The Seven Good Years, Etgar Keret…

etgar-keret
Enter a caption

Etgar Keret, sejauh ini Etgar Keret masih satu-satunya penulis Israel yang aku tahu dan aku baca. The Seven Good Years adalah buku kedua Keret setelah Missing Kissinger yang aku pernah  nikmati. Sebuah memoar dari seorang Keret. Tujuh tahun terhitung sejak kelahiran putranya hingga kematian Ayahnya. Sejujurnya, untuk aku yang belum tahu banyak tentang Keret, memoar ini sedikit lebih lunak dibandingkan buku Missing Kissinger. Namun jangan bayangkan gaya akrobatik Keret atau cara dia melucu sirna begitu saja, sama sekali tidak. Narasinya seperti seorang pemain sirkus yang hobi melompat, mengalir penuh kejutan dan hiburan yang pasti mengundang tawa disertai gerakan bibir ke kiri dan ke kanan.

Ada satu hal yang sangat menarik yakni cara Keret memulai buku ini. Ia menceritakan kelahiran anak lelakinya, Lev, di sebuah rumah sakit pinggiran kota Tel Aviv. Ketika istrinya tengah berjuang melahirkan maka sekumpulan korban perang Israel¬† juga mulai memenuhi rumah sakit. Dimana ada perang disitu ada media. Sekumpulan wartawan mulai sibuk mencari korban dan keluarga untuk dimintai keterangan. Seorang wartawan menemui Keret, wartawan tersebut penuh semangat menanyai Keret ”Dimana kamu saat ledakan itu terjadi?” ( Ah wartawan ini tampaknya agak bosan, langsung saja ia bertanya begitu), kemudian Keret berkata bahwa ia bukan korban dan ia berada disini karena menemani istrinya yang akan melahirkan. Wartawan tersebut kehilangan antusiasmenya. Aku sudah berharap jawaban yang visioner dari seorang penulis tapi sayangnya anda bukan korban kata wartawan tersebut.

Keret berpikir, apa yang visioner dari sebuah peperangan? dari seorang anak korban holocaust Yahudi di daratan Eropa? Keret ialah generasi kedua dari genosid NAZI, kini ia tinggal di Tel Aviv dan mengajar di pinggiran kota yang langitnya kerap dihiasi rudal perang.

Membaca karya Keret, kita disuguhi sebuah kerinduan akan Timur Tengah yang tanpa perang, hal tsb dapat dilihat dari sekumpulan cerita pendek yang penuh makna dalam. Ada sebuah cerita tentang Angry Birds. Keret, istrinya dan putranya keranjingan permainan burung marah tersebut. Kemudian ibunya agak sinis dengan kegemaran mereka tersebut. ”Apa yang kalian suka dari sebuah cerita dimana burung-burung diterbangkan hanya untuk menghancurkan rumah-rumah babi hijau?” tanya ibunya.

 

”Aku suka semangatnya, dimana para burung-burung ini mengorbankan diri demi memusnahkan babi gemuk”, jawab Keret

”Iya, tetapi burung-burung itu diterbangkan hanya untuk membunuh anak-anak dan istri babi hijau yang tidak tahu apa-apa”, jawab Ibunya

”Tapi diawal cerita babi-babi hijau tersebut mencuri telur-telur burung” sela Istri Keret

”Nah itu benar”, teriak Keret

”Atau tepatnya, ini adalah permainan yang mengajarkan mu membunuh siapa saja yang mencuri milikmu dan meruntuhkan nyawa yang tak bersalah” jawab Ibu Keret

Dari sepotong dialog diatas terlihat bahwa burung-burung marah tersebut menghajar babi- babi hijau gemuk, babi hijau gemuk ialah pemodal kaya yang hidup enak didalam rumah dengan dolar hijau sedangkan burung-burung ialah lawan si babi yang direnggut telurnya.

Angry Birds bagi ibu Keret dan keluarga Keret ialah game yang sarat dengan nilai fundamentalis, dimana jika ada yang melukai nilai mu maka kematian ialah upah pantas. Baik di Israel, Iran, Palestin bahkan di Indonesia, hal tersebut kian marak. Kita akan mati kebakaran jenggot jika seseorang menghina nabi kita, merobek harga diri agama kita, mengibarkan bendera tetangga kita, kematian, penjara, hinaan balik semua itu adalah cara para pemarah memberikan upah.

Menjadi Ayah, menjadi penulis kondang di Polandia ( negara dimana Ibu Keret berhasil bebas dari serangan NAZI dan diselamatkan kembali ke Israel), kehilangan Ayahnya akibat kanker lidah disebut oleh Keret adalah Tujuh Tahun yang baik, ironis bukan, anak lelaki mu lahir ditengah pengeboman dan Ayahmu pulang ke keabadian dan kau sebut itu tujuh tahun yang baik. Dan segala semangat seorang Family Man dan seorang yahudi yang rindu perdamaian antara Israel dengan para tetangganya, seorang penulis yang mengkritik pedas pemerintahan Netanyahu, dan dialah Etgar Keret.

Advertisements