramon”.

Anggap saja latihan”jawab Zack”

Robin pun kembali lemas, ia sempat terbuai membanyangkan Danau Toba yg maha luas itu, dalam mimpi pun ia tak berani bermimpi dilepaskan kesana. Tapi nampaknya Tuan satu itu tak menyukai ide tuan satu lagi. Apakah sampai mati aku harus di akuarium ini? Yang jika senin hingga kamis gelap dan pemutar air bisa berhenti kapan saja, ia harus tersengal-sengal karena lapar dan kekurangan oksigen. Apakah ia harus berjuang untuk tidak mati konyol seperti Icon dan 17 kawannya? Atau apakah ia harus tetap berbahagia dan menari seperti Linda?”pikir Robin”.

Sementara di seberang sana, Linda mengibas ekornya untuk Robin. Ia berteriak. Hey Robin, jangan sedih. Kau hanya cukup terus bernafas dan memakan pelet. Sepertinya di era sekarang ikan harus makan pelet mau tidak mau. Jadi nikmati saja!”ujar Linda”.

Robin pun menangkap pelet sambil membayangkan seperti apa Danau Toba itu.

Sementara dua tuannya, pulas dan memdengkur.

Robin berputar dalam akuarium mungil ditemani lantunan Paloma Faith dari telefon seluler tuannya.

Aku, Kau dan KUA.

Kau, memaksa ku pergi ke gedung kusam itu. Tempat segala berkas kawin orang tertumpuk busuk di makan cecurut.
Lin, tidak salah jika kita pergi ke KUA. Toh kau mencintai ku. Jadi mari kita satukan saja. “Saran Reza”.

Reza, kita sudah bersama selama tiga tahun, kita bahkan mengenal lebih lama. Aku masih 27 tahun. Jangan kau paksa aku ke KUA, aku masih belum seyakin itu.”jawab Linda”.

Aku heran pada mu, orang tua kita sudah bertanya, aku sudah 32 tahun, kau dan aku sudah lebih dari cukup untuk menghidupi anak. Lagian kita bagian masyarakat, menikah itu identitas masyarakat kita. “Balas Reza”.

Apakah kau tahu? Aku hanya punya satu alasan kenapa aku ogah ke KUA dengan mu. Pemikiran dangkal mu ttg pernikahan. Pernikahan bukan ttg identitas kemasyarakatan kita, bukan juga jadwal hidup setelah di atas 25 tahun untuk perempuan dan di atas 30 untuk laki-laki, pernikahan itu tentang komitmen kita satu sama lain yang naik satu tingkat. Dan satu lagi aku bisa menikah tanpa harus ke KUA. “Jawab Linda”.

Kau terus keras kepala, kau dan aku hidup diantara orang tua, diantara makhluk sosial bernama masyarakat. Kau pikir pemikiran mu itu akan mudah pada akhirnya. Kau akan menambah populasi tanpa memberi kemudahan administrasi pada anak jika kelak ada di antara kita. Kau tak boleh egois. “Jawab Reza”.

Lalu kita harus ke KUA hanya karena surat untuk anak? Alasan apa itu? Apakah tak bisa kau berikan alasan lain?” Tanya Linda”.

Aku tak ingin kita ribut, tapi jika kau tak ke KUA sepenuhnya bukan masalah bagi ku tapi jadi masalah bagi orang tua mu dan orang tua ku. Dan aku di mata mereka menjadi pejantan tak bertenaga kuda karena tak berhasil membujuk mu menikah, hilang daya sengatku. “Jawab Reza”.

Jika sengat mu hanya dinilai dari pergi tidaknya kita ke KUA maka aku tak butuh sengat karbitan macam begitu. Sengat mu dalam menciptakan kita yang beritme teratur dan bernafas pelan sudah jauh lebih dari cukup, tak perlu hitam atau tanda tangan dari pria berpeci yang tiba-tiba mendadak sakral dalam hidup kita. Aku tak butuh sengat karbitan itu. “Jawab Linda”.

Apakah kau akan menikah dengan ku kelak?”tanya Reza”.

Kita akan ke KUA suatu hari baik nanti, saat dimana aku dan kau tidak lagi ribut karena KUA, saat dimana aku adalah manusia yang kau hargai kesiapannya. Menikah itu tidak sama dengan membeli perabot yang ketika tak cocok bisa kau jual kembali, menikah itu seperti memilih tempat berwisata, kita harus tahu apa yang mau kita kunjungi, kita nikmati baik dan buruknya dan juga tentang rupiah jadi tunggulah sampai aku benar-benar paham tentang tempat yang akan kita arungi itu.”jawab Linda”.

Linda, mencintai mu tak mudah apalagi memahami isi kepala mu yang tak sederhana tapi meski begitu kau magnit bagi segala yang diam di dalam aku” bisik Reza dalam hati”.