A Blossom’s story

Hans3

Musim semi, suatu musim tatkala daun pelan-pelan kembali lahir dan menghijau, Musim dimana kuncup bunga-bunga bermekaran, rerumputan bergoyang perlahan bersamaan dengan sinar matahari yang muncul kembali dari balik cakrawala.

Musim semi juga musim dimana anak-anak sekolah menyingsing ransel sambil membicarakan rencana memancing dan bersepeda di sore hari.Musim saat ikan-ikan melompat gembira karena manusia melemparkan makanan ke pinggir danau.Musim yang kembali melahirkan harap serentak dengan berlalunya musim hujan yang selalu menenggelamkan manusia di balik selimut dengan cokelat hangat di meja sebelah ranjang.

Musim semi ialah musim perayaan akan permulaan. Untuk Sahira musim semi bukan hanya tentang permulaan, musim semi juga bermakna kerelaan.Tiga tahun sebelumnya pada sebuah musim semi di dekat danau.

Hari itu, Sahira dan Firoz memutuskan menjauh dari hiruk pikuk kota besar. Pergi menuju sebuah desa di pinggir danau. Di sanaterhampar padang rumput hijaupenuh bunga liar yangtengah mekar dengan sempurna. Di tengah perjalanan tersebut keduanya sesekali menertawakan orang-orangkotayang kerap melewatkan musim mekarnya bunga-bunga di sekitar mereka.

Dengan skuter matik, mereka menyusuri setapak. Di ujung jalan yang sempit, Firoz menaruh roda dua yang ia sewa dari penduduk lokal. Sahira gembira setengah mampus dan Firoz tertawa kecil melihat keriangan Sahira yang tak dibuat-buat.

Firoz berjalan dua langkah di belakang Sahira, membawa sebuah tas berisi dua buah botol minum, satu kotak semangka dan dua buah buku yang tengah mereka baca.

Hans1

“Aku bahagia,” ucap Sahira.

“Aku juga,” balas Firoz, tersenyum.

“Kenapa kau bahagia?”tanya Sahira sambil terus berjalan.

“Berada di padang rumput, di bawah bukit, di tengah bunga-bunga liar bermekaran dan gadisku yang tersenyum tanpa henti dibekali sekotak semangka dingin yang mulai hangat.Ini sempurna sayang.”

“Kau suka bunga?”sahira melemparkan tanya tanpa menghentikan langkahnya.

“Tentu, aku tidak punya alasan untuk membenci mereka.”

“Suatu ketika, aku bertemu seorang pria Yunani.Lelaki itu percaya bahwa setiap perempuan memiliki bunga mereka sendiri. Aku hanya menjawab iya, karena  pria tersebut terus mendongeng. Aku tanya juga padanya, bagaimana aku tahu bunga yang hidup di dalam diriku? Kau tahu apa jawabannya?,” Sahira terus bercerita.

“Apa?”

“Ia berasumsi bahwa semua bunga itu cantik apalagi saat mereka tengah bermekaran.Dan ketika kau bertemu satu bunga kemudian hatimu riang gembira, niscaya bunga itu ialah bunga keberuntunganmu,” kata perempuan itu sambil berhenti sekejap sambil menoleh ke Firoz yang sudah berada di sampingnya.

“Hahahaha, kau kan riang dengan semua bunga. Kemarin kau bilang kau akan menanam bunga matahari, minggu lalu kau membeli biji lavender. Kemudian mawar-mawar milikmu pun kau ajak bicara. Jadi yang mana milikmu?” tawa Firoz pecah yang membuat mukanya terlihat sedikit merah muda.

“Ah kau jangan tertawa dulu.Aku belum usai.Jadi dia bilang, bahwa perempuan yang lahir di bulan Maret memiliki kedekatan dengan bunga Daffodil.Menurutnya, perempuan di bulan Maret ialah mereka yang berani dan indah seperti puisi. Dari kedua telapak tangan perempuan Maret  akan ada kesembuhan-kesembuhan. Saat itu aku berpikir mungkin dia ada benarnya.Maksudku, dia waktu itu tidak tahu jika aku mahasiswa kedokteran, bisa jadi dia tidak mendongeng.”

Firoz mulai mengambil posisi di bagian tanah yang agak datar.Dilebarkannya kain piknik warna coklat muda sambil tetap menjawab Sahira yang masih antusias bercerita.

“Jika Daffodil adalah bungamu, kenapa kau tidak mencoba menanamnya?”

“Bunga Daffodil agak sukar ditanam. Aku belum pernah melihat bibitnya dijual di kota kita. Kata pedagang bunga mereka mendapatkan Daffodil dari pegunungan di Pulau Jawa,” kata Sahira.

“Baiklah, apa aku boleh memelukmu?”Pertanyaan Firoz sambil menarik lembut tangan kekasihnya itu sekaligus menghentikan pembahasan tentang bebungaan.

Sahiramerebahkan tubuhnya dalam dekap hangat kekasihnya.Kekasih paling lembut dan bersahaja yang memeluk dan terus membelai lembut rambutnya.Desah nafas mereka terdengar tanpa jarak.Suara semilir angin menjadi nada pengiring yang dengan murah hatidipersembahkan oleh alam.Bunga-bunga liar seakan menjadi penari latar yang bergoyang mengikuti angin.

Sahira duduk kemudian membalikkan badannya untuk menatap kekasihnya tersebut

“Terimakasih,” ucapnya setengah berbisik.

“Aku yang berterimakasih.Aku ingin berteriak ke seluruh penduduk danau ini bahwa gadis di depanku ini begitu indah,” balas Firoz.

“Kau boleh berteriak.Bunga-bunga yang mekar akan menangkap kata-katamu, dan aku akan mekar di antara kelopak bunga-bunga liar ini.”

Firoz berdiri, tersenyum dan berteriak ke bentang danau yang sedang sepi sore itu.

“Oh musim yang bermekaran, terimakasih alam dan semesta.Bunga mekar dan gadis periang membikin aku lahir kembali….’’ tanpa malu-malu Firoz berteriak hingga parau.

“Hahahaha,” Sahira merasa geli.Dia ikut tertawa, lalu berdiri dan memeluk Firoz lekat.

Dalam pelukannya yang masih erat, Firoz berbisik ke telinga Sahira, “Ini bulan kelahiran mu, Sayang, kita harus merayakannya.”

“Bagaimana kita merayakannya?”

“Ah, aku akan memasang sebuah lagu dan mari bergoyang.”

“Hmm, karena ini adalah hari jadiku, aku yang akan memilih bagaimana cara kita menikmatinya. Kau harus setuju,” balas Sahira.

“Baiklah.Bagaimana kau ingin melewati sore ini sayang?”

“Mungkin akan menyenangkan jika mendengar kau menyanyikan lagu kegemaranku,” pinta Sahira.

“Oh Tuhan.Sudah kuduga. Kau akan merengek untuk melihat aku tampak bodoh dengan menyanyi. Sumpah demi apapun, aku tidak memiliki suara yang pantas dikumandangkan dan lagian aku tidak tahu nada, aku akan malu.”

“Yah, begitulah caraku menikmati kejutan kecilmu ini,” Sahira tersenyum yang membuat Firoz tak punya daya menolak permintaannya.

“Baiklah, akan kucoba tapi aku sedikit menawar ya.”

“Hmm, apa?.”

“Aku akan memutar lagu kesukaanmu dan mengikuti mereka bernyanyi.Boleh ya?”

“Hahaha, boleh,” jawab Sahira.

Lelaki itupun memutar lagu “Affection” milik Ciggarettes After Sex sambil melantunkan liriknya dengan lembut. Tepat di bagian refrain, Sahira menghentikan pemutar musik dan lelaki itu terus bernyanyi meski suaranya sedikit lebih pelan.Dan wajahnya, kembali memerah dengan senyum yang menggantung malu-malu.

 

Siang itu, saat matahari bergerak perlahan menuju Barat mereka larut menikmati lantunan lagu tersebut dengan latar bunga-bunga yang mekar dan angin lembut yang menghisap keringat mereka berdua.Sesekali Firoz menyapu peluh yang mengalir bersembunyi di antara rambut Sahira.

Kemudian, Firoz mengeluarkan sebuah buku yang di bungkus kertas cokelat.

“Selamat ulang tahun, gadis bunga Daffodil yang mekar di bulan Maret,” katanya masih dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya.

“Ahhhhhhh, ulang tahunku masih satu minggu lagi.Ini terlalu cepat,” jawab Sahira.Wajahnya sumringah.

“Hahaha. Aku akan memasak di hari ulang tahunmu dan nona di depanku ini akan menjadi bos besar di hari itu. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan buku ini untukmu.Berada di sini diantara alam yang begitu hangat bersamamu selalu menjadi kesukaanku. Di halaman terakhir buku ini ada sesuatu yang selalu ingin aku ungkapkan, tapi kau tahu kan, aku ini tidak pandai berbicara banyak sepertimu. Aku juga tidak cukup bisa merangkai kata ala penulis, jadi jangan tertawakan ya,” kata lelaki itu dengan sedikit malu-malu.

“Hahahaha.Kalau jelek, kau akan aku hukum,” jawab Sahira sambil tertawa.

“Hmm, ada satu lagi berarti yang lupa disebutkan oleh pria Yunani itu.Bahwa gadis yang lahir di bulan Maret suka mengancam,” kata Firoz sambil memeluk kekasihnya.

“Hahahaha,” Sahira tertawa sambil jemarinya bergerak lincah membuka bungkus kertas cokelat itu.

Hans2

Sebuah musim semi yang manis dan penuh dengan tawa. Kegirangan yang ringan memadu dengan keindahan alam.Musim semi bagai rasa jatuh cinta yang baru, yang lahir dengan semarak dan penuh loncatan-loncatan rasa sukacita.

Hari berganti malam.Malam yang lahir dari keabadian yang bersembunyi di balik rembulan.Bulan yang menggerakkan ikan dan lautan. Hari berganti nama jadi minggu dan minggu berganti seragam menjadi bulan. Lalu, waktu melahirkan kegirangan yang tiada bisa dilukiskan.Tetapi, begitupun waktu jugalah yang menelan manusia dan kebahagian yang mereka usahakan.

Musim semi tersebut mereka lewati bukan hanya dengan pelukan, berbagai lagu kesukaan danbuku-buku melainkan juga dengan realita bahwa pada tiap manusia ada cinta dan impian.Demi impian itu pula, para kekasih sering kali harus berjalan pada dua arah yang tak bisa beriringan.

Ketika manusia jatuh cinta mereka kerap berlagak bagai anak-anak.Namun manusia yang sadar dan bertumbuh adalah dua orang dewasa yang dianugerahi impian dan kesempatan. Dan atas nama impian dan kesempatan itu pula, musim semi – musim semi berikutnya harus mereka lewati di dua benua yang saling berjauhan.

Bunga yang bermekaran bersama sebuah buku akan selalu menjadi sepenggal kisah dengan seorang kekasih terdahulu bagi Sahira. Kekasih yang akan selalu mengirim sebuah foto bunga Daffodil  atau bunga apapun yang tengah mekar di kotanya. Kekasih yang dipaksa mundur karena jarak Swedia – Indonesia menjadi kian tak masuk akal. Sedangkan Sahira, perempuan yang diimpikan lelaki itu juga tak tahu bagaimana caranya untuk menyeimbangkan antara impian dan kehidupannya di rumah sakit dengan memiliki kekasih yang terpaut jarak ratusan mil dan selisih waktu enam jam.

Meski begitu, tak sekalipun ada sungut-sungut dari kedua manusia ini.Lelaki itu masih kerap mengirim gambar musim bunga di negerinya.Sahira yang memutuskan berpindah ke salah satu pulau nan indah di Indonesia juga sesekali mengirim gambar senja di pantai-pantai sekelilingnya.

 

Denpasar, 25 Maret 2017

Story by : Rini Siallagan

Edited by : Ropesta Sitorus

Photographed by : Hans Lesmana

Advertisements

Fatamorgana

I was a girl with small smile, sitting on the bench ahead of the pastory.

You came late on that sunday, with sweaty hand in the midst of flaming Medan.

You took yourself beside me, smile and talked about Indonesian economy. It was when the pastor held forth with his purple froack. I was smiling, a small and thin smile again, and again. You kept talking about economy, again and again. And the pastor kept talking about sinner, oh boy, it could be us (the two human kept murmuring on sunday praying).

Out of blue, i asked a stupid question. ” Do you believe in God?”

You laughed, hold your voice on the tip of your tongue.

I  constrained my voice..exactly on the tip of my lips.

” What are we doing here now?” you asked.

” I dont know, i am here because this is the only way for me to have a chance to talk with you”

You went silent, the pastor stared at us. His eyes went to left as we stared him back.

” The question you have asking me went through to the core our presence, being here”you said.

I was dazed, the pastor looked fluctuate and my hands became numbness.

” I think it will be nice to know a girl with wide economy insight. I mean, for example a girl who working for Economy media or Economy department” you added.

” Why? What the special thing from those kinda girl?”

” Nothing, but it just makes me feel enthusiastic lately” you said.

The pastor took his voice louder, maybe he wanted to throw the microphone on to us.

” So, you do not believe in God” i said.

You went silent and stared at your fingers

”If so, why are you here, at this moment? i asked.

” Dont take this seriously, take this as a pleasure moment” you said.

(In that time, in my little machine called a heart, i am screaming, screaming like i am on the edge of the coast. Pleasure, what the hell of pleasure!!!?? I came along from capital city, i sent a message with many smiles emoticon, i asked you to have sunday time in your favorite small church and i have been here a half hour earlier with fully excitement and you came late about fifteen minutes with  stupid economy conversation, and you want me to take this as a pleasure) But sure, those words were real only in my small machine. I had long long silent.

Now, three years later. I am working in economy department. I have been writing about Indonesian economy since the pleasure stupid conversation in the church.

Out of blue, one hour ago we met in coffee shop near my flat.

You just came back from Germany, two years scholarship.

I have been keeping myself calm since then. Inside of my small machine, i had plenty questions.

I had my sumatran mandheling coffee and you had your, which it is gayo coffee.

The song from Vence Joy ”Riptide” was playing from the corner music speaker.

” Do you know? i will have my wedding party in two months” you said.

The cold coffee shop went freezing, the others visitors looked freezing, my eyeball went spinning to hold the tear, i took a sip of my coffee. A slight bit glimpse of wind came for a second and i am given strength out of nowhere.

” Ah, congratulation. I will come if i am not busy and of course if i have flight budget to Medan” i said.

” Please, dont take this seriously, this time in this coffee shop, the conversation we had in university and in other places, just come to my wedding party” you added.

” I will come, if i have flight budget” i said.

” You are the sweetest girl, like my sister” you said

” Oke, dont pity me. I am fine. I thought you are lighthouse of mine. Then this last minutes, i have been realized since the last word of your that you never see me. Sister? i am not that sweet, and never be that sweet. I love the way you encouraged me in university and it brought me to see you as a my lighthouse, but i have finally know at this moment i am wrong, you were only fatamorgana. You were shining everywhere but never be here with me….so it was hurting me before and i am not trying to make myself feel better but i am feeling relieved now, at least i knew the truth.”

” I trust you” you added

( Inspiration by one of very warming and enlight conversation i had with one of my sweet bestfriend, and she is working in economy region)

Art Cafe Sanur, February 04 2017

The Seven Good Years, Etgar Keret…

etgar-keret
Enter a caption

Etgar Keret, sejauh ini Etgar Keret masih satu-satunya penulis Israel yang aku tahu dan aku baca. The Seven Good Years adalah buku kedua Keret setelah Missing Kissinger yang aku pernah  nikmati. Sebuah memoar dari seorang Keret. Tujuh tahun terhitung sejak kelahiran putranya hingga kematian Ayahnya. Sejujurnya, untuk aku yang belum tahu banyak tentang Keret, memoar ini sedikit lebih lunak dibandingkan buku Missing Kissinger. Namun jangan bayangkan gaya akrobatik Keret atau cara dia melucu sirna begitu saja, sama sekali tidak. Narasinya seperti seorang pemain sirkus yang hobi melompat, mengalir penuh kejutan dan hiburan yang pasti mengundang tawa disertai gerakan bibir ke kiri dan ke kanan.

Ada satu hal yang sangat menarik yakni cara Keret memulai buku ini. Ia menceritakan kelahiran anak lelakinya, Lev, di sebuah rumah sakit pinggiran kota Tel Aviv. Ketika istrinya tengah berjuang melahirkan maka sekumpulan korban perang Israel  juga mulai memenuhi rumah sakit. Dimana ada perang disitu ada media. Sekumpulan wartawan mulai sibuk mencari korban dan keluarga untuk dimintai keterangan. Seorang wartawan menemui Keret, wartawan tersebut penuh semangat menanyai Keret ”Dimana kamu saat ledakan itu terjadi?” ( Ah wartawan ini tampaknya agak bosan, langsung saja ia bertanya begitu), kemudian Keret berkata bahwa ia bukan korban dan ia berada disini karena menemani istrinya yang akan melahirkan. Wartawan tersebut kehilangan antusiasmenya. Aku sudah berharap jawaban yang visioner dari seorang penulis tapi sayangnya anda bukan korban kata wartawan tersebut.

Keret berpikir, apa yang visioner dari sebuah peperangan? dari seorang anak korban holocaust Yahudi di daratan Eropa? Keret ialah generasi kedua dari genosid NAZI, kini ia tinggal di Tel Aviv dan mengajar di pinggiran kota yang langitnya kerap dihiasi rudal perang.

Membaca karya Keret, kita disuguhi sebuah kerinduan akan Timur Tengah yang tanpa perang, hal tsb dapat dilihat dari sekumpulan cerita pendek yang penuh makna dalam. Ada sebuah cerita tentang Angry Birds. Keret, istrinya dan putranya keranjingan permainan burung marah tersebut. Kemudian ibunya agak sinis dengan kegemaran mereka tersebut. ”Apa yang kalian suka dari sebuah cerita dimana burung-burung diterbangkan hanya untuk menghancurkan rumah-rumah babi hijau?” tanya ibunya.

 

”Aku suka semangatnya, dimana para burung-burung ini mengorbankan diri demi memusnahkan babi gemuk”, jawab Keret

”Iya, tetapi burung-burung itu diterbangkan hanya untuk membunuh anak-anak dan istri babi hijau yang tidak tahu apa-apa”, jawab Ibunya

”Tapi diawal cerita babi-babi hijau tersebut mencuri telur-telur burung” sela Istri Keret

”Nah itu benar”, teriak Keret

”Atau tepatnya, ini adalah permainan yang mengajarkan mu membunuh siapa saja yang mencuri milikmu dan meruntuhkan nyawa yang tak bersalah” jawab Ibu Keret

Dari sepotong dialog diatas terlihat bahwa burung-burung marah tersebut menghajar babi- babi hijau gemuk, babi hijau gemuk ialah pemodal kaya yang hidup enak didalam rumah dengan dolar hijau sedangkan burung-burung ialah lawan si babi yang direnggut telurnya.

Angry Birds bagi ibu Keret dan keluarga Keret ialah game yang sarat dengan nilai fundamentalis, dimana jika ada yang melukai nilai mu maka kematian ialah upah pantas. Baik di Israel, Iran, Palestin bahkan di Indonesia, hal tersebut kian marak. Kita akan mati kebakaran jenggot jika seseorang menghina nabi kita, merobek harga diri agama kita, mengibarkan bendera tetangga kita, kematian, penjara, hinaan balik semua itu adalah cara para pemarah memberikan upah.

Menjadi Ayah, menjadi penulis kondang di Polandia ( negara dimana Ibu Keret berhasil bebas dari serangan NAZI dan diselamatkan kembali ke Israel), kehilangan Ayahnya akibat kanker lidah disebut oleh Keret adalah Tujuh Tahun yang baik, ironis bukan, anak lelaki mu lahir ditengah pengeboman dan Ayahmu pulang ke keabadian dan kau sebut itu tujuh tahun yang baik. Dan segala semangat seorang Family Man dan seorang yahudi yang rindu perdamaian antara Israel dengan para tetangganya, seorang penulis yang mengkritik pedas pemerintahan Netanyahu, dan dialah Etgar Keret.

LUPA

Forget 1

Suatu pagi yang tampak biasa seperti pagi kebanyakan. Bunyi pesan berdering di telefon genggam. Kau melontarkan sebuah teori.Sebuah teori tentang lupa. Menurut Hermann Ebbinghaus dalam teori kurva lupa. Kita bisa merumuskan perkara lupa dan ingat. Sebenarnya, aku antara mengantuk dan mencoba paham akan isi pesan mu. Menurut Hermann rumusnya ialah :

R : e T/S

Retensi Ingatan ialah waktu dibagi kekuatan relative sebuah ingatan.

Aku bertanya, jika S ialah kekuatan relative sebuah ingatan maka akan ada faktor yang mempengaruhi nilai S. Apakah faktor tersebut? Kau menjawab dalam pesan bahwa ada dua teori dalam upaya manusia untuk mempengaruhi nilai S. Antara lain ialah teknik mnemonic dan pengulangan berkala.

Aku menghela nafas. Antara kantuk yang mulai hilang dan sinar matahari yang menyusup lewat tirai dan menimbulkan silau. Dalam batin aku mulai berpikir. Gerangan apalah yang menghantam mu hingga tengah malam waktu di negeri mu kau membicarakan teori Hermann Ebbinghaus.

Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan? “tanya ku”

Begini, aku terkadang suka dan tidak suka dengan kemampuan manusia melupakan. Kita manusia cepat sekali melupakan. Kita meningglkan banyak hal yang berharga di masa yang lewat. Waktu itu, sekitar dua tahun lalu dalam sebuah siang yang segar dan suara riak danau yang tenang, aku melihat wajah mu dengan seksama. Aku pikir begini, sebaiknya aku mengamati dengan seksama. Tulang pipi mu, bola mata mu, warna kulit mu, bahkan aku mencoba merumuskan wawangian vitamin rambut mu. Aku tidak ingin melewatkan satu detail pun.

Pagi ini, aku bangun dari tidur. Aku menyadari satu fakta baru. Aku sudah melupakan banyak fragmen ingatan itu. Aku terbangun dalam kesedihan. Kau tahu, aku ingin meningatmu. Sekalipun, aku meminta kau mengirimkan gambarmu, aku melihat model rambut baru mu. Tapi tetap saja dalam sepuluh menit aku kembali lupa. Dan, aku membenci hal itu. Itu sebuah kemmapuan yang ingin aku lawan.

 

Aku menarik nafas, antara senang atau beban.

Sebenarnya tidak masalah bagi ku dilupakan. Toh, hidup selalu begitu. Kita bisa melupakan sebagian besar mungkin hampir semua tapi aku selalu yakin akan ada satu fragmen yang tertinggal. Mustahil mengingat semua. Sekalipun oleh sebuah repetisi yang sempurna.

 

Apakah kau masih mengingat sesuatu dari ku? “tanya mu”

Tentu. Tidak banyak lagi memang. Tapi mengingatmu tidak sulit dan itu sudah cukup untuk ku.

 

Saat itu dini hari, saat kau harus terbang meninggalkan Medan. Aku masih dibanjiri kantuk yang berat. Kepergianmu membuatku berusaha melawan kantuk, saat aku sarapan pagi sebuah kupu-kupu besar menempel di dinding apartemen ku. Aku ingat aku mengirimkan gambarnya kepadamu. Saat itu, aku mulai menyibukkan diri membaca. Memasukkan makanan ke mulut ku, menyeruput kopi, tapi segera aku sadari sesuatu hal. Aku bagai sebuah kemeja satin yang lepas dari gantungan dan terjatuh di almari, kusut dan perlu segera dirapikan. Begitu kisut dan tak bertenaga.

Kau belum lupa. Kau masih mampu mengingatnya. Itu menyenangkan.

Tidak, aku tidak mengingat banyak.

Aku punya sebuah pertanyaan terakhir. Apakah menurut mu kita akan bertemu lagi?

Ahh, manusia ini memang sulit yah. Kita bisa saja bertemu di kota lain. Toh kau dan aku bekerja. Tetapi kita juga ditarik dan menarik banyak hal sehingga memang hal-hal dari masa lalu seperti sesuatu yang kita tunda atau tidak lagi menjadi utama. Terkadang, aku berpikir mungkin kelak aku akan berkunjung ke negeri mu untuk berjalan-jalan dan memberi buku kepadamu. Namun nampaknya, aku juga tidak ingin segera melaksanakannya. Dan aku juga yakin kau merasakan hal yang serupa. Kita manusia memang begitu. Kita menginginkan banyak hal. Ingin menyimpan sebanyak mungkin. Tapi kita tidak diciptakan untuk mewujudkannya. Mungkin lebih baik begitu.

 

Aku ingin bertemu dengan mu. Terkadang ada niatan berlibur dan membaca di tepi danau dengan mu. Melakukan repetisi nyata. Tetapi seketika ingatan akan pedihnya membayangkan aku di pagi hari selepas kau pergi juga menghantam keberanian ku. Aku kadang juga berpikir, lebih baik segala sesuatu sekali saja dan selebihnya adalah kenangan. Tetapi jangan berpikir aku ingin melupakan mu. Sekalipun kau tidak boleh berpikir begitu.

 

Aku tersenyum.

 

Kau harus segera tidur. Mungkin membakar dedaunan supaya lebih santai dan ringan.

Kita manusia berjuang melawan sifat alamiah kita sendiri, ujar mu.

 

F,

 

Denpasar,

19 Agustus 2016