Sang Arsitek dan Seekor Anjing yang Meloncat Bunuh Diri

Jakarta for wordpress

Suatu pagi di ibukota, penduduk komplek sebuah apartemen dihebohkan dengan seekor anjing yang terjun dari lantai 17. Anjing Golden dewasa berwarna cokelat muda tersebut menggelepar sebelum mati dengan darah mengalir kental dari tempurung kepalanya.

Penduduk apartemen tersebut mengeluarkan berbagai reaksi. Ada yang meneriakkan nama tuhan, ada yang menutup mulutnya, sebagian lagi menutup mata  ngeri, beberapa berlari ketakutan, ada  yang diam mematung, satu dua orang renta yang memasang mimik berduka.

Muncul lah suara-suara yang berisikan berbagai pertanyaan, Ah, anjing malang siapa ini? atau, Ya ampun, siapa yang tega melempar anjing ini dari ketinggian? atau, ada juga yang menanyakan bagaimana cara menyingkirkan anjing tersebut hingga bisik-bisik yang menggema tentang siapa yang seharusnya membersihkan tubuh tak bernyawa anjing tersebut.

Kemudian satu per satu gerombolan tersebut berkurang jumlahnya, ada yang kembali sibuk dan tergesa-gesa menuju kantor, ada yang kembali sibuk seksama bermain ponsel, ada yang segera melangkah terburu-buru menuju ke swalayan kawasan tersebut, ada yang  kembali mendorong kereta bayi atau juga satu dua lansia yang menatap nanar tanpa tenaga.

Petugas keamanan pun datang dan membersihkan darah milik anjing tersebut kemudian membawa tubuh anjing tak bernyawa itu ke halaman kantor miliknya. Ia nampak pusing setengah mampus tentang bagaimana dan dimana ia harus menguburkan tubuh anjing itu. Sesekali ia menatap iba kepada mayat golden yang tampak agak kurus itu. Ia berjalan mondar mandir tampak sedang memutar  otaknya yang tak besar besar amat itu,  sekali lagi ia memikirkan dimana ia akan menguburkan anjing tersebut.

Ia pun mencoba mengingat-ingat siapa tuan anjing tersebut. Sungguh ia mulai kehabisan akal. Ia terus berputar-putar di sekeliling mayat anjing tersebut.

Kemudian ia pun meneriakkan sebuah nama, Tuan A. Ia ingat sekarang. Tak salah lagi pikirnya. Tuan A ialah seorang juru foto yang beberapa kali ia lihat mengajak anjing tersebut berkeliling malam-malam di sekitar taman apartemen tersebut dengan rantai melingkari leher anjing golden itu dan ia juga ingat tentang laporan penghuni kamar lain bahwa ada suara lolongan anjing yang menggangu malam-malam penghuni lain yang berasal dari kamar Tuan A.

Ia memutuskan naik menuju lantai 17.

Setelah menekan tombol naik sebanyak tujuh kali dan berbelok ke kanan sebanyak dua kali kini ia sampai di depan apartemen milik Tuan A.

Ia mengetuk dan mengetuk daun pintu, mengetuk sekali lagi. Suara langkah mendekat ke pintu terdengar sayup dari dalam ruangan. Pintu terbuka sedikit. Bayangan tubuh  lelaki memantul ke dinding namun tubuh lelaki tersebut tak keluar dari balik daun pintu. Lelaki di balik pintu tersebut bersuara.

“Begini Tuan A, aku tahu itu kau. Anjing cokelat muda mu pagi ini terjun dari balkon  mu. Banyak saksi yang melihatnya, beberapa penghuni yang sedang berlari pagi menyaksikannya. Anjing mu melompat kemudian melayang-layang di udara hingga mendaratkan kepalanya di aspal. Apakah kau sudah tahu?”

“Iya, aku sudah tahu”

“Ah kalau begitu aku tak perlu menyulitkan diri ku sendiri. Sebaiknya kau ambil mayatnya di halaman belakang ruang keamanan dan kuburkan dia”

“Dimana menurut mu sebaiknya aku menguburkannya?”

“Kau ini sengaja yah mengajak ku pusing?”

Tuan A tetap berada di balik pintu dengan bayangannya yang memantul di dinding putih. Petugas keamanan itu menggosokkan kedua kakinya ke lantai, ia agaknya mulai kehabisan rasa sabar dan sesungguhnya ia belum sarapan dan agak lapar.

“Begini Tuan A, ini masih jam tujuh pagi. Aku masih harus memeriksa beberapa anggota ku yang bekerja, menikmati bekal nasi goreng buatan anak perempuan ku dan  segelas kopi hitam yang pasti sudah tidak panas lagi jadi aku mohon jangan paksa aku ikut memikirkan dimana kau harus menguburkan anjing mu”

“Apakah menurut mu aku boleh menanam tubuhnya di halaman belakang ruang keamanan mu?”

“Apa? Apa kau sudah hilang akal? Halaman belakang ruang keamanan itu ialah bagian dari halaman Masjid kawasan ini. Itu dilarang.”

“Bapak Petugas keamanan, siapakah nama mu?”

“Aduh, aduh, apa peduli mu siapa nama ku? Sudah tiga tahun kau menghuni apartemen nyaman ini dan tak sekalipun kau tersenyum dengan ku dan sekarang kau mau tahu nama ku. Ini pasti karena kau ada mau dengan ku!”

“Aku Tuan A. Anjing itu, namanya Retro. Ia sungguh anjing yang manis. Kami sudah bersama selama lima tahun. Aku mengambilnya saat ia berusia satu tahun dari pinggir kota.”

Petugas keamanan tersebut mulai melepas topi seragamnya dan memukul kan topi tersebut ke daun pintu sebanyak tiga kali.

“Hey, hey, aku tidak mau tahu cerita tentang anjing mu itu. Yang aku inginkan sederhana yakni kau ikut bersama ku ke bawah dan bawa mayatnya entah kemana dan kuburkan” teriak petugas sekuriti tersebut

“Retro awalnya adalah anjing yang manis dan suka berlari. Saat aku tinggal di pinggir kota kami selalu berjalan bersama di  taman kota. Ia menjadi murung sejak aku memutuskan tinggal di gedung ini. Setiap malam ia menggonggong ribut, aku sudah berusaha mengajaknya berjalan di taman gedung ini namun ia malah semakin murung. Menurut mu kenapa ia begitu?”

“Ya Ampun, Tuhan tolonglah aku. Aku tahu Tuan A kau sedih anjing mu mati tapi sungguh aku mulai lapar dan aku takut sebentar lagi petugas rumah ibadah itu mengamuk ke ruangan ku jadi tolonglah kau turun dan bawa mayat anjing mu itu, sekali lagi aku minta tolong”

“Kau tahu Tuan Keamanan, Retro beberapa kali melihat ke bawah balkon saat aku merantainya disana. Ia melonglong panjang ke arah bawah. Aku merasa kasihan. Mungkin ia bosan hidup di kotak-kotak gedung tinggi ini dan merindukan taman-taman pinggir sungai serta sekelompok anak-anak yang mengajaknya bermain. Ia terus menatap ke arah bawah balkon seolah ia tahu jalan menuju ke pinggir kota. Aku terus merantainya karena aku takut ia sungguh-sungguh lari. Retro adalah anjing yang setia. Apakah kau percaya ia setia, Tuan Keamanan?”

“Baik, baik. Aku tahu ia manis dan setia. Ia begitu menggemaskan tapi sekarang ia perlu dikuburkan”

“Pagi ini, pukul lima pagi. Ia menggonggong ribut. Aku sudah tiga tahun mengalami kesulitan tidur. Aku baru tidur satu jam saat ia menggonggong ribut di ruang televisi. Aku bangun dan memberikannya sarapan dan mengikatnya di balkon. Awalnya, ia sedikit tenang kemudian ia kembali ribut dan aku terbangun lagi. Aku benar-benar tidak sadar sepenuhnya saat aku melihatnya menatap penuh harap dengan mata basah ke bawah balkon, sungguh, aku berpikir membuka rantainya akan membuat ia senang sehingga aku bisa tidur barang sejam atau dua jam. Kau tahu, aku harus bekerja kembali pukul sepuluh ini.” Ujar Tuan A di balik pintu.

“Baiklah, Tuan A. Sekali lagi aku meminta tolong, tolong kuburkan anjing mu, aku bersungguh-sungguh.”

“Tuan Keamanan, apakah kau pernah berkuliah? Apakah kau menyukai pekerjaan mu?”

“Ahhhh, apa mau mu?” teriak Petugas keamanan itu

“Baiklah Tuan Keamanan. Jika kau tak mau memberi tahu nama mu setidaknya jelaskan lah sedikit tentang mu” ujar pria dibalik pintu tersebut

“Apa hubungannya siapa aku dan anjing itu?”

“Tuan Keamanan, aku tahu kau orang baik tapi sungguh aku bukan juru foto yang kau kenal. Aku ini dahulu belajar arsitektur di sekolah ternama. Aku tinggal di kota yang dingin dan selalu hujan. Awalnya, aku ingin sekali hidup di Bulgaria, aneh ya? tapi jujur, aku selalu ingin hidup disana. Kemudian aku berpikir bekerja di ibukota akan membuat tabungan ku cukup untuk bisa terbang ke Bulgaria. Aku sungguh tidak menyangka aku akan terjebak dan terkunci disini. Sungguh, aku rasa Retro menganggap ku penipu. Retro sudah lama aku janjikan akan ikut bersama ku ke Bulgaria. Ternyata, setiap mahluk hidup memiliki pertahanan batas akhir yah.” Ujar lelaki itu pelan

“Aduhhhh, baiklah sekarang kau buka pintu ini dan aku akan memaksamu turun” Ujar Petugas Keamanan tersebut memaksa

“Bersabarlah, Tuan. Cerita ku tidak lama lagi. Di kantor ku, aku seorang arsitek. Mereka menyuruhku membangun gedung-gedung. Kau tahu setiap gedung yang mereka bangun akan membuat ku semakin muak dan karena itulah aku membawa kamera kemana-mana tapi benar aku bukan juru foto. Aku membawa kamera untuk menangkap gambar gedung-gedung tinggi dan menertawakan rancangan serta tata kota. Kau tahu, di kota-kota besar ini semua tidak sinkron. Terkadang di samping gedung bergaya mediterania akan berdiri bangunan bergaya minimalis dan lebih lucu lagi di sebelah rumah sakit akan ada mega diskotik serta pusat perbelanjaan dan parahnya di sebelah taman yang mereka bangun hanya akan ada got-got yang mereka sebut sungai. Mereka menipu Tuan, aku sungguh-sungguh seorang arsitek bukan juru foto” ujar suara di balik pintu tersebut.

“Ahhhhh kau ini banyak bicara, kau buka tidak pintu ini?” teriak satpam itu sekali lagi

“Baiklah Tuan Keamanan, jika sekarang aku ikut ke bawah bersama mu. Berikan aku sedikit bantuan dimana aku akan mengubur Retro.”

“Aduh persetan, aku sungguh lapar dan muak.”

“Kau bukan muak, kau mengalami hal yang sama dengan ku, Tuan. Kita dilanda rasa pusing dan jengah. Kita tidak tahu dimana akan bergerak di kota ini. Bahkan anjing saja pun rela terjun demi jalan keluar  dari gedung memuakkan ini dan ditambah lagi realita bahwa kita tidak tahu akan dikuburkan dimana mayat kita setelah kita mati. Kota ini tidak baik bukan hanya kepada yang bernyawa bahkan kepada yang tidak bernyawa.”

“Tuan A, jika kau depresi atau kau tengah gila sebaiknya kau sendiri saja jangan kau ajak aku berpikir keras seperti mu. Masalah ini sederhana. Anjing mu tidak tahu bahwa ia melompat dari ketinggian, kemudian ia kehilangan nyawa dan kita harus menguburnya jika kita tidak memiliki sepetak tanah untuk menguburnya maka kita bisa membakarnya atau membuangnya ke sungai” ujar Tuan Keamanan lemas

“Baiklah, Tuan Keamanan. Aku akan mengambil Retro. Aku akan memandikannya dan memikirkan bagaimana ia seharusnya dimakamkan, sungguh ia anjing yang manis. Tapi sesungguhnya, apakah kau tidak pernah berpikir untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kota ini?”

“Dengar yah, Tuan A. Kau ini naif sekali. Jika kau arsitek dan muak merancang gedung pencakar langit maka kau bisa pulang ke pinggir kota atau menjual apartemen mu ini dan lari ke Bulgaria. Kau masih punya harta dan keahlian. Kau masih bisa bertahan di sini atau dimana pun. Kau tahu, aku juga dulu berkuliah, aku seorang sarjana hukum. Uang ku habis sehingga aku tidak bisa mengikuti sekolah lanjutan untuk menjadi pengacara atau notaris. Belum lagi aku menikah dan memiliki tiga anak perempuan. Menurutku, impian ku menjadi pengacara harus dikubur dan disinilah aku, menjadi petugas keamanan selama dua belas jam  setiap hari dan menjadi tukang ojek selama tiga jam dimalam hari. Aku tidak punya uang seperti mu dan rentenir sering menjebol pintu rumah kami sehingga aku tidak sempat memikirkan dimana aku akan dikuburkan setelah mati, sungguh aku tidak sempat dan sungguh aku tidak berbohong, aku seorang sarjana hukum” ujar Petugas Keamanan tersebut pelan dan memelas

“Baiklah, Tuan Keamanan. Maafkan Retro dan aku. Sungguh ia adalah anjing yang manis” Ujar Tuan A seraya membuka daun pintu.

 

Denpsar, 28 Juli 2017

 

 

 

Advertisements

A Blossom’s story

Hans3

Musim semi, suatu musim tatkala daun pelan-pelan kembali lahir dan menghijau, Musim dimana kuncup bunga-bunga bermekaran, rerumputan bergoyang perlahan bersamaan dengan sinar matahari yang muncul kembali dari balik cakrawala.

Musim semi juga musim dimana anak-anak sekolah menyingsing ransel sambil membicarakan rencana memancing dan bersepeda di sore hari.Musim saat ikan-ikan melompat gembira karena manusia melemparkan makanan ke pinggir danau.Musim yang kembali melahirkan harap serentak dengan berlalunya musim hujan yang selalu menenggelamkan manusia di balik selimut dengan cokelat hangat di meja sebelah ranjang.

Musim semi ialah musim perayaan akan permulaan. Untuk Sahira musim semi bukan hanya tentang permulaan, musim semi juga bermakna kerelaan.Tiga tahun sebelumnya pada sebuah musim semi di dekat danau.

Hari itu, Sahira dan Firoz memutuskan menjauh dari hiruk pikuk kota besar. Pergi menuju sebuah desa di pinggir danau. Di sanaterhampar padang rumput hijaupenuh bunga liar yangtengah mekar dengan sempurna. Di tengah perjalanan tersebut keduanya sesekali menertawakan orang-orangkotayang kerap melewatkan musim mekarnya bunga-bunga di sekitar mereka.

Dengan skuter matik, mereka menyusuri setapak. Di ujung jalan yang sempit, Firoz menaruh roda dua yang ia sewa dari penduduk lokal. Sahira gembira setengah mampus dan Firoz tertawa kecil melihat keriangan Sahira yang tak dibuat-buat.

Firoz berjalan dua langkah di belakang Sahira, membawa sebuah tas berisi dua buah botol minum, satu kotak semangka dan dua buah buku yang tengah mereka baca.

Hans1

“Aku bahagia,” ucap Sahira.

“Aku juga,” balas Firoz, tersenyum.

“Kenapa kau bahagia?”tanya Sahira sambil terus berjalan.

“Berada di padang rumput, di bawah bukit, di tengah bunga-bunga liar bermekaran dan gadisku yang tersenyum tanpa henti dibekali sekotak semangka dingin yang mulai hangat.Ini sempurna sayang.”

“Kau suka bunga?”sahira melemparkan tanya tanpa menghentikan langkahnya.

“Tentu, aku tidak punya alasan untuk membenci mereka.”

“Suatu ketika, aku bertemu seorang pria Yunani.Lelaki itu percaya bahwa setiap perempuan memiliki bunga mereka sendiri. Aku hanya menjawab iya, karena  pria tersebut terus mendongeng. Aku tanya juga padanya, bagaimana aku tahu bunga yang hidup di dalam diriku? Kau tahu apa jawabannya?,” Sahira terus bercerita.

“Apa?”

“Ia berasumsi bahwa semua bunga itu cantik apalagi saat mereka tengah bermekaran.Dan ketika kau bertemu satu bunga kemudian hatimu riang gembira, niscaya bunga itu ialah bunga keberuntunganmu,” kata perempuan itu sambil berhenti sekejap sambil menoleh ke Firoz yang sudah berada di sampingnya.

“Hahahaha, kau kan riang dengan semua bunga. Kemarin kau bilang kau akan menanam bunga matahari, minggu lalu kau membeli biji lavender. Kemudian mawar-mawar milikmu pun kau ajak bicara. Jadi yang mana milikmu?” tawa Firoz pecah yang membuat mukanya terlihat sedikit merah muda.

“Ah kau jangan tertawa dulu.Aku belum usai.Jadi dia bilang, bahwa perempuan yang lahir di bulan Maret memiliki kedekatan dengan bunga Daffodil.Menurutnya, perempuan di bulan Maret ialah mereka yang berani dan indah seperti puisi. Dari kedua telapak tangan perempuan Maret  akan ada kesembuhan-kesembuhan. Saat itu aku berpikir mungkin dia ada benarnya.Maksudku, dia waktu itu tidak tahu jika aku mahasiswa kedokteran, bisa jadi dia tidak mendongeng.”

Firoz mulai mengambil posisi di bagian tanah yang agak datar.Dilebarkannya kain piknik warna coklat muda sambil tetap menjawab Sahira yang masih antusias bercerita.

“Jika Daffodil adalah bungamu, kenapa kau tidak mencoba menanamnya?”

“Bunga Daffodil agak sukar ditanam. Aku belum pernah melihat bibitnya dijual di kota kita. Kata pedagang bunga mereka mendapatkan Daffodil dari pegunungan di Pulau Jawa,” kata Sahira.

“Baiklah, apa aku boleh memelukmu?”Pertanyaan Firoz sambil menarik lembut tangan kekasihnya itu sekaligus menghentikan pembahasan tentang bebungaan.

Sahiramerebahkan tubuhnya dalam dekap hangat kekasihnya.Kekasih paling lembut dan bersahaja yang memeluk dan terus membelai lembut rambutnya.Desah nafas mereka terdengar tanpa jarak.Suara semilir angin menjadi nada pengiring yang dengan murah hatidipersembahkan oleh alam.Bunga-bunga liar seakan menjadi penari latar yang bergoyang mengikuti angin.

Sahira duduk kemudian membalikkan badannya untuk menatap kekasihnya tersebut

“Terimakasih,” ucapnya setengah berbisik.

“Aku yang berterimakasih.Aku ingin berteriak ke seluruh penduduk danau ini bahwa gadis di depanku ini begitu indah,” balas Firoz.

“Kau boleh berteriak.Bunga-bunga yang mekar akan menangkap kata-katamu, dan aku akan mekar di antara kelopak bunga-bunga liar ini.”

Firoz berdiri, tersenyum dan berteriak ke bentang danau yang sedang sepi sore itu.

“Oh musim yang bermekaran, terimakasih alam dan semesta.Bunga mekar dan gadis periang membikin aku lahir kembali….’’ tanpa malu-malu Firoz berteriak hingga parau.

“Hahahaha,” Sahira merasa geli.Dia ikut tertawa, lalu berdiri dan memeluk Firoz lekat.

Dalam pelukannya yang masih erat, Firoz berbisik ke telinga Sahira, “Ini bulan kelahiran mu, Sayang, kita harus merayakannya.”

“Bagaimana kita merayakannya?”

“Ah, aku akan memasang sebuah lagu dan mari bergoyang.”

“Hmm, karena ini adalah hari jadiku, aku yang akan memilih bagaimana cara kita menikmatinya. Kau harus setuju,” balas Sahira.

“Baiklah.Bagaimana kau ingin melewati sore ini sayang?”

“Mungkin akan menyenangkan jika mendengar kau menyanyikan lagu kegemaranku,” pinta Sahira.

“Oh Tuhan.Sudah kuduga. Kau akan merengek untuk melihat aku tampak bodoh dengan menyanyi. Sumpah demi apapun, aku tidak memiliki suara yang pantas dikumandangkan dan lagian aku tidak tahu nada, aku akan malu.”

“Yah, begitulah caraku menikmati kejutan kecilmu ini,” Sahira tersenyum yang membuat Firoz tak punya daya menolak permintaannya.

“Baiklah, akan kucoba tapi aku sedikit menawar ya.”

“Hmm, apa?.”

“Aku akan memutar lagu kesukaanmu dan mengikuti mereka bernyanyi.Boleh ya?”

“Hahaha, boleh,” jawab Sahira.

Lelaki itupun memutar lagu “Affection” milik Ciggarettes After Sex sambil melantunkan liriknya dengan lembut. Tepat di bagian refrain, Sahira menghentikan pemutar musik dan lelaki itu terus bernyanyi meski suaranya sedikit lebih pelan.Dan wajahnya, kembali memerah dengan senyum yang menggantung malu-malu.

 

Siang itu, saat matahari bergerak perlahan menuju Barat mereka larut menikmati lantunan lagu tersebut dengan latar bunga-bunga yang mekar dan angin lembut yang menghisap keringat mereka berdua.Sesekali Firoz menyapu peluh yang mengalir bersembunyi di antara rambut Sahira.

Kemudian, Firoz mengeluarkan sebuah buku yang di bungkus kertas cokelat.

“Selamat ulang tahun, gadis bunga Daffodil yang mekar di bulan Maret,” katanya masih dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya.

“Ahhhhhhh, ulang tahunku masih satu minggu lagi.Ini terlalu cepat,” jawab Sahira.Wajahnya sumringah.

“Hahaha. Aku akan memasak di hari ulang tahunmu dan nona di depanku ini akan menjadi bos besar di hari itu. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan buku ini untukmu.Berada di sini diantara alam yang begitu hangat bersamamu selalu menjadi kesukaanku. Di halaman terakhir buku ini ada sesuatu yang selalu ingin aku ungkapkan, tapi kau tahu kan, aku ini tidak pandai berbicara banyak sepertimu. Aku juga tidak cukup bisa merangkai kata ala penulis, jadi jangan tertawakan ya,” kata lelaki itu dengan sedikit malu-malu.

“Hahahaha.Kalau jelek, kau akan aku hukum,” jawab Sahira sambil tertawa.

“Hmm, ada satu lagi berarti yang lupa disebutkan oleh pria Yunani itu.Bahwa gadis yang lahir di bulan Maret suka mengancam,” kata Firoz sambil memeluk kekasihnya.

“Hahahaha,” Sahira tertawa sambil jemarinya bergerak lincah membuka bungkus kertas cokelat itu.

Hans2

Sebuah musim semi yang manis dan penuh dengan tawa. Kegirangan yang ringan memadu dengan keindahan alam.Musim semi bagai rasa jatuh cinta yang baru, yang lahir dengan semarak dan penuh loncatan-loncatan rasa sukacita.

Hari berganti malam.Malam yang lahir dari keabadian yang bersembunyi di balik rembulan.Bulan yang menggerakkan ikan dan lautan. Hari berganti nama jadi minggu dan minggu berganti seragam menjadi bulan. Lalu, waktu melahirkan kegirangan yang tiada bisa dilukiskan.Tetapi, begitupun waktu jugalah yang menelan manusia dan kebahagian yang mereka usahakan.

Musim semi tersebut mereka lewati bukan hanya dengan pelukan, berbagai lagu kesukaan danbuku-buku melainkan juga dengan realita bahwa pada tiap manusia ada cinta dan impian.Demi impian itu pula, para kekasih sering kali harus berjalan pada dua arah yang tak bisa beriringan.

Ketika manusia jatuh cinta mereka kerap berlagak bagai anak-anak.Namun manusia yang sadar dan bertumbuh adalah dua orang dewasa yang dianugerahi impian dan kesempatan. Dan atas nama impian dan kesempatan itu pula, musim semi – musim semi berikutnya harus mereka lewati di dua benua yang saling berjauhan.

Bunga yang bermekaran bersama sebuah buku akan selalu menjadi sepenggal kisah dengan seorang kekasih terdahulu bagi Sahira. Kekasih yang akan selalu mengirim sebuah foto bunga Daffodil  atau bunga apapun yang tengah mekar di kotanya. Kekasih yang dipaksa mundur karena jarak Swedia – Indonesia menjadi kian tak masuk akal. Sedangkan Sahira, perempuan yang diimpikan lelaki itu juga tak tahu bagaimana caranya untuk menyeimbangkan antara impian dan kehidupannya di rumah sakit dengan memiliki kekasih yang terpaut jarak ratusan mil dan selisih waktu enam jam.

Meski begitu, tak sekalipun ada sungut-sungut dari kedua manusia ini.Lelaki itu masih kerap mengirim gambar musim bunga di negerinya.Sahira yang memutuskan berpindah ke salah satu pulau nan indah di Indonesia juga sesekali mengirim gambar senja di pantai-pantai sekelilingnya.

 

Denpasar, 25 Maret 2017

Story by : Rini Siallagan

Edited by : Ropesta Sitorus

Photographed by : Hans Lesmana

Lelaki Empat Puluh Lima Tahun di Kedai Kopi

iii

 

Malam itu langit  mendung, jalanan basah akibat gerimis yang awet, hujan nampaknya enggan turun deras, angin bertiup pelan-pelan menyapu sisa hari. Kota di malam minggu itu berjalan tak ubahnya malam lain, gegap gempita kota besar bertiup dari dalam melahap pelan rasa sukacita penduduk kota yang sendiri. Lelaki ini merayakan ulang tahunnya sambil memainkan ujung gelas kopi hitamnya, ia memutar telunjuknya mengelilingi gelas kecil berwarna hijau tua tersebut.

 

Kedai kopi kecil itu tak jauh dari kediamannya, ia hanya perlu berjalan kaki sekitar lima belas menit untuk mencapai rumahnya. Sehari-hari ia akan membawa sebuah buku dan duduk di kedai tersebut sampai para pekerja memadamkan lampu terakhir di kedai kopi tersebut. Seringnya ia membawa buku, terkadang ia juga membawa sebuah buku harian dan menghabiskan malam dengan menulis kemudian merobek tulisan  dan membuangnya ke kotak sampah bulat berwarna hitam yang berada tepat di sisi kanannya.

Para pekerja kedai kopi itu tampaknya sudah terbiasa akan kehadiran lelaki tersebut, mereka juga sudah paham apa yang akan dipesan lelaki itu, yakni segelas kopi hitam tanpa gula dan dua buah kue cokelat. Satu jam kemudian Ia akan kembali meminta satu gelas kopi hitam lagi kali ini tanpa kue cokelat.

Mungkin sudah dua tahun lelaki itu secara rutin akan mengunjungi kedai kopi kecil, awalnya hanya di akhir pekan hingga kemudian menjadi tiga kali dalam seminggu. Ia akan duduk di balik kaca dan melihat jalanan sambil menatap tanpa kedip kaca tersebut. Jika para pelayan tak mengajaknya berbicara, ia akan diam dan membaca sepanjang malam sampai para pekerja mematikan lampu dan meminta ia segera membayar tagihan kopinya dan selalu begitu hingga sudah dua tahun ini.

Malam ini, gerimis masih jatuh dengan lembut seolah selamanya muka bumi akan dihantui gerimis begini. Jalanan tersebut memiliki sisi untuk pejalan kaki dan di seberang kedai tersebut terdapat kumpulan kedai dan restaurant tempat para penduduk kota menghabiskan rupiah mereka. Malam yang agaknya dingin membuat para kekasih yang sedang jatuh cinta merapatkan diri sambil berjalan cepat melawan gerimis, melemparkan bulir-bulir gerimis ke jalanan dan kaca-kaca  kumpulan kedai-kedai di sisi jalanan tersebut.

Kedai kopi tersebut melantunkan lagu-lagu lama, kali ini Louis Armstrong memenuhi tiap sudut kedai kopi kecil itu. Lelaki  tersebut menatap nanar cermin di mukanya, embun nampak pelan-pelan hadir memudarkan pandangannya. Sesekali lelaki tersebut membersihkan embun  dengan tisu. Ia kembali menulis sesuatu di buku hariannya, tangannya tampak tekun bergerak.

Para pelayan di kedai kopi kecil itu tidak pernah terlalu sibuk, ukuran kedai yang tak terlalu besar membikin pelanggan mereka takkan menumpuk, suasana kedai kopi itu yang agak muram memang tak seperti kebanyakan kedai kopi kota besar pada umumnya, kedai itu didominasi warna cokelat dan hitam serta lampu temaram, lukisan hitam putih menggantung di dinding bata berwarna cokelat gelap, tidak ada lukisan bertulis petuah bijak atau perumpamaan kopi yang menempel, hanya beberapa lukisan hitam putih misalnya gambar wajah Aretha Franklin yang tertawa kecil atau wajah John F Kennedy yang tersenyum menunjukkan gigi putih rapat miliknya. Kursi di kedai tersebut terbuat dari besi tua yang sarat usia dan diberi sebuah sofa bulat berwarna abu. Meski begitu akan selalu ada para pemuda dan penduduk kota yang memesan kopi walau kebanyakan dari mereka akan membawa pulang, mungkin mereka tidak suka dengan suasana sendu tempat itu.

 

Hujan gerimis menjadi semakin mendekati kekekalan, berjam sudah terus mengalir dari langit. Kendaraan roda empat terus berjalan pelan di tengah tumpukan roda empat lain di jalan raya tersebut. Lelaki yang sendirian itu sesekali melihat ke jalanan dan menggelengkan kepalanya sementara senandung ‘’ Lets Stay Together dari Al Green’’ bersenandung dari sekeliling kedai kopi.

Seorang pelayan bertanya kepada seniornya. ‘’ Berapa usia lelaki itu?’’ tanya seorang pelayan wanita muda tentang lelaki itu ke seniornya. ‘’ Aku tidak tahu pasti, mungkin empat puluhan. Ia pelanggan setia kita, kediamannya tak jauh dari rumah pemilik kedai ini’’ kata seniornya. ‘’ Ah, itu artinya Ia pria mapan, mengapa ia selalu sendiri?’’ tanya wanita muda ini sambil membersihkan gelas-gelas dengan kain bersih. ‘’ Ia tinggal sendiri memang, Ia seorang yang memiliki posisi baik di sebuah Bank milik asing di kota ini, aku tahu itu dari bos kita’’ ujar seniornya ini. ‘’ Wah, akan ada banyak perempuan yang senang jika ia mengajak  berkencan, lihatlah!, Ia itu tampan dan wangi tubuhnya lembut, dan  selalu sopan’’ ujar wanita muda itu. ‘’ Jangan bodoh, konon kabarnya ia adalah pria murung yang ditakuti oleh banyak orang di tempatnya bekerja, senyum tak pernah keluar dari wajahnya, jadi jangan heran jika ia sendirian’’ ujar pelayan senior tersebut. ‘’ Apa yang salah jadi orang berwajah murung dan dingin?’’ tanya wanita muda itu. ‘’ Tidak salah namun menjadi tanda tanya besar jika kau seorang pria kaya yang tinggal di rumah nyaman dengan wajah yang tampan namun kau selalu memasang wajah murung, kau perlu pertanyakan kenapa dengan mimik itu?’’ jawab pelayan senior tersebut. ‘’ Mungkin ia yatim piatu, atau duda ditinggal selingkuh atau istri dan anaknya mati digilas kereta api’’ jawab wanita muda itu serius. ‘’ Sudah, kau kembali bekerja. Kau terlalu banyak menonton drama korea’’ jawab Pelayan senior mengakhiri pembicaraan.

 

Lelaki tersebut meneguk kopi hitam miliknya yang mulai dingin, tatapannya lurus ke arah jalanan yang dihantam kendaraan dan rintik gerimis. Ia menutup buku hariannya, ia membukanya kembali, mengamati seksama buku harian dengan kedua bola mata yang bergerak ke kiri dan kanan, ia merobek selembar halaman kemudian meremasnya dan membuangnya tepat masuk ke keranjang sampah.

Ia meneguk kopi tanpa jeda, menaruh gelas tersebut diatas alasnya, membersihkan bekas bibirnya dengan telunjuknya, kemudian membersihkan telunjuknya dengan tisu yang kembali ia remas dan berakhir di keranjang sampah. Kemudian ia menaruh tiga lembar rupiah merah di sebelah gelas kopi hitam tersebut dan meninggalkan kedai  saat Frank Sinatra dengan ‘’Witchcraft’’ menyelimuti kedai syahdu.

Perempuan muda itu berlari keluar melihat lelaki tersebut berjalan agak tergesa dengan menggunakan jaket jins yang melindungi kemeja abu miliknya dari gerimis, lelaki itu memasukkan kedua tangannya di kantong celana yang ia kenakan, ia tak menoleh barang sekalipun, langkahnya pasti menerobos gerimis. Perempuan itu menutup pintu kaca kedai  kopi dengan wajah lesu. Ia memasuki kedai sambil membawa kain bersih untuk membersihkan meja bekas lelaki tersebut. Ia membersihkannya dengan lamunan punggung lelaki itu, punggung besar yang ia sering lihat. Ia bergerak ke arah keranjang sampah, membuka satu persatu kertas yang ada di dalamnya, wanita muda itu ingin menemukan selembar kertas yang  sebelumnya diremas oleh lelaki itu. Tak perlu waktu lama baginya untuk menemukan apa yang ia cari. Kertas berwarna putih gading tersebut tampak kusut meski masih bisa dibaca dengan jelas.

Ada sebuah puisi di dalamnya

Gerimis, gerimis, air mengalir ragu dan pelan dari langit

Menghantam kegelapan dan dinginnya kota yang ramai oleh manusia tak bernyawa

Para kekasih melaju tergesa, menelan malam tanpa tujuan, mungkin teater atau mungkin gedung-gedung kota yang bisu dan menyeramkan.

Duduk seorang kekasih terpaku di seberang cermin, menelan liur seorang diri, sudah lama undur diri dari gelanggang .

Roda empat bernyanyi ribut penuh ketergesaan, para pelayan hilir mudik mengenyangkan mulut-mulut kelaparan, rasa lapar yang menjijikkan, rasa lapar milik manusia yang tertawa pura-pura.

Jika saja penunggu cermin ini kembali ke jalanan, memakai baju hangat melawan gerimis, melangkahkan kaki nya ke jalan pulang atau pun ke jalan yang ia tak pernah berani lewati

Seorang polisi berbadan tambun menggerakkan tangannya dibawah lampu jalan, para pengemis lari sembunyi-sembunyi, rambut mereka basah oleh gerimis, kota pilu milik manusia.

Penunggu cermin ragu, menikmati kopi dalam kecamuk di kepala

Ia bagai orang asing di keramaian yang diciptakan oleh waktu

Ia tersesat di dalam asa dan kepiluan milik tahun yang terus lahir…..

 

Perempuan tersebut melipat kertas tersebut, menatap kertas  dalam rasa campur aduk. Ia membawa gelas milik lelaki itu dan uang yang ditinggalkan. Ia menaruh surat itu di kantung  seragamnya.

Perempuan muda dengan rasa ingin tahu yang penuh mengirim doa dalam bisu agar dipertemukan dengan lelaki itu. Sehabis ia mencuci gelas-gelas, ia kembali melihat kertas tersebut. Ia mencoba membaca sebuah kalimat yang dicoret, ia membacanya perlahan dan seksama, ‘’ Selamat Empat Puluh Lima’’ kemudian perempuan itu terkejut, ah lelaki tersebut baru saja merayakan ulang tahunnya dalam diam dan seorang diri.

 

Bali, February 22 2017

Picture by : Simon Prades taken from Pinterest

 

 

Underneath of Sunset Story

ii

 

Semua orang jatuh cinta pada senja, warnanya yang menguning menutupi birunya langit membikin semua terbius. Senja bisa jadi keajaiban yang membuat kita lupa bahwa hari terik baru saja dilewati.  Sesungguhnya, aku benci setengah mati dengan senja. Kau mau tahu mengapa?

Aku kehilangan ibuku tepat pada senja di sebuah hari yang kelabu. Saat itu senja tengah merekah bagai bunga matahari yang mekar dikebun belakang rumah. Aku ingat betul, kelembaban udara begitu pas dan aroma sore pun semerbak menyerbu. Aku menunggu ibu ku di depan sekolah. Saat itu aku berusia sekitar 12 tahun, aku masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Setiap sore di hari senin hingga jumat aku akan mengikuti kelas tambahan untuk ujian akhir. Di hari Senin, persis seperti hari itu kelas tambahan diadakan hingga jam lima sore hari untuk membahas kumpulan contoh soal . Sebenarnya, aku benci sekolah. Maksudku, mengapa kita duduk disebuah gedung selama dua belas jam dan mendengarkan sekumpulan orang dewasa yang bosan dengan hidup mereka dan mereka kerap mempertontonkan dengan terbuka usaha mereka berjuang melawan kantuk meski akhirnya gagal menutupinya. Manusiawi memang, barang tentulah mereka mengantuk  apalagi anak-anak yang dipaksa duduk manis mendengar ocehan mereka yang sudah seperempat hati itu. Pada pukul lima, kelas akan berakhir dan aku akan menunggu ibuku di depan sekolah, yakni di pos satpam sambil menggambar dengan pensilku. Ibu akan tiba pukul 17.20 atau jika terkena lampu merah ia akan tiba pukul 17.25. Apakah ia pernah terlambat melebihi jam tersebut? Maka jawabannya tidak pernah.

Senja itu, aku menggambar senja di halaman sekolah ku. Ada langit yang jingga dengan burung gereja yang terbang berkeliling diatas gedung sekolah, sekumpulan mobil bergantian masuk dan keluar menjemput para anak murid, sebagian anak-anak terlihat lelah dan berwajah menakutkan. Orang tua anak-anak tersebut juga tampak bosan dan tak banyak bicara dengan anak mereka. Matahari terlihat akan pulang, bulan mulai menampakkan diri samar-samar, aku masih menggambar di pos satpam.

`               Aku melihat jam dinding di pos satpam dan benda bundar tersebut menunjukkan pukul 17.30 sore hari. Aku berdiri dan berjalan ke depan pagar sekolah, aku menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tak ada tanda ibu atau mobilnya. Aku kembali masuk ke pos satpam. Ibuku tidak suka aku menunggu diluar lingkungan sekolah, ia percaya bahwa siapa saja bisa menjadi korban penculikan tak terkecuali aku. Ia bilang bahwa dunianya akan runtuh jika aku tak disampingnya. Dan, apakah kau tidak akan mengindahkan pesan seperti itu?

Aku duduk hingga satpam memberikan segelas air putih dan menanyakan alamatku. Aku hanya menjawab bahwa ibu tidak mungkin tidak menjemputku. Tapi jam dinding sudah bergerak pada pukul 18.00 sore hari. Ketika aku asik menggambar, aku melihat mobil orangtua teman satu kelas ku didepan pagar sekolah. Ibu Amelie namanya, ia turun dengan tergesa, tangannya tampak meremas jari-jarinya sendiri. Ia memanggil namaku. Aku berdiri dan menjawab.

‘’Lehon, kau akan pulang bersama kami’’ ujarnya sambil memberikan tangannya.

‘’Ibu akan menjemputku, meski kau tetangga ku tapi aku takkan membiarkan ibu pulang tanpa ku’’

‘’Lehon, kita akan pergi ke rumah sakit, aku sungguh tidak bisa memberi tahu lebih banyak’’ ujarnya sambil meneteskan air mata.

Aku lari dan masuk kemobilnya.

Sepanjang perjalanan tidak satu pun suara keluar dari mulutku tidak juga airmata. Aku lihat di sebelahku seorang anak perempuan, dia teman sekelasku, anak perempuan ibu Amelie. Sofia nama anak perempuan itu, ia tampak menangis dan terus menerus menjatuhkan airmata. Aku benci melihatnya, aku menoleh kearah jendela dan melihat senja jingga yang tampak seperti jingga indah lainnya, aku melihat harapan. Sofia sesenggukan di sebelahku, oh, sungguh aku ingin sekali berteriak agar ia berhenti menangis.

Mobil Ibu Amelie masuk ke halaman depan sebuah rumah sakit dan berhenti di halaman parkir, aku lari masuk ke ruang gawat darurat, aku tahu bahwa setiap orang akan masuk ke ruang itu dahulu. Ruangan itu tampak besar dan dipenuhi puluhan tempat tidur yang ditutupi kain biru sebagai pemisah satu ranjang ke ranjang lainnya. Aku mencari Ayahku, ia pasti disekitar Ibuku. Seorang suster menghentikan pencarian ku.

‘’Maaf, anak kecil. Ini ruang gawat darurat. Kau bisa menunggu didepan!’’ ujarnya

‘’Aku mencari ibuku’’ jawabku sambil terus bergerak kearah tempat tidur lainnya.

‘’Ah, siapa nama ibumu?’’ tanyanya.

‘’Anita Sudarma, itu nama ibuku’’ jawabku tergesa-gesa.

Tiba-tiba Ibu Amelie memelukku dan menuntunku ke ruangan lain.

‘’Lehon, kau akan melihat ibumu di ruangan lain’’ jawabnya sambil menuntunku keluar dari ruang gawat darurat.

Aku tak melepaskan tangan tersebut, aku tahu bahwa tangan itu akan membawaku berjumpa dengan ibuku. Sofia tampak berada ditangan kanan ibu Amelie. Ibu Amelie juga menuntun Sofia yang masih terus menangis.

Kami memasuki ruang jenazah. Aku ingin menangis dan menghajar siapa saja. Namun semua urung aku lakukan karena tampak olehku Ayahku, ia duduk melantai di depan ruang jenazah, berlumur darah dan meratap. Ia menggunakan jas kantornya dan duduk penuh airmata. Ia menunduk bagai kehilangan seluruh hartanya. Aku mendekatinya.

‘’Apa yang terjadi dengan Ibu, Yah?’’ tanya ku duduk di dekatnya.

‘’Ia mengalami kecelakaan , mobilnya dihantam truk pengangkat batu bata yang oleng. Ia ditengah perjalanan menuju sekolahmu.’’ Jawab Ayah sambil menaruh tangannya di pundakku.

Aku berlari masuk keruang jenazah, beberapa suster melarangku, aku terus memaksa. Ayah mendatangiku dan menuntunku melihat ibu. Sungguh, aku melihat darah segar keluar dari kuping ibu, aku melihat kepalanya, aku raba kepalanya, tidak ada satupun luka namun darah terus mengalir dari kedua kuping ibu dan kulit wajah ibu pucat dingin.

‘’Ayah, tidak ada luka di kepala ibu. Seharusnya ibu tidak mati’’ ujarku.

‘’Lehon’’ ujar Ayah.

‘’Dimana dokternya?’’ Tanya ku.

Seorang lelaki berusia empat puluhan dan jas putih tampak datang ke arah ku, ayah, jenazah ibu dan dua orang perawat yang tengah merapikan jenazah ibu.

‘’Ada apa Nak? Aku adalah dokter forensik yang bertugas hari ini’’ ujar lelaki itu.

‘’Dengar yah, aku tidak peduli kau dokter apa, itu tidak penting. Yang mau aku tahu mengapa ibu ku mati padahal tidak ada luka besar di kepalanya atau jantungnya atau wajahnya? Dan satu lagi, apakah kau tidak bisa menghentikan darah yang mengalir dari kedua kuping ibuku?’’ tanya ku sambil menatap wajahnya.

‘’Baiklah akan aku jelaskan. Kepala ibu mu membentur sesuatu yang keras, menurutku sesuatu yang sekeras besi atau batu. Dan benturan itu menyebabkan tulang dasar kepalanya patah kemudian menekan otaknya dan menyebabkan darah  keluar dari kupingnya. Sebaiknya, aku tidak menceritakan ini kepadamu tapi aku tahu kau punya hak dan tengah menuntut hak mu.’’ Ujar dokter tersebut sambil duduk menjongkok di depanku.

‘’Apakah kau tidak bisa menghentikan darah sialan itu?’’ tanyaku.

‘’Kita akan menaruh kasa untuk menyumbat darah tersebut dan setelah beberapa jam itu akan berhenti’’ ujarnya.

‘’Lehon, berhentilah bertanya!’’ ujar Ayah.

Ruang jenazah yang dinginnya bagai kutub selatan tersebut sungguh terasa panas bagiku, orang-orang hilir mudik di ruangan tersebut. Para perawat selalu datang dengan kain putih dan toples-toples plastik berisi kasa putih yang aku yakin mereka gunakan untuk menutup banyak kuping, hidung dan mulut manusia tak bernyawa. Tiba-tiba sakit kepala menyerangku dengan hebat, aku tak bisa melihat orang utuh, mereka semua menjadi berbayang di mataku. Aku duduk dan menekan kedua sisi kepalaku. Aku melihat ke arah jendela, sinar matahari tampak masih kuat dan langit berwarna jingga terang. Kepalaku makin nyeri saat melihat pemandangan itu. Ku arahkan wajahku ke pintu masuk ruang jenazah dan kulihat Ibu Amelie dan Sofia berdiri sambil menangis.

Aku berdiri dan bergerak kearah ibu, aku memeluknya, aku sungguh kelelahan, kepalaku terasa akan meledak, aku terus memeluknya tapi ibu diam dan kulitnya dingin.

Sore itu adalah senja terkutuk yang pernah ada di muka bumi ini.

Esok harinya, jenazah ibu dibawa kegereja. Banyak sekali orang menangis dan menceritakan betapa baiknya ibu. Ayah terus memandangi wajah ibu sambil menangis. Asal kalian tahu, Ayah dan ibu ku berkencan selama sepuluh tahun sebelum menikah. Ayah ialah pria pendiam yang hobi sekali bermain catur dan lawan kesukaannya bermain catur hanya Ibu. Ibu ialah perempuan periang, ia suka sekali memasak dan bercerita. Ibu bilang bahwa Ia dan Ayah ialah sahabat selain sepasang kekasih dan itu benar. Dunia ayahku tidak ada selain menggambar bakal gedung-gedung atau bangunan lain serta kekasihnya yaitu Ibu. Di acara pemakaman Ibu, teman-teman kantornya banyak menitikkan air mata dan memberikan bunga. Mereka mendatangi dan memeluk ku sebelum pulang. Mereka mengelus kepalaku dan aku menjadi sakit kepala. Ayah ku terus duduk di sebelah peti jenazah Ibu, mengelus rambut Ibu dan memandangnya tanpa jemu. Aku duduk disebelah Ayah meski kerap pergi ke kamar kecil untuk muntah.

Ibu dimakamkan tepat saat senja yang sialnya kembali berwarna jingga. Hanya ada aku, ayah dan Ibu Amelie beserta suaminya. Ibu Amelie ialah teman ibu bertukar menu masakan. Meski begitu aku tidak akrab dengan anaknya yaitu Sofia, menurutku Sofia terlalu ramai. Di kelas, ia selalu duduk paling depan dan mengangkat tangan setiap ada pertanyaan, ia juga menanam bunga ester berwarna ungu di halaman kelas kami dan akan berteriak kepada siapa saja yang menggangu bunga-bunga tersebut. Ia sepertinya tahu kalau aku tak menyukainya sehingga ia juga tak pernah bermain kerumah ku.

Kematian ibu bagai badai musim dingin yang tak berkesudahan. Tiga bulan setelah ibu pergi aku harus menghadapi ujian akhir sekolah. Kau tahu, apa yang terjadi dengan ujian ku? Hancur. Aku terpaksa mengikuti ujian paket susulan setelah Paman ku menemui orang di dinas pendidikan. Aku lebih banyak menggambar di kamar ku. Ibu Amelie menjemputku saat pulang sekolah di sisa tiga bulan terakhir sekolah dasar. Setelah ujian usai, Ayah dan aku memutuskan untuk melanjutkan hidup ditempat Ayah dan Ibu dulu berkuliah dan merintis awal karir mereka yakni di Berlin.

Di Berlin, aku hanya hidup dengan Ayah. Ayah bekerja diperusahaan tempat ia dan ibu dulu pernah memulai hidup bersama. Ayah, seperti kubilang sebelumnya, ia adalah pria pendiam dan mengerikannya ia menjadi pemurung. Kami tidak banyak berbicara, ia hanya akan membuatkan sarapan untuk ku dan mengisi botol air putih ku kemudian meninggalkan selembar uang untuk makan siang di sekolah. Ia akan pulang di malam hari sekitar pukul sepuluh malam dan ketika ia pulang aku tengah menggambar atau belajar merokok di kamarku, ia tidak akan mengunjungi atau mengintip kamarku. Ia akan masuk kekamarnya, mematikan lampu kamar seketika juga.

Ketika aku berusia 15 tahun, aku menulis pesan di kulkas. Begini isi pesan ku;’’Sebaiknya Ayah menikah saja, jika dibiarkan begini terus, kau akan mati muda dan ibu akan marah dengan mu karena meninggalkan ku’’. Aku tempelkan pesan itu di kulkas sebelum pergi sekolah lebih awal dari biasanya. Malam harinya, ia mengetuk kamar ku. Aku membuka pintu kamarku. Ia tampak menderita, sungguh, ada lingkaran besar yang membusur di bawah matanya, ada garis wajah yang membikin wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dari usia sebenarnya, aroma tubuhnya juga usang dan lembab.

‘’Aku ingin berbicara’’ katanya

‘’Silahkan’’ jawabku

‘’Sudah tiga tahun sejak ibumu pergi dan baru kali ini aku membicarakannya kepadamu, aku sungguh tidak tahan melihat wajahmu, kau membawa mata ibumu kemana pun dan itu melahirkan kepedihan tak tertahankan kepadaku, apakah kau tahu itu?’’ tanyanya

‘’Aku tidak tahu, apa mau mu?’’ tanyaku sambil menghidupkan sebatang rokok

‘’Aku tahu, aku tidak bisa lagi menjadi ayah idealmu seperti ketika ibumu masih ada dan ini semakin menghancurkan aku, karena ini pasti tidak disukai ibumu. Tapi, kau juga harus paham, bahwa aku sudah berusaha. Aku membawamu kesini karena aku ingin belajar menerima semuanya, semua. Meskipun ternyata aku yakin, aku sudah gagal. Aku semakin mencintai dan merindukan ibumu dengan gila dan hebatnya. Setiap hari sehabis pulang bekerja, kau tahu, aku selalu pergi ke klinik konsultasi psikiater. Aku tidak bisa tidur lebih dari tiga jam sejak hampir tiga tahun ini, aku terus terbangun setiap malam, selalu ingin kencing, otot wajahku selalu berkedut-kedut ke arah kanan, kemudian aku akan pergi ke depan cermin dan melihat otot wajah ku bergerak di luar kendali ku, kengerian seketika itu juga menghantam ku bahkan pada suatu malam aku buang air kecil tanpa ku sadari. Aku ingin berteriak , mengambil pisau kemudian mengiris urat tanganku tetapi aku dengar sesuatu bergerak dari kamarmu. Otot wajah ku selalu berulah di malam hari maka tak seorang pun tahu dan ini membuat ku justru semakin pedih. Aku membaca di majalah kesehatan mereka menamai hal tersebut sebagai involuntary movement yang disebabkan oleh banyak hal seperti epilepsi, gangguan cemas, depresi atau Parkinson. Seketika itu juga aku memutuskan mengunjungi psikiater sehabis pulang bekerja, disana aku menceritakan semua yang ku rasakan. Kau tahu, psikiater ini seorang lelaki tua yang tidak terlalu bijak namun untungnya ia suka mendengar. Ia hanya meresepkan pil-pil dan mendengar saja. Sejujurnya, aku rasa aku juga tidak akan sembuh dengan semua pil itu. Meski begitu, aku tetap datang karena setidaknya aku memiliki orang yang mendengar keluh kesahku. Lehon, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menahan semua ini. Aku sungguh tidak tahu. Aku harap kau lebih baik dari aku.’’ ujar Ayahku sambil menyalakan rokok miliknya.

‘’Kau tahu, aku tidak suka kematian, oh sudah barang tentu tidak seorang pun yang menyukainya. Kematian tidak membuat siapa pun lebih baik. Aku pikir, ibu sudah tenang di sana atau setidaknya ia sudah tak tahu apa-apa lagi Ayah, namun lihatlah kita berdua. Kulit kita dipenuhi luka, luka yang terus terbentuk sejak ibu mati.’’ Ujar ku.

Ayah diam. Ia terus menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian ia kembali ke kamarnya.

Sejak ibu pergi, aku hanya menggambar dan membaca. Tugas sekolah aku selesaikan dengan lekas di sekolah, bukan karena aku rajin, sungguh, aku melakukannya agar sesampainya di rumah aku hanya akan menggambar dan membaca. Aku menyukai buku karya Franz Kafka dan Jack Kerouac.

Sehabis malam itu, Ayah tetap hidup dengan dunianya dan aku,sementara duniaku makin rumit. Tanpa ibu dan sekarang ditambah dengan seorang ayah yang menderita depresi berat. Setiap aku pulang sekolah, aku menyimpan ketakutan bahwa mungkin ayah tidak bekerja dan memutus urat nadi nya di dapur. Ketakutan itu semakin banyak setiap hari, aku melihat ayah semakin kerempeng. Teman kantornya bahkan pernah mengizinkannya cuti agar ia memeriksakan kesehatannya. Namun ayah mengelak, ia bilang ia hanya tidak bisa tidur karena itu lemaknya habis. Ketika aku berusia 17 tahun, ayah harus beristirahat di rumah sakit jiwa, ia tidak bisa tidur dan hilang selama dua malam. Aku pergi mencari ke setiap rumah teman kerjanya, semakin menyedihkannya karena ayah tidak akrab dengan siapa pun, setelah dua malam mencari tanpa hasil tiba-tiba seorang polisi membawa ayah pulang dan mengatakan bahwa ia linglung dan tidur dipinggir jalan. Esok harinya, aku membawanya ke dokter jiwa, kami memutuskan ayah akan dirawat disana.

Selama enam bulan dirawat dan enam bulan berobat rawat jalan, pada sebuah senja sepulangnya dari sekolah, aku menemukan ayah dengan mulut berbuih tanpa nafas di kamarnya. Sore itu, jendelanya terbuka dan langit musim panas begitu cerah, bunga dan rumput bergoyang riang, warna langit lagi dan lagi jingga keemasan dan ayah ku berbusa mulutnya tanpa nafas berhembus. Aku berteriak, meneriakkan kata ‘’Ibu’’ dan ayah tetap tidak bangun.

Dengan bantuan uang tabungan milik Ayah  serta uang asuransi kedua orang tua ku, aku membawa jenazah ayah dari Berlin ke Jakarta. Paman ku datang ke Berlin dan membantu semua urusan. Ayah di kebumikan tepat di sebelah ibu.

Saat senja kembali menjadi pilu di hadapan makam kedua orangtua ku, entahlah, namun aku merasa sedikit lebih baik melihat Ayah ada disamping ibu. Aku pikir, ia bukan ayah yang buruk. Ayolah, ia bertahan enam tahun dengan siksaan hidup tanpa kekasihnya sambil meneguk pil depresi ditambah lagi ia tidak bisa tidur lebih dari tiga jam, aku rasa ia memang seorang pejuang. Saat itu aku berjalan kaki dari komplek pemakaman. Sambil menyulut rokok dan terus melihat berbagai makam manusia di sisi kanan dan kiri yang di atasnya ada bunga-bunga.  Lucu juga bunga-bunga itu ada yang segar dan ada juga yang kering kerontang. Menurut bijakku, tak ada gunanya kita menaruh bunga di makam, karena para manusia yang sudah pergi ke keabadian tersebut toh tidak tahu. Aku tidak sekalipun menaruh bunga di makam ibuku, bukan karena aku tak mencintai ataupun menghormatinya hanya saja aku rasa ia juga jijik dengan itu. Saat tengah berpikir, seorang menyapa ku.

‘’Lehon, kau Lehonkan?’’ ujar wanita itu

‘’Iya. Ada yang bisa ku bantu?’’ tanyaku

‘’Aku mendengar bahwa Ayahmu wafat dan aku sungguh sedih untuk itu. Kalian langsung pergi setelah kau tamat sekolah dasar dan tak pernah kembali’’ ujarnya.

‘’Iya’’ jawabku

‘’Aku ibu Amelie, tetangga kalian’’ ujarnya

‘’Iya, aku tahu, aku menyadarinya ketika kau berbicara’’ ujarku

‘’Rumah kalian dirawat dengan baik oleh ibu Suti, ia pekerja yang setia, ia tidak mengambil uang pensiun ibumu lebih dari yang ia butuhkan untuk rumah kalian, suaminya Pak Karjo bekerja menjadi supir di rumah kami sehingga mereka tak begitu kesepian.’’ ujar Ibu Amelie.

‘’Terima kasih Ibu Amelie’’ ujarku

‘’Kau masih ingat jalanan Jakarta?’’ tanyanya

‘’Ah, aku akan naik taksi di simpang sana.’’ Jawabku

‘’Ikutlah denganku’’ ujarnya

‘’Aku mohon.’’ Ujarnya

Sore itu aku kembali melintasi Ibukota setelah enam tahun.  Di perjalanan pulang, aku banyak diam dan melihat ke arah jendela di sebelah kiri ku dan memandangi jalanan Jakarta yang sesak dan macet bagai selokan menjelang banjir.

‘’Aduh, Jakarta makin macet saja dari tahun ke tahun. Tentu kau tidak nyaman yah kembali ke sini’’ ujarnya

‘’Ah, tidak masalah. Besok lusa aku akan kembali ke Berlin jadi tidak masalah’’ ujarku

‘’Apa yang akan kau lakukan di sana?’’ tanyanya

‘’Aku akan mengikuti ujian akhir menuju universitas dan mungkin sambil menunggu aku akan bekerja paruh waktu di sana’’ ujar ku

‘’Bagus sekali, jurusan apa yang akan kau pilih, Nak?’’ tanyanya

‘’Aku ingin mengambil beasiswa di Paris untuk jurusan seni rupa.’’ ujar ku

‘’Wah, kau pasti akan terpilih dan melewatinya dengan baik’’ ujarnya

‘’Semoga’’ ujar ku

‘’Lehon, dua tahun lalu, aku dan Sofia serta suami ku berlibur ke Eropa kami mencoba menghubungi ayahmu untuk makan malam bersama namun ia tidak membalasnya dan keluargamu juga tidak tahu dimana persisnya kalian tinggal, maaf karena kami tidak bisa membantu apa-apa.’’ ujarnya

‘’Tidak masalah, memberi tumpangan ini saja sudah cukup’’ ujar ku

 

Aku kembali ke Berlin, bekerja paruh waktu di sebuah gudang gerai pakaian. Ayahku tampaknya memiliki kinerja yang baik dikantor, tabungannya masih lebih dari cukup meski begitu aku pindah ke rumah sewa yang lebih kecil. Kemudian, aku mengikuti ujian beasiswa di sebuah universitas di Paris. Sambil menunggu pengumumannya, aku memutuskan melakukan perjalanan mengelilingi Asia selama enam bulan. Aku bisa saja keliling Amerika atau Eropa namun tentu aku tidak ingin menghabiskan tabungan Ayahku secepat itu. Aku membiarkan rumah orangtua ku di Jakarta di rawat oleh Ibu Suti dan Pak Karjo. Mereka punya seorang anak lelaki dan sekarang menjadi guru di kepulauan Seribu, aku senang mereka senang.

Ketika aku memperoleh beasiswa, aku pindah ke Paris dan memulai bersekolah di sana. Setahun pertama, aku murni seorang pelajar namun di tahun berikutnya aku mulai bekerja. Sebenarnya tidak buruk, aku menggambar ilustrasi dan gambar ku dibeli oleh para pembuat kaus atau tas bergambar. Pekerjaan yang sesuai minat ku dan tidak melelahkan. Di waktu luang, aku membaca dan membuat puisi. Sekarang aku tengah membaca salah satu buku Chuck Palahniuk yang berjudul ‘Survivor’.

Pasti kalian berpikir, tampaknya aku kuat dan berhasil melewati periode kelam dalam hidupku. Ah, tidak salah namun juga tak sepenuhnya betul. Kematian ibu dan ayahku tentu seperti yang aku bilang sebelumnya bahwa bagaimana pun kematian akan meninggalkan lubang pada setiap yang ditinggal. Dan lubang ditubuh ku ada, di kepalaku. Setiap sore hari aku akan sakit kepala apalagi jika aku melihat langit berwarna keemasan.

Aku pernah memeriksakannya ke dokter dan melakukan CT-Scan namun tidak sedikit pun ada tumor atau infeksi di otak atau tulang sinus milikku. Semua normal. Dan, tentu aku sedikit malas harus ke psikiater. Setiap senja jika aku keluar dan melihat keramaian maka sakit kepala akan menyerangku hebat, mataku berbayang dan aku muntah. Sekian tahun sejak ayah mati aku memiliki serangan itu. Sebenarnya sebelum ayah mati setiap sore aku akan sakit kepala namun ini akan segera hilang jika aku berdiam diri di kamar dan menggambar. Sejak itu, aku tahu bahwa obat untuk kepalaku ialah menghindari senja dan bersembunyi. Tentu setelah ayah mati dan kehidupan universitas tahun pertama membuat ku mau tak mau harus keluar di sore hari dan serangan sakit kepala itu kembali rutin muncul.

Namun, aku harus menguasai hidupku. Aku biasanya menghindari keluar ruangan di sore hari dan jika memungkinkan aku menghindari keramaian di sore hari.

Sekarang sudah delapan tahun sejak Ayah pergi dan empat belas tahun dari wafatnya ibu, aku tengah duduk di sebuah kedai kopi di kota Jakarta. Aku memutuskan pulang untuk berlibur dan mengunjungi kakak lelaki ayahku yakni Paman ku. Ia tinggal dengan istrinya, mereka orang yang hangat dan selalu suka repot demi orang lain. Sepupuku, Arista baru saja memiliki putri keduanya. Ia meminta aku memotret mereka sekeluarga. Setelah dua hari di Jakarta, aku memutuskan menghubungi Ibu Amelie.

Ibu Amelie begitu senang dan terharu ketika aku bilang akan berkunjung. Esok harinya aku berkunjung dan rumah baru mereka sebenarnya tidak jauh dari rumah lama mereka.

Saat itu menjelang malam, mereka tengah mempersiapkan makan malam. Aku sungguh tidak enak hati, jujur, aku tidak suka dijamu begitu. Ibu Amelie memasak makanan kesukaan ku, tentu, tentu ia tahu, ia adalah teman karib memasak ibuku. Ia memasak tumis kacang panjang dicampur wortel kecil yang dimasak tidak terlalu matang dan sedikit diberi udang kecil. Sebagai lauk nya, ia membakar ikan gurami dan membuat sambal cabai rawit bercampur jeruk nipis. Di meja makan ada aku, Ibu Amelie dan suaminya yakni Pak Sirya serta anak perempuan mereka yang adalah teman sekolah dasar ku yakni Sofia.

Suasana tampak hening, nampaknya mereka tak tahu harus membicarakan apa. Dan Sofia, tampak sangat tenang, aku hampir lupa jika ia adalah anak berisik dikelas. Ibu Amelie hanya sesekali menuangkan air putih ke gelas ku. Aku mengunyah makanan tersebut dan tanpa ku sadari, air mataku jatuh tanpa bisa ku hentikan. Mataku tiba-tiba merah dan terus berair. Suasana makin hening. Aku mengambil tisu dan membasuh air mataku. Aku sungguh merindukan ibuku, masakan ibuku, dapurnya, suasana meja makan, bunyi sendok yang ramai, tangan yang menuangkan air putih kegelas ku. Aku merindukan ayahku, ayah yang akan menyalakan televisi dan menceritakan setiap hewan di televisi tersebut kepadaku. Dan tanpa ku sadari aku terus menangis, untuk mengakhiri air mata ini aku pun meminta izin ke kamar kecil.

Aku mencuci muka  di kamar kecil, seseorang mengetuk pintu kamar kecil.

‘’Lehon, ini handuk kecil untukmu’’ ujar Sofia

Aku membuka pintu dan mengambil handuk tersebut

‘’Terima kasih’’ ujar ku

Ia memeluk ku tiba-tiba dan menangis. Ia memeluk ku erat dan terus sesenggukan menangis. Ia melepaskan peluk nya tersebut dan duduk berjongkok sambil melipat tangannya di atas lutut miliknya dan terus menangis.

‘’Kau kenapa?’’ tanyaku sambil ikut duduk

‘’Kau ini, sungguh manusia kejam. Aku membaca semua tentang mu, kau seniman yang sukses dan aku bahkan meminta pertemanan dengan mu di sosial media dan kau bahkan tidak menganggap ku. Aku sering bermain kerumah mu dan meminta kepada Ibu Suti agar aku diizinkan tidur di kamarmu’’ ujarnya

‘’Dan kau menangis karena itu?’’ ujarku

‘’Kau ini memang aneh, apakah aku harus mengatakan semuanya di depan kamar mandi?’’ tanyanya

‘’Kau mau apa?’’ tanyaku

‘’Apakah kau mau mengunjungi rumah lama mu? Aku akan membawa mu ke sana dengan skutermatik ku. Bukankah tidak jauh’’ ujarnya

‘’Baiklah’’ ujarku

Sofia mengendarai sepeda motor yang menurutnya ia peroleh dari menang undian berhadiah di supermarket. Dalam batinku, menang undian adalah hal konyol. Sofia ini wanita beruntung. Ia memiliki semua dan menang undian motor pula. Sofia, ia tidak berubah banyak. Ia tetap cantik dengan kulitnya yang bersih dan matanya yang bersinar bening, ia membiarkan rambut  sepundak miliknya terurai.

Kami memasuki halaman rumah dan disambut dengan Pak Karjo.  Tanpa basa basi, Ia memeluk ku erat disertai Ibu Suti yang berjalan ke luar dari rumah seraya menangis.

Kami duduk di ruang keluarga, aku merasa asing, jujur saja. Aku merasa agak sedikit sakit kepala. Aku meminta pamit ke kamar kecil.Aku menatap kaca selama sepuluh menit, hingga pintu kamar mandi diketuk oleh Sofia.

‘’Apakah kau baik-baik saja?’’ tanyanya

‘’Ah, iya. Aku hanya sedikit sakit kepala’’ ujarku

‘’Apakah kau ingin istirahat?’’ tanyanya

‘’Aku ingin pulang ke rumah paman, itu akan lebih baik.’’ ujarku

‘’Apakah kau marah?’’ tanyanya dari balik pintu

‘’Tidak, aku hanya sedikit sakit kepala.’’ ujarku

‘’Apakah kau akan membuka pintu kamar mandi?’’ tanyanya

‘’Iya, jika kau tidak terus berdiri disitu dan mau bergeser agar aku bisa keluar.’’ ujarku

‘’Ah iya, baiklah’’ jawabnya

‘’Terima kasih’’ jawabku sambil membuka pintu.

‘’Terima kasih Sofia, aku ingin sekali bercerita lebih banyak dengan mu hanya saja aku diserang sakit kepala sekarang.” ujar ku

‘’Terima kasih’’ ujarnya menunduk

‘’Aku meminta maaf karena sedikit pun aku tidak membantu mu belajar saat ujian akhir sekolah dasar, aku mengetuk pintu kamarmu  saat itu dan kau tidak membukanya, aku pikir kau tidak menyukai kami lagi.’’ Ujarnya

‘’Ah, sudahlah ujian itu tidak penting bagiku’’ ujarku

‘’Lehon, apakah kau akan pergi lagi?’’ tanyanya

‘’Iya, saat ini aku akan pergi ke rumah paman ku dan tidur’’ jawabku

‘’Aduh bukan, maksudku kembali ke Paris’’ jawabnya

‘’Ah, aku ingin berbincang-bincang denganmu besok di kedai kopi milikmu, kalau kau mau, aku ingin engkau melihat gambar  milikku yang akan ikut pameran di sini, kalau kau tidak keberatan tentunya’’ jawabku

‘’Baiklah, jam berapa?’’ tanyanya sambil tersenyum lebar

‘’Jam berapa kau tidak sibuk?’’ tanyaku

‘’ Makan siang, bagaimana?’’ tanyanya

‘’Baiklah’’ ujarku

‘’Ah, kau suka betul yah menemui ku di kamar kecil?’’ tanyaku

‘’Hahahaha, ini kebetulan saja’’ ujarnya tertawa

 

Sesampainya di rumah paman, aku mencuci muka dan mengganti kemeja dengan kaus kemudian menggambar dan setelah dua jam menggambar aku pergi tidur. Sebelum tidur, aku merenungi masa kecil ku dengan ayah dan ibu, ayah tidak mau membicarakan kesedihan dan rasa putus asa serta rindunya  terhadap ibu kepada siapa pun dan itu membikin ia begitu menderita. Aku rasa, aku juga belum pernah menceritakan ini kepada siapa pun, kepada setiap teman kencan ku, teman- teman sesama pelukis ku di Paris atau pun teman-teman ku lainnya, aku merasa iba dengan diriku.

Aku tiba-tiba merasa ingin menelefon Sofia namun kubatalkan. Aku pikir, aku bisa menceritakannya dengannya besok.

Dan sekarang, aku disini, di sebuah kedai kopi cantik milik Sofia. Menurut bibi ku, Sofia seorang pembuat kue yang handal dan meninggalkan pekerjaannya demi kedai kopi dan bakery mungil miliknya.

Aku duduk sambil membaca buku, seraya menunggu Sofia yang sedang membuatkan dua gelas kopi untuk kami. Dengan bersemangat, Ia bilang, ia membuatkan red velvet spesial untuk ku. Sesungguhnya, aku tidak peduli red velvet apapun namun aku peduli ketika ia bilang ia akan membuatkan kue untukku.

Setelah banyak tahun yang lewat, aku ingin memiliki sesuatu yakni keberanian, keberanian melepaskan diriku, kematian orang terkasih akan membuat ngeri. Kengerian yang menghantam bahkan membuatmu tak berani keluar dari raga mu, dan aku rasa aku harus mengakui bahwa melebur dengan luka ialah keberanian terhebat daripada meneguk pil depresi.

 

 

 

 

Kopitoko Sanur, February 17 2017

 

Picture by Adam Hale taken from Pinterest

 

 

 

 

Fatamorgana

I was a girl with small smile, sitting on the bench ahead of the pastory.

You came late on that sunday, with sweaty hand in the midst of flaming Medan.

You took yourself beside me, smile and talked about Indonesian economy. It was when the pastor held forth with his purple froack. I was smiling, a small and thin smile again, and again. You kept talking about economy, again and again. And the pastor kept talking about sinner, oh boy, it could be us (the two human kept murmuring on sunday praying).

Out of blue, i asked a stupid question. ” Do you believe in God?”

You laughed, hold your voice on the tip of your tongue.

I  constrained my voice..exactly on the tip of my lips.

” What are we doing here now?” you asked.

” I dont know, i am here because this is the only way for me to have a chance to talk with you”

You went silent, the pastor stared at us. His eyes went to left as we stared him back.

” The question you have asking me went through to the core our presence, being here”you said.

I was dazed, the pastor looked fluctuate and my hands became numbness.

” I think it will be nice to know a girl with wide economy insight. I mean, for example a girl who working for Economy media or Economy department” you added.

” Why? What the special thing from those kinda girl?”

” Nothing, but it just makes me feel enthusiastic lately” you said.

The pastor took his voice louder, maybe he wanted to throw the microphone on to us.

” So, you do not believe in God” i said.

You went silent and stared at your fingers

”If so, why are you here, at this moment? i asked.

” Dont take this seriously, take this as a pleasure moment” you said.

(In that time, in my little machine called a heart, i am screaming, screaming like i am on the edge of the coast. Pleasure, what the hell of pleasure!!!?? I came along from capital city, i sent a message with many smiles emoticon, i asked you to have sunday time in your favorite small church and i have been here a half hour earlier with fully excitement and you came late about fifteen minutes with  stupid economy conversation, and you want me to take this as a pleasure) But sure, those words were real only in my small machine. I had long long silent.

Now, three years later. I am working in economy department. I have been writing about Indonesian economy since the pleasure stupid conversation in the church.

Out of blue, one hour ago we met in coffee shop near my flat.

You just came back from Germany, two years scholarship.

I have been keeping myself calm since then. Inside of my small machine, i had plenty questions.

I had my sumatran mandheling coffee and you had your, which it is gayo coffee.

The song from Vence Joy ”Riptide” was playing from the corner music speaker.

” Do you know? i will have my wedding party in two months” you said.

The cold coffee shop went freezing, the others visitors looked freezing, my eyeball went spinning to hold the tear, i took a sip of my coffee. A slight bit glimpse of wind came for a second and i am given strength out of nowhere.

” Ah, congratulation. I will come if i am not busy and of course if i have flight budget to Medan” i said.

” Please, dont take this seriously, this time in this coffee shop, the conversation we had in university and in other places, just come to my wedding party” you added.

” I will come, if i have flight budget” i said.

” You are the sweetest girl, like my sister” you said

” Oke, dont pity me. I am fine. I thought you are lighthouse of mine. Then this last minutes, i have been realized since the last word of your that you never see me. Sister? i am not that sweet, and never be that sweet. I love the way you encouraged me in university and it brought me to see you as a my lighthouse, but i have finally know at this moment i am wrong, you were only fatamorgana. You were shining everywhere but never be here with me….so it was hurting me before and i am not trying to make myself feel better but i am feeling relieved now, at least i knew the truth.”

” I trust you” you added

( Inspiration by one of very warming and enlight conversation i had with one of my sweet bestfriend, and she is working in economy region)

Art Cafe Sanur, February 04 2017

The Seven Good Years, Etgar Keret…

etgar-keret
Enter a caption

Etgar Keret, sejauh ini Etgar Keret masih satu-satunya penulis Israel yang aku tahu dan aku baca. The Seven Good Years adalah buku kedua Keret setelah Missing Kissinger yang aku pernah  nikmati. Sebuah memoar dari seorang Keret. Tujuh tahun terhitung sejak kelahiran putranya hingga kematian Ayahnya. Sejujurnya, untuk aku yang belum tahu banyak tentang Keret, memoar ini sedikit lebih lunak dibandingkan buku Missing Kissinger. Namun jangan bayangkan gaya akrobatik Keret atau cara dia melucu sirna begitu saja, sama sekali tidak. Narasinya seperti seorang pemain sirkus yang hobi melompat, mengalir penuh kejutan dan hiburan yang pasti mengundang tawa disertai gerakan bibir ke kiri dan ke kanan.

Ada satu hal yang sangat menarik yakni cara Keret memulai buku ini. Ia menceritakan kelahiran anak lelakinya, Lev, di sebuah rumah sakit pinggiran kota Tel Aviv. Ketika istrinya tengah berjuang melahirkan maka sekumpulan korban perang Israel  juga mulai memenuhi rumah sakit. Dimana ada perang disitu ada media. Sekumpulan wartawan mulai sibuk mencari korban dan keluarga untuk dimintai keterangan. Seorang wartawan menemui Keret, wartawan tersebut penuh semangat menanyai Keret ”Dimana kamu saat ledakan itu terjadi?” ( Ah wartawan ini tampaknya agak bosan, langsung saja ia bertanya begitu), kemudian Keret berkata bahwa ia bukan korban dan ia berada disini karena menemani istrinya yang akan melahirkan. Wartawan tersebut kehilangan antusiasmenya. Aku sudah berharap jawaban yang visioner dari seorang penulis tapi sayangnya anda bukan korban kata wartawan tersebut.

Keret berpikir, apa yang visioner dari sebuah peperangan? dari seorang anak korban holocaust Yahudi di daratan Eropa? Keret ialah generasi kedua dari genosid NAZI, kini ia tinggal di Tel Aviv dan mengajar di pinggiran kota yang langitnya kerap dihiasi rudal perang.

Membaca karya Keret, kita disuguhi sebuah kerinduan akan Timur Tengah yang tanpa perang, hal tsb dapat dilihat dari sekumpulan cerita pendek yang penuh makna dalam. Ada sebuah cerita tentang Angry Birds. Keret, istrinya dan putranya keranjingan permainan burung marah tersebut. Kemudian ibunya agak sinis dengan kegemaran mereka tersebut. ”Apa yang kalian suka dari sebuah cerita dimana burung-burung diterbangkan hanya untuk menghancurkan rumah-rumah babi hijau?” tanya ibunya.

 

”Aku suka semangatnya, dimana para burung-burung ini mengorbankan diri demi memusnahkan babi gemuk”, jawab Keret

”Iya, tetapi burung-burung itu diterbangkan hanya untuk membunuh anak-anak dan istri babi hijau yang tidak tahu apa-apa”, jawab Ibunya

”Tapi diawal cerita babi-babi hijau tersebut mencuri telur-telur burung” sela Istri Keret

”Nah itu benar”, teriak Keret

”Atau tepatnya, ini adalah permainan yang mengajarkan mu membunuh siapa saja yang mencuri milikmu dan meruntuhkan nyawa yang tak bersalah” jawab Ibu Keret

Dari sepotong dialog diatas terlihat bahwa burung-burung marah tersebut menghajar babi- babi hijau gemuk, babi hijau gemuk ialah pemodal kaya yang hidup enak didalam rumah dengan dolar hijau sedangkan burung-burung ialah lawan si babi yang direnggut telurnya.

Angry Birds bagi ibu Keret dan keluarga Keret ialah game yang sarat dengan nilai fundamentalis, dimana jika ada yang melukai nilai mu maka kematian ialah upah pantas. Baik di Israel, Iran, Palestin bahkan di Indonesia, hal tersebut kian marak. Kita akan mati kebakaran jenggot jika seseorang menghina nabi kita, merobek harga diri agama kita, mengibarkan bendera tetangga kita, kematian, penjara, hinaan balik semua itu adalah cara para pemarah memberikan upah.

Menjadi Ayah, menjadi penulis kondang di Polandia ( negara dimana Ibu Keret berhasil bebas dari serangan NAZI dan diselamatkan kembali ke Israel), kehilangan Ayahnya akibat kanker lidah disebut oleh Keret adalah Tujuh Tahun yang baik, ironis bukan, anak lelaki mu lahir ditengah pengeboman dan Ayahmu pulang ke keabadian dan kau sebut itu tujuh tahun yang baik. Dan segala semangat seorang Family Man dan seorang yahudi yang rindu perdamaian antara Israel dengan para tetangganya, seorang penulis yang mengkritik pedas pemerintahan Netanyahu, dan dialah Etgar Keret.

Discover Sutet Episode 1

Tadi malam, sesuai dengan rencana awal aku menghubungi Wilma. Sudah sekian bulan lewat tanpa ada pembicaraan yang intim antara kami berdua. Wilma dan aku banyak sekali bercerita, yah bayangkan saja lah dua wanita yang isi kepalanya lebih rumit dari kabel listrik dibawah tanah. Jadi, Wilma ini adalah salah satu sahabat dekatku, kedekatan kami agak berbeda penampakannya, maksudnya Uni satu ini tidak suka basa basi apalagi nasi basi sehingga jangan terlalu sering menghubungi dia karena selain kemungkinan telefon mu diabaikan ada juga kemungkinan telefon mu menggangu aktifitas menggambarnya yang konon kabarnya dalam sepuluh tahun kedepan akan menggemparkan New York Fashion Week ( Ada amin?AAAAAMMMIIIIN).

Dalam obrolan ngalur ngidul yang tanpa bosan serta penuh nostalgia tersebut tidak terasa kami sudah bercakap-cakap selama empat jam. Kami kami bertukar gagasan terkait museum, masa depan digital printing, buku, rencana masa depan bahkan rencana pembangunan hotel bintang empat di Batu sangkar yang menurut Uni Wilma agaknya terasa kurang pas karena tidak dibarengi dengan hadirnya hostel yang lebih bermasyarakat harganya. Diantara sekian topik, sebenarnya kami berdua bertelfon ria karena secara bersamaan kami merindukan dua hal yakni : Richard dan kehidupan semi bohemian kami di Sutet (gaya betul istilah ini, ah anggaplah begitu sekalipun beberapa orang dulu menyebut gaya hidup kami hipster gagal, hahaha dan sesungguhnya tidak ada niatan kami menjadi hispter).

Dahulu kala di sebuah era kegelapan, aku dan Wilma pernah tinggal di sebuah rumah mungil yang cantik dan bersih di sebuah kawasan sehat di sekitar Medan. Rumah dua lantai tersebut adalah sebuah cerita yang secara pribadi untukku adalah periode teramat vital yang akan selalu aku ceritakan kepada siapapun dan termasuk di jurnal ini. Kalian tahu, atau begini saja, bayangkanlah sebuah rumah yang nyaman kemudian di huni oleh enam orang dengan enam abnormalitas dan semuanya mengalami distorsi dan delusi otak.

Ah sebenarnya menurut beberapa pengunjung Sutet, aku ialah satu-satunya mahluk yang mendekati normal di rumah tersebut. Sesungguhnya kalau aku pikir-pikir sekarang ini, aku rasa memang semua temanku ini mahluk luar angkasa, sungguh kawan, kalian akan merasa beruntung sekaligus seperti kejatuhan rasa syukur yang teramat besar  dan bersamaan dengan itu akan ada sensasi perasaan keren campur merinding (tenang mereka belum ada yang pernah mati suri atau bangkit dari kubur apalagi bersetubuh dengan mayat demi ilmu kebal) jika mengingat dan membayangkan pengalamanku. Baiklah akan aku ceritakan sedikit, tapi sedikit saja yah karena jika terlalu banyak aku rasa tidak baik juga dan lagian aku takut dilempar molotov oleh Richard jika terlalu cerewet.

Edisi kali ini mengingat tadi malam aku dan Wilma banyak bercerita tentang Richard maka aku akan sedikit bernostalgia tentang Richard dan pengaruhnya setidaknya bagi aku, Wilma dan Sutet itu sendiri.

Richard aka Simon aka Pimpinan tertinggi di Rumah Sutet. Tunggu, pasti kau membayangkan pimpinan tertinggi yang memperoleh segala keistimewaan seperti mendapat kamar terbaik, kamar mandi pribadi, seprai sutra dan balkon berlatar pemandangan indah nah disinilah letak keistimewaan Richard, dia justru semua kebalikan dari contoh orang yang menjadi terhormat dengan segala hak khusus.Richard memperoleh gelar terhormat dan tertinggi justru dengan segala kesederhanaannya. Ia begitu rendah hati.

Dag Solstad bilang bahwa ada dua jenis manusia yakni jenis manusia yang memberi paling banyak namun merasakan paling sedikit dan tidak suka banyak bicara serta ada jenis lain yakni meminta paling banyak namun justru  memberi  paling sedikit dan cerewet. Nah, Richard ialah jenis yang pertama dan aku adalah jenis yang kedua.

Saat pertama kali kami menyewa rumah tersebut aku langsung memberi stempel pada kamar terbaik dengan balkon dan pintu yang paling megah sehingga Richard harus berbagi dengan teman satu lagi di kamar yang biasa saja kemudian Uni Wilma dikamar lantai dasar yang kecil dan jendela seiprit yang tidak bisa dibuka penuh dan sering jadi tempat lewat nyamuk. Aku langsung bilang “aku bayar lebih tapi pokoknya aku dikamar terbaik”. Richard dan penduduk lain membiarkan saja aku dikamar tersebut toh mereka juga malas bertengkar karena kamar dan lagian mereka ini mahluk yang menganggap permintaan ku yang banyak itu sebagai bentuk kementelan ku yang agaknya tidak mudah dijinakkan jadi dibiarkan saja, aku rasa begitu. Tetapi kalian tahu pepatah yang mengatakan bahwa ”Karma lebih cepat daripada Blue bird‘ nah tidak lama dari keberadaan kami dirumah tersebut kamarku sering mengalami kebanjiran dari kamar mandi rumah sebelah dan tempat tidur andalan ku sering sekali harus digeser sana sini , aduh, jadi pelajarannya adalah bagaimanapun,tindakan tidak adilmu akan menuai ganjarannya. Aku juga ingat, pertama kali kami pindah ke rumah Sutet, Richard membeli bed cover andalan berwarna biru keabuan, di sore hari ia memasangnya dan merapikannya hingga licin dari ujung ke ujung kasur lainnya, tak lama dari kegiatan bersih-bersih sorenya itu aku bermain kekamarnya dan duduk diatas seprai baru tersebut. Kami mengobrol sambil lalu dengan Richard dan teman lain yakni Darsono. Kemudian aku berdiri karena akan mengambil air putih di dapur yang terletak dilantai dasar. Ketika aku berdiri, Darsono berteriak”Aduh kau sedang haid yah? tembus pula di seprai ini” kemudian aku jawab saja”Yah namanya haid tidak bisa dilarang kalau mau tembus, cuci aja”. Richard dengan santai menjawab” Butet…Butet kau ini tidak bisa membikin orang santai barang sebentarpun” lalu aku menjawab” Bey, kan namanya perempuan”. Dia tidak marah dan tidak pernah meributkan apapun, ia melepas seprai baru tersebut, merendam dan mencucinya tanpa mengeluh apalagi mengumpat bahkan ia membuatkan aku teh manis hangat. Bisa kalian bayangkan hati orang yang bisa melakukan itu? Kalau yang lain pasti aku sudah ditelan hidup-hidup atau jika aku berjuang melawan maka di komplek tersebut akan ada suara teriakan yang menggegerkan sore penduduk perumahan tersebut dan setelah ada teriakan itu maka para satpam akan berpura-pura patroli sore untuk memastikan tidak ada pembunuhan dirumah itu. Sebenarnya tidak ada pembunuhan, itu hanya suara ku yang memiliki hobi adu mulut dengan Darsono, menyanyi dan bertelefonan sambil teriak.

Wilma, dimana Wilma? Ah, Wilma akan ada di rumah selepas Magrib. Ia pulang bekerja (jujur aku lupa apa nama perusahaan ia bekerja karena seingatku selalu berganti. Dia acapkali memutuskan keluar tanpa pesan dari setiap perusahaan sialan yang penuh aturan dan menuntut ia melepas kerudungnya). Ia akan duduk di kursi kayu diruang utama Sutet. Dengan teh manis yang dibuatkan oleh Richard. Richard tengah mendengar lagu seraya mengutak-atik jepretannya di laptop. Darsono akan duduk ditangga rumah berhadapan dengan Wilma. Lalu, Wilma akan menceritakan segala kezaliman para atasannya atau kebobrokan perusahaan tempatnya bekerja. Aku ingat, ia sebenarnya seorang pegawai dibagian humas sebuah bimbingan belajar yang hidup segan mati tak mau. Suatu ketika atasannya akan memberi bunga papan kesebuah pesta pemakaman dan kejamnya pemilik bimbel tersebut meminta Wilma membuat sendiri bunga papan. Dan Wilma ini meski kesal setengah mampus tetap saja ia merangkai indah bunga-bunga palsu tersebut. Kalau tidak salah ada peristiwa dimana seharusnya ia menuliskan Turut Berduka Cita malah menjadi Selamat Menempuh Hidup Baru. Hahahaha. Kami terbahak-bahak sampai sakit perut. Wilma menceritakannya enteng saja.

Kita kembali ke Richard.

Wilma selalu bilang bahwa Richard ialah saudara lelakinya merangkap saudara perempuannya sekaligus berperan kekasih hati, kawan seperjalanan dan juga atasannya di sebuah usaha jasa fotografi yang mereka rintis bersama kawan lain. Bagi Wilma, Richard begitu penting dan penting. Ia bercerita bahwa ketika ia memutuskan kembali ke kampung halaman dan meninggalkan peruntungannya di Medan, saat itu didalam bus ALS ia menangis dari malam hari hingga pagi dikemudian harinya alhasil ia sampai kampung halaman dengan mata sembab seperti orang baru cerai. Wilma berucap” Kau tahu Rin, ada masa dimana aku dan Richard membangun impian masa muda kami, memakan makanan dengan hemat apalagi dia, dia rela makan menu biasa saja agar aku bisa makan lebih enak. Suatu masa dimana aku dan dia dipenuhi ide dan kami mengeksekusinya dalam Trotoa. Sehingga yang membuatku begitu pilu di bus adalah aku tidak bisa bersama Richard  lagi dan mewujudkan impian kami bersama. Tapi, kau harus tahu Rin, siapapun yang menghancurkan Trotoa dan membuat Richard sedih maka aku tidak akan segan-segan memaki dan mendorong orang tersebut ke jurang biar mati sekalian”.

Ah, aku percaya bahwa Wilma serius akan perkataannya tersebut. Kau harus percaya pada ucapan seorang sahabat yang diserang rindu kronik.

Di Rumah Sutet, ada banyak orang. Tetapi akulah yang paling tidak berguna. Kehadiranku hanya pemanis. Richard bisa memotret dengan baik dan membuat berbagai teh organik, Hery aka Randy bisa memotret dengan baik juga bahkan ia bisa memasak berbagai menu karo dengan kelezatan diatas rata-rata rumah makan Karo, Wilma ia bisa menggambar ilustrasi dengan bakat dan keindahan yang nyaris tanpa cela, Kak Lina ia bisa berdagang apa saja, apa saja, mulai dari tiket pesawat, pulsa elektrik, tas plastik, apa saja dan ia juga cakap menulis setidaknya ini terbukti dari suatu peristiwa yakni Suatu ketika kak Lina berkunjung ke toko buku tersohor lalu membaca sebuah buku dan ia mulai merasa kenal dengan tulisan tersebut, seketika ia sadar itu adalah tulisannya. Hahahaha, kemudian ia menghubungi penulis itu, berdebat kemudian mendapatkan royalti dan penjelasan.

Tami aka Temonk, ah dia ini seorang sales marketing yang mumpuni, ia bisa meraih rupiah dari postingan antah barantah di facebook, bbm dan instagram. Ia menjual teh, produk pelangsing, obat jerawat, obat pelancar haid dan segala yang terkait. Ia akan duduk ditangga dan mengatur foto  sedemikan rupa kemudian menambhakan bahasa iklan lalu bukalah facebookmu maka kau akan melihat iklannya lewat di timeline mu. Oh ya, Bang Guntur, wah dia ini banyak sekali keahliannya, ia baik dalam banyak hal kecuali menata emosi. Ia jagoan dalam merayu wanita, menjual adem sari, memilih warung BPK yang enak dan murah, ia juga pendekar andalan kami, maksudnya, kalau jam dua dini hari kami kelaparan maka aku cukup merengek kecil ke kasurnya dan meminta mie aceh maka dia akan segera mengambil jaket, memakai topinya dan menghidupkan motor gedenya yang akhirnya sekarang tinggal nama. Dan Darsono, dia banyak kecakapan juga sebenarnya cuman karena setiap hari aku marah dengannya maka aku tidak bisa memperoleh keahlian apapun dari dia, tapi setelah aku pikir-pikir dia itu baik juga. Maksudku, kalau dirumah tidak ada makanan enak, besoknya dia akan mendapatkan kiriman dari kampungnya di Tarutung sana berupa beras merah dan ikan teri kemudian akan dimasak oleh Hery dan yang menghabiskannya tentu  aku dan Tami. Maklumlah Darsono ini dosen yang baik sehingga pulang selalu tengah malam. Aku ingat betul Bang Darsono ini sangat penakut sekali, ia takut kuntilanak, pocong dan jenis setan-setan produk film Susana dahulu kala. Aku aneh sekali dengan hal ini, maksudku dia ini lelaki yang tampangnya jantan jadi dia musti berani dong. Tapi sesungguhnya aku ini wanita iblis yang jahat, aku suka sekali menakut-nakutinya, aku pernah memakai mukenah Tami dan menggeletakkan diriku ditangga rumah yang remang sambil menghidupkan lilin aromaterapi kemudian dari kamar ia akan memanggil namaku dan aku diam saja, hahahaha, atau aku bersembunyi didalam lemari pakaiannya dengan mengurai rambutku, yang terjadi ialah ia berteriak dan lari tunggang langgang ke pos satpam, hahahahahahhaha. Aku jahat sekali. Sebaiknya aku harus meminta maaf padanya.

Dari semua keajaiban itu, Richard ialah orang yang paling cool dirumah tersebut.

Bagaimanapun aku berteriak dan marah kepada Bang Darsono maka Richard akan bilang kepada Darsono” Sudahlah, jangan kau ambil hati si Rini ini, dia hanya mau kau jadi lebih baik meski caranya agak sporadis” kemudian Darsono akan diam dan kembali bercanda.

Atau jika Hery sedang gundah gulana dan meringkuk dikamar sambil melihat-lihat telefon genggam maka Richard akan datang dan mengajaknya bercerita sambil memberi suntikan semangat seperti ” Kam ini kek anak SMA, biasa begitu memang. Kam harus semangat, lihat itu udah banyak klien kam”.

Atau saat Wilma geram akan atasan-atasannya yang setengah manusia maka Richard hanya akan tertawa sambil menunjukkan foto Noah Mills atau Jon Kortajarena yang berhasil membuat Wilma lupa bahwa dunia ini agak kejam.

Atau saat Bang Guntur tengah bersitegang dengan anggota lain muka bumi ini misalnya adik atau tetangga atau rekan kerjanya maka Bang Guntur akan duduk sambil merokok di ruang utama dengan Richard dan Richard akan berkata” Biasanya itu Bro, kalau kam emosi datang aja kesini, minta kunci ama si Rini, jangan kam berkeliaran dijalanan sana”

Atau saat Tami tengah bosan dan hampir putus asa dengan skripsinya maka Richard akan memompa semangatnya” Ayok Temonk, diketik aja sambil dengar lagu kita disini”.

 

Dan itulah Richard, ia bisa membuat siapa saja lupa bahwa dunia ini agak pahit. Ia begitu penuh cinta kasih. Ia akan mengambil semua buku lamanya dan memberikannya kepadaku dan berucap” Kam pasti akan suka Kundera, dia ini tipikal psikologi analitik persis seperti apa yang kam suka, baca ya bey”.

 

Richard punya kebiasaan ini, bangun pagi hari lalu mandi dan duduk dengan teh manis hangat sambil menyanyi dari laptopnya kemudian membuatkan yang lain minuman kesukaan kami.

 

Aku sepaham dengan Wilma bahwa kami bisa melakukan apa saja kepada siapa yang berlaku kejam kepada Richard, maksudku, jika seseorang berbuat tidak adil kepada Richard maka aku bisa menjambaknya dan melepaskan semua tata aturan sopan santun yang aku junjung, aku akan menjambak, mencakar muka, mendiaminya hingga sepuluh kehidupan.

 

Kalau sekarang aku tidak bisa memasak, tidak bisa membuat teh manis yang enak dan kopi yang sedap maka salahkan lah Richard dan Hery yang selalu melakukannya untukku sehingga aku jadi perempuan manja, hahahaha.

 

Aku beruntung bukan? Kalau kelak aku punya anak (aku sungguh tidak tahu ini kapan) maka aku akan membiarkan anakku hidup satu rumah dengan teman-temannya dengan segala perbedaan diantara mereka karena aku rasa itu baik, setidaknya kau belajar bahwa meskipun kita manusia ini adalah spesies aneh dan cenderung jahat meski begitu semua kita hakikatnya memiliki kebaikan atau setidaknya keunikan yang harus kita terima dan kita hargai.

 

Baiklah Richard, kau harus tahu, aku dan Wilma akan selalu menjadi pendukung fanatikmu, tidak peduli apa dan bagaimana kami nanti, kau adalah milik kami. Kau harus ingat ini, jadi kau harus sehat agar kita bisa berjalan-jalan lagi mungkin ke Mentawai.

 

Aku mencintai dan merindukan mu

Your Bey,

R,

 

 

 

LUPA

Forget 1

Suatu pagi yang tampak biasa seperti pagi kebanyakan. Bunyi pesan berdering di telefon genggam. Kau melontarkan sebuah teori.Sebuah teori tentang lupa. Menurut Hermann Ebbinghaus dalam teori kurva lupa. Kita bisa merumuskan perkara lupa dan ingat. Sebenarnya, aku antara mengantuk dan mencoba paham akan isi pesan mu. Menurut Hermann rumusnya ialah :

R : e T/S

Retensi Ingatan ialah waktu dibagi kekuatan relative sebuah ingatan.

Aku bertanya, jika S ialah kekuatan relative sebuah ingatan maka akan ada faktor yang mempengaruhi nilai S. Apakah faktor tersebut? Kau menjawab dalam pesan bahwa ada dua teori dalam upaya manusia untuk mempengaruhi nilai S. Antara lain ialah teknik mnemonic dan pengulangan berkala.

Aku menghela nafas. Antara kantuk yang mulai hilang dan sinar matahari yang menyusup lewat tirai dan menimbulkan silau. Dalam batin aku mulai berpikir. Gerangan apalah yang menghantam mu hingga tengah malam waktu di negeri mu kau membicarakan teori Hermann Ebbinghaus.

Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan? “tanya ku”

Begini, aku terkadang suka dan tidak suka dengan kemampuan manusia melupakan. Kita manusia cepat sekali melupakan. Kita meningglkan banyak hal yang berharga di masa yang lewat. Waktu itu, sekitar dua tahun lalu dalam sebuah siang yang segar dan suara riak danau yang tenang, aku melihat wajah mu dengan seksama. Aku pikir begini, sebaiknya aku mengamati dengan seksama. Tulang pipi mu, bola mata mu, warna kulit mu, bahkan aku mencoba merumuskan wawangian vitamin rambut mu. Aku tidak ingin melewatkan satu detail pun.

Pagi ini, aku bangun dari tidur. Aku menyadari satu fakta baru. Aku sudah melupakan banyak fragmen ingatan itu. Aku terbangun dalam kesedihan. Kau tahu, aku ingin meningatmu. Sekalipun, aku meminta kau mengirimkan gambarmu, aku melihat model rambut baru mu. Tapi tetap saja dalam sepuluh menit aku kembali lupa. Dan, aku membenci hal itu. Itu sebuah kemmapuan yang ingin aku lawan.

 

Aku menarik nafas, antara senang atau beban.

Sebenarnya tidak masalah bagi ku dilupakan. Toh, hidup selalu begitu. Kita bisa melupakan sebagian besar mungkin hampir semua tapi aku selalu yakin akan ada satu fragmen yang tertinggal. Mustahil mengingat semua. Sekalipun oleh sebuah repetisi yang sempurna.

 

Apakah kau masih mengingat sesuatu dari ku? “tanya mu”

Tentu. Tidak banyak lagi memang. Tapi mengingatmu tidak sulit dan itu sudah cukup untuk ku.

 

Saat itu dini hari, saat kau harus terbang meninggalkan Medan. Aku masih dibanjiri kantuk yang berat. Kepergianmu membuatku berusaha melawan kantuk, saat aku sarapan pagi sebuah kupu-kupu besar menempel di dinding apartemen ku. Aku ingat aku mengirimkan gambarnya kepadamu. Saat itu, aku mulai menyibukkan diri membaca. Memasukkan makanan ke mulut ku, menyeruput kopi, tapi segera aku sadari sesuatu hal. Aku bagai sebuah kemeja satin yang lepas dari gantungan dan terjatuh di almari, kusut dan perlu segera dirapikan. Begitu kisut dan tak bertenaga.

Kau belum lupa. Kau masih mampu mengingatnya. Itu menyenangkan.

Tidak, aku tidak mengingat banyak.

Aku punya sebuah pertanyaan terakhir. Apakah menurut mu kita akan bertemu lagi?

Ahh, manusia ini memang sulit yah. Kita bisa saja bertemu di kota lain. Toh kau dan aku bekerja. Tetapi kita juga ditarik dan menarik banyak hal sehingga memang hal-hal dari masa lalu seperti sesuatu yang kita tunda atau tidak lagi menjadi utama. Terkadang, aku berpikir mungkin kelak aku akan berkunjung ke negeri mu untuk berjalan-jalan dan memberi buku kepadamu. Namun nampaknya, aku juga tidak ingin segera melaksanakannya. Dan aku juga yakin kau merasakan hal yang serupa. Kita manusia memang begitu. Kita menginginkan banyak hal. Ingin menyimpan sebanyak mungkin. Tapi kita tidak diciptakan untuk mewujudkannya. Mungkin lebih baik begitu.

 

Aku ingin bertemu dengan mu. Terkadang ada niatan berlibur dan membaca di tepi danau dengan mu. Melakukan repetisi nyata. Tetapi seketika ingatan akan pedihnya membayangkan aku di pagi hari selepas kau pergi juga menghantam keberanian ku. Aku kadang juga berpikir, lebih baik segala sesuatu sekali saja dan selebihnya adalah kenangan. Tetapi jangan berpikir aku ingin melupakan mu. Sekalipun kau tidak boleh berpikir begitu.

 

Aku tersenyum.

 

Kau harus segera tidur. Mungkin membakar dedaunan supaya lebih santai dan ringan.

Kita manusia berjuang melawan sifat alamiah kita sendiri, ujar mu.

 

F,

 

Denpasar,

19 Agustus 2016

 

 

 

 

RINDU

Seperti malam yang gelap ditemani bulan yang kaku menggantung

Seperti burung hantu yang ribut di kedalam hutan pinus

Seperti angin malam yang bergoyang kencang dan ngeri

Hari ini, aku kembali melihat gambar matamu

Kedua bola yang pernah begitu lembut dan santun

Kelembutan dan ketidaktergesaan mu lah keunggulanmu

 

Mimpi 13 tahun lalu

image

Malam masih begitu awal, kita berjanji tuk menikmati satu dua gelas teh. Bukan, bukan untuk teh tapi aku punya sebuah rahasia yg ingin aku kau tahu. Mungkin juga kau punya rahasia yg akan kau muntahkan malam ini di rumah teh itu.

Kau duduk di sudut ruangan, di tepi jendela dengan cermin yg mulai lembab oleh dingin malam di luar dan pendingin ruangan di dalam. Kemeja putih yg kau kenakan tampak begitu tepat di tubuh mu. Kerahnya nampak rapi dan bersih. Kau memainkan tepi gelas sambil membaca sebuah buku.

Aku berdiri di depan pintu, mengamati mu sebentar, ku lihat wajah mu dengan bola mata yg berputar menatap penuh lembar buku, sesekali kau membasahi bibirmu, ada sekumpulan rambut kecil di sekitar wajah mu yg berarak rapi. Aku membayangkan kau berdiri di depan cermin kamar kecil mu, dengan setumpuk krim lalu melalap habis rambut kecil itu di akhir pekan.

Kau melihat ku, kau berdiri dengan penuh senyum yg mengembang dari satu sudut ke sudut lain. Aku melangkah dan kau berjalan. Kini kita di tepi meja, di sudut ruangan sebuah rumah teh. Kau dan kemeja putih bersih, aku dan sebuah gaun biru tua.

Selang beberapa detik, aku seperti masuk ke dalam sebuah mimpi. Kecupan basah dan hangat mendarat di kening. Kita duduk saling memandang dan segelas kamomil teh sudah kau pesan untukku, kau paham mengenai seleraku.

Tangan mu mengelus tangan ku, kau persilahkan aku membuka cerita rahasia.

Rahasia apa? Aku gugup dan membayangkan ini sebuah rahasia adidaya, apakah aku berlebihan?”tanyamu”.

Hahaha, semacam rahasia besar ttg program nuklir Iran. Begitu?”tanya ku”

Bukan, itu terlalu gelap. Mungkin semacam rahasia bahwa sebenarnya bumi tidak bulat dan Colombus menipu kita”jawabmu”.

Tidak ada tipuan, kepura-puraan atau konspirasi. Ini sebuah rahasia silam. Kau hanya harus tahu krn aku rasa kau yg memainkan rahasia ini”jawab ku”.

Aku? Bermain peran utama? Di masa silam?”tanyamu penuh ingin tahu sambil meneguk teh hangat”.

Iya, aku pernah bertemu dengan mu ketika aku masih berusia 13 tahun, dan dalam mimpi itu, saat itu aku sudah berusia 27 tahun dan kau mungkin sekitar 30. “Jelasku”.

Maksudmu? Kita pernah bertemu 13 tahun lalu dengan rupa saat ini? Kau percaya ttg kehidupan sebelumnya?”tanyamu dng mimik serius”.

Aku tidak tahu ttg kehidupan sebelumnya, tetapi kita bertemu di kehidupan yg skarang, kehidupan yg sedang kau dan aku jalani ini. Mungkin aneh atau janggal atau mustahil tetapi aku sadar dengan sahih bahwa itu kau dan aku” jawab ku”.

Dimana? Dan bagaimana? Aku tahu kita mengenal satu tahun lalu dan menjadi kita sekarang beberapa bulan belakangan tetapi aku juga kerap berpikir, kenapa kita terasa seperti saling paham bahkan saat kita tak berbicara, seperti entah mengapa kadang aku tahu apa yang akan kau lakukan, seperti aku mengenalmu cukup baik padahal kita baru setahun mengenal tetapi aku ingin mendengar ttg kita di 13 tahun lalu, karena apa yg aku pikir mungkin belum cukup bisa menerima itu dengan mentah. “Katamu sambil memainkan jemari ku”.

13 tahun lalu, kau yg sekarang mencari dan singgah ke diri ku yg sekarang tetapi dalam wujud aku yg saat itu masih 13 tahun, kau datang dalam sebuah peluk, diatas seprai putih dan tirai kamar berwarna abu-abu, lampu tidur kuning temaram yg memantul ke penjuru tembok, aku terbaring dalam peluk dada mu dan kau memeluk dari belakang sambil mengelus rambut ku, kaki mu menggesekan telapak kaki ku, kau paham bahwa gerakan itu akan menghantarkan aku pulas, aku memainkan kaus tanpa lengan berwarna putih milikmu, sesekali kau melihat ku dan memberi kecup, aku tertidur diantara sadar dan degup jantung mu. Temaram cahaya kuning memantul ke arah kita dari segala penjuru tembok kamarmu, sesekali dalam kantuk yg nyaman aku lihat tirai abu-abu yg bergoyang kecil.

Tahukah kau bahwa kamar itulah petunjuknya, tirai abu-abu, posisi jendela, tata ruang kamar, lampu tidur dan seprai putih serta celana tidur mu dan tentu wajah mu. Ketika pertama aku memasuki kamar mu, seperti aku memasuki sebuah ruangan masa lalu dan masa depan sekaligus, saat malam itu kau peluk aku dalam kantuk yg pelan-pelan di temaram kuning cahaya lampu tidur dengan tirai abu-abu, aku jadi sadar bahwa cuplikan mimpi 13 tahun lalu yg selalu datang saat aku menatap cermin sekarang sudah ada di depan ku, aku di dalam kepingan mimpi.”jelasku”.

13 tahun lalu, kita bertemu dari masa depan, alam bawah sadar mu ku temui, begitu?”tanyamu”

Apakah aku gila?”tanya ku”

Tidak, tidak sama sekali. Kadang alam bawah sadar kita berjalan mencari sebuah jejaring yg hilang, meski konon kabarnya hanya satu juta dari satu milyar penduduk yg bisa memaksimalkan fungsi pengatur emosi otak, aku percaya pada mu.”jelasmu sambil menggeser posisi kursi mu dan berpindah di sebelah ku”

Kau genggam kedua tanganku, melipat jemarimu di sela jemari-jemari ku.

Kau tahu apa yg membikin ku, mengajak mu berkenalan di tengah keasingan setahun lalu?

Karena tawa mu, karena segala tawa renyahmu yg mengambil perhatian, dan suara itu yg aku kenali sekian lama.
Aku tak menceritakannya karena menurutku segala tentang mu sudah dan akan aku ketahui pelan-pelan, segala jawaban juga akan tersaji bagai menu makan malam. Terkadang muncul semacam pertanyaan, siapakah kita berdua hingga ada banyak sekali kegenapan yg begitu ajaib mempertemukan kita.

Sekarang segalanya menjadi jelas, aku di masa muda dan dimasa depan bahkan telah menangkap mu dalam mimpi, memelukmu dalam keheningan malam, bagiku tawa mu ialah petunjuknya, sedari dulu aku selalu mencari tawa, mengenalinya hingga aku tahu banyak jenis tawa. Dahulu, aku pernah membaca bahwa tawa ialah resonansi suara yg kaya, yg didalamnya ada banyak kandungan harapan dan respon.
Segala tawa yg aku dengar sejak dulu, semacam makanan yg menarik tapi tak membuatku kenyang, seketika aku dengar kau tertawa saat itu, aku tahu bahwa tawa mu adalah yg aku cari. Ini bukan ttg aku meneliti tawa, juga bukan tentang aku mengoleksi berbagai macam tawa hanya aku tahu bahwa ada satu tawa yg aku cari dan tawa mu lah yg akan mengenyangkan aku.

Jadi aku paham sekarang, suara dan visual kita sudah bertaut sejak lama”ucap mu”.

Aku sandarkan kepala ini di bahumu, segala kehangatan melebur masuk ke dalam kutis dan menembus tulang, tangan mu mengelus punggung tanganku, kau perhatikan seksama mata ku, segaris senyum yang aku kenal betul mengembang puas.

Mungkin sekalipun kita sudah bertemu 13 tahun lalu, kita sudah bertaut sekian lama tetap tidak akan mudah, tapi kau harus tahu bahwa segalanya pasti memiliki titik akhir yg layak”ucapmu”.

Kalau mudah, kau tak kan sampai harus menemui ku 13 lalu, “jawab ku”.

Dan dua gelas teh di depan kita kehilangan panasnya, malam kehilangan sengat gelapnya, bahu mu dan kemeja mu mengirimkan panas secara paralel ke tubuh ku, dan kecupan mu membaringkan ku dalam kantuk yg pelan, kau selalu mampu menghantarku dalam segala yg nyaman.

Singaraja, 4 Juni 2015