Selamat 26

kue

Selamat memasuki 26, selamat melewati pembatas antara usia.

Tahun lalu  kita menikmati lima potong kue tart cokelat di tepi danau didampingi segelas kopi, lalu agar suasana semakin romantis kau menambahkan dua buah lilin diantara gelas kopi kita.

Kemungkinan ada banyak dimuka bumi ini” kata mu”

Jika kemungkinan terburuk terjadi dan setiap tahun aku dan engkau takkan bertemu maka aku ingin kau dan kenangan tetap aku rayakan hingga usia 30 tahun” Pinta mu”

aku tertawa, apa kau akan mengingat meski ternyata aku takkan bertemu engkau lagi? “tanya ku”

Rini, aku ingin mengingat setiap kelegaan yang kau hadiahkan, setiap tawa dan penjelasan lucu mu sampai batas otak ku, aku tahu lupa adalah hadiah. kau tahu jika aku mengingatmu lebih dari lima tahun maka aku pasti gila “jelas mu”

baik, aku paham. aku tidak apa-apa kau ingat selama lima tahun” ujar ku”

Senja itu ada peluk mu yang menyelimuti aku, kau bagai burung camar yang bersembunyi di dalam sangkar dan nyenyak. Kulitmu kemerahan akibat terbakar matahari, aku memainkannya. kau terus mendekap seperti mendekap adalah satu hal yang begitu mewah.

terima kasih karena pernah memuja dengan begitu sempurna, mencinta hingga aku merasa lengkap.

selamat ulang tahun, F.

Selamat menikmati potongan kue cokelat di belahan bumi lain.

Si Robin dan Akuarium

image

Seekor Ikan Beta di Kamar beraroma Rokok.

Ada dua puluh ekor ikan di sebuah akuarium di kamar kecil tersebut. Dua puluh ikan Beta berwarna-warni yang di beli pemiliknya tuk melatih tanggung jawab sekaligus tuk melepas segala atribut penat mereka.
Dua puluh ikan ini dipilih secara acak dari penjual ikan pinggir jalan kota Medan. Tak ada alasan khusus kenapa harus yang dua puluh ini selain warna mereka yang ceria.
Dua puluh ikan ini pun lagi-lagi pasrah akan di bawa kemana mereka. Dalam kantung pelastik bening mereka di giring ke habitat baru.
Ada se ekor ikan, sebutlah ia Robin. Robin bergembira selama perjalanan.
Se ekor Beta lain bernama Icon bertanya, hey Robin, aku lihat kau begitu gembira, ada apa?” Tanya Icon”.

Icon, tetiba ada ide di kepala ku. Mungkin ketiga lelaki ini akan mengembalikan kita ke sungai lalu kita akan bebas dari aquarium atau kantung pelastik”jawab Robin”.

Hahahahaha, tolol kau Robin. Tak kah kau lihat mereka sudah membeli akuarium dan wajah mereka tak mengisyaratkan piknik ke sungai tuk memulangkan kita. Jangan kau lahirkan impian di siang bolong Robin”jawab Icon”.

Lalu Robin murung, ia tak menyadari akuarium di pangkuan seorang lelaki gagah di sebelah supir. Ia mengambang pasrah di pelastik penjara itu.

Sampailah mereka di sebuah rumah mungil yg tampak asri.

Robin berteriak ke Icon.
Con, mungkin ada kolam di belakang rumah ini dan kita dibiarkan disana. Kau lihat rumah mereka ada banyak bunga.”teriak Robin”.

Lalu 19 ikan tersebut tertawa.
Kau terus gali mimpi, sudahlah kau kubur saja mimpi mu kembali ke sungai itu”jawab Icon”.

Betul kata Icon, tidak ada kolam, tidak ada halaman belakang yg rindang justru sebuah kamar kecil yg miskin udara.
Akuarium diletakkan di sebelah televisi merek Korea, pemutar air disetel, ditambahkan sedikit tanaman air lalu kami di masukkan ke akuarium tersebut.

Kami dua puluh ikan muda, dalam satu akuarium mini di kamar gelap yg selalu dipenuhi asap rokok.

Icon pun memanggil 19 ikan lain.
Kawan-kawan, lebih baik kita dibiarkan di pedagang ikan saja. Lihat sudah dua hari kita disini tapi tak ada hiburan yg kita peroleh. Hanya dua lelaki yg kerap berargumen, mengorok hingga siang hari, merokok hingga tengah malam, aku bosan. Lagian kalau kita di pedagang kemarin, setidaknya dia merawat kita karena kita akan di jual dan yg lebih penting di sana kita melihat banyak orang dengan keragamannya sperti di sungai, di sungai kita lihat ada banyak pemancing yg kita trtawai tingkahnya. Di sini hanya dua manusia tsb, membosankan!”ujar Icon”.

Jadi apa ide mu?”tanya Linda”

Kalau kita begini terus, aku lebih baik mati. Apa bedanya mati dng diracuni asap rokok yang tebal setiap hari? Toh kita juga akan mati keracunan dan kurus.”jawab Icon”.

Mati? Kau gila! Aku ingin bertahan dan menarik perhatian mereka. Mungkin kelak mereka akan melepaskan aku ke sungai.”jawab Robin”.

Hahahahaha” 18 ikan lain tertawa”.

Robin, jangan kau tersinggung. Mereka ikan pemalas. Aku juga tak mau mati pasrah. Kadang memang sebagai ikan tak banyak pilihan yg kita punyai. Tetapi tak banyak bukan berarti tak ada kan?” Ucap Linda”.

Apa yg akan kau lakukan Linda?”tanya Robin”.
Mungkin, aku akan bertahan sekuat yg aku bisa. Jikapun aku harus mati karena asap rokok tebal, berkurangnya cahaya dan oksigen di kamar ini, pengapnya ruangan ini, aku akan tetap memilih mati alamiah. Bunuh diri itu hanya untuk pecundang. Kau sudah tahu Icon dan yg lainnya sejak di sungai pun selalu malas, mereka hanya berenang di bawah lumut, pasrah menanti sisa-sisa lumut. Mereka kurus dan tak menarik. Entah kenapa lelaki itu memilih mereka? Pilihan bodoh!”jawab Linda”.

Kau pintar dan lucu Linda. Aku juga tak akan ikut dlm aksi bunuh diri mereka. Bukan karena itu konyol hanya saja aku yakin suatu saat aku pasti kembali ke sungai”jawab Robin”.

Ah, aku tak seberani itu menggantung mimpi. Tapi aku punya mimpi.”jawab Linda”.

Apa mimpi mu Linda?”tanya Robin penasaran”.
Kau lihatlah kamar di seberang sana! Aku suka kamar itu, ada jendela yg sllu terbuka, ada pepohonan rindang dibalik jendela dan aku perhatikan pemiliknya tak merokok. Kamar itu juga cukup cahaya dan sirkulasinya cukup. Bagiku hidup di kamar itu sudah cukup.”jawab Linda”.

Tapi kau tak bebas, berada di toples kaca itu juga membosankan dan apa bedanya dng akuarium ini?”tanya Robin Heran”.

Berbeda, sedari dulu aku sudah paham ttg nasib ikan beta macam kita. Ibu ku bahkan diangkut dari sungai sejak aku masih begitu kecil. Bberapa jam setelah melahirkan aku dan saudara-saudaraku. Saudara-saudara ku yg lain gagal menaklukkan sungai dan seorang saudara ku juga ditangkap oleh pedagang ikan. Sejak itu aku sadar betul bahwa ikan beta seperti kita sudah tak memiliki banyak pilihan, aku belajar menerima jika kelak aku tertangkap maka aku harus menikmati siapa pun tuan ku. Lagian di sungai juga bukan hidup yg lebih menyenangkan. Kau lihat saja setiap hari ikan-ikan besar merebut makanan kita, pemancing-pemancing yg menggoda dng cacing gemuk, jaring nelayan yg siap memperdaya kita, belum bom ikan yg siap menghantam nyawa kita dan rumah kita kapan saja. Di toples kaca seperti di kamar sebelah sudah surga bagi ku”jelas Linda”.

Tapi di sungai, sekalipun kita mati. Kita mati dirumah. Kita mati berjuang”jawab Robin”.

Mati, bagaimanapun sebuah kematian tetap perjuangan. Sekalipun itu bunuh diri karena kekenyangan pelet tetap Icon dan 18 kawan kita berjuang kenyang demi mati. Walau konyol bagi ku tetap saja mereka berjuang.”jawan Linda”.

Jadi kau akan pindah?”tanya Robin”

Aku berharap, tuan kamar sebelah tertarik dengan kemungilan ku dan tarian ekor ku.”jawab Linda”.

Hari pun berlalu, minggu-minggu membosankan semakin memantapkan tekad Icon dan 18 ikan tuk bunuh diri.

Besok siang, kedua lelaki ini sudah kembali ke kamar ini, besok Jumat itu jadwal mereka tidur di kamar ini. Kita harus mati selambat-lambatnya pagi kita harus mati”sela Icon”.

Apa tidak sebaiknya kita mati di depan mereka? Toh mereka tdak tahu cara menyelematkan ikan. Dan bagaimana cara kita mati?”tanya Lupard”

Lihatlah Robin, benarkan kata ku, mati itu sendiri perjuangan”jelas Linda”.

Robin mengangguk tanda setuju.

Kita mati dng cara melukai satu sama lain, aku akan meminta Robin melukai ku. Dan tidak sulit kita mati, kita saja tinggal tulang begini.”jelas Icon”.

Aku tak mau melukaimu, kau gila.”jelas Robin”.
Baiklah jika kau tak mau. Aku akan mati belakangan dan ketika dua manusia itu membagi pelet, aku akan menelan mereka semua.”jawab Icon”.

17 ikan itu pun bertarung hingga lelah, lelah ditambah lapar dan oksigen di kamar yg kian menipis. Lima hari sudah kamar ini tak berpenghuni, jendela tak dibuka, tirai menutup tiap senti jendela, pemutar air yg mati akibat token yg belum di isi ulang sehingga mati pun sepertinya pilihan bijaksana.

Tersisalah Robin, Linda dan Icon.

Terdengar suara tiga lelaki pemilik rumah ini, kedua lelaki itu menuju kamar mereka.

Ya ampun, Zack lihatlah hampir semua ikan kita mati”teriak Ramon kaget”.

Ih pasti karena pemutar air mati, yah sudahlah kita kubur saja di belakang. Apa lagi mau kita bikin?”jawab Zack santai”.
Ya ampun tiga ikan kalian ini lemas, sudahlah yg paling kecil nanti aku pindahkan saja yah ke kamar ku”pinta Neil”.

Ambil saja Neil, biarlah dua itu saja kami rawat. Mungkin kemarin kami terlalu impulsif membeli dua puluh ikan”jawab Zack”.

Neil pun menuju dapur, membersihkan toples kaca yg selama ini jadi vas bunga ester, ia ambil koleksi bunga pelastiknya. Ia rangkai akuarium sederhana.

Hey Robin, lihatlah tuan itu pasti akan memungut aku. Aku paling mungil dan lincah. Ia pasti menyukai ku. Ah impian aku segera terpenuhi.”teriak Linda sambil menari”.

Mungkin kau benar Linda, ia tampak mempersiapkan rumah baru mu. Apakah aku masih bisa melihat mu?”tanya Robin”

Tentu, aku berharap ia menaruh ku di tepi meja itu. Sehingga aku dan kau masih bisa saling melihat dan tenang saja, kita para ikan selalu tahu cara berbicara satu sama lain meski jarak ribuan mil. Kita tak perlu telefon seluler mereka.”ujar Linda”.

Benar, aku akan bersiul, setiap aku bersiul kau harus menoleh ke arah sini!” Pinta Robin”.

Tenang, setiap kau bersiul aku akan menari untuk mu”jawab Linda”.

Sementara Icon lemas di sela-sela tumbuhan air yg mulai busuk.
Icon, kau akan mati sebentar lagi. Apakah yang kau rasakan?”tanya Robin”.

Ada tiga hal yang aku pikirkan sekarang, kau mau tahu apa?”tanya Icon”.
Apa?”jawab Robin dan Linda”.
Pertama. Aku muak dengan tingkah kalian yg terus berlagak optimis dan semangat di akuarium busuk ini. Kalian sperti pemain sandiwara di televisi sebelah ini.
Kedua. Aku cukup miris dengan nasib ku yg memilih mati belakangan, tak kah kalian lihat? Ekspresi si Zack dan Ramon melihat mayat 17 kawan kita, ekspresi datar tanpa belas kasih dan sesal. Bagaimana mungkin ia sanggup berkata bahwa membeli kita semua adalah tingkah impulsif mereka. Aku sedih menyaksikan tontonan kejam ini. Seandainya aku mati lebih dahulu dng imajinasi bahwa kedua tuan itu akan pilu dan sedih, mungkin mati begitu lebih baik. Mati dng imajinasi dan harapan terakhir.
Ketiga. Aku harap semoga kolam ini meledak dan membasahi kasur itu lalu mereka melepaskan kalian ke sungai terdekat.”jelas Icon”.

Icon pun mulai mengap-mengap tanda oksigen mulai menipis di insangnya, insangnya meronta mengemis oksigen, Icon tak hiraukan bahasa tubuhnya.

Sementara Robin dan Linda menyaksikan Icon tanpa bisa melakukan apa-apa, menghambat kematian sama sulitnya dengan mempercepat kematian.

Icon dalam selang 30 menit kehilangan nyawa, mengambang lemas tak bertuan. Melayang di sela-sela tumbuhan air yg mulai busuk. Berputar pasrah akibat pemutar air, tak juga melawan, Icon sudah mati dan sukses bunuh diri.

Ya ampun Ramon, satu lagi ikan kita tak bergerak. Sepertinya dia mati.”ujar Zack sambil mencelupkan telunjuknya ke sela-sela tumbuhan air”.
Ih kenapa mati semua yah?”tanya Ramon sambil menyalakan rokoknya”

Lalu Neil datang sambil membawa jaring kecil tuk menangkap Linda.

Kalian tahu, ikan itu hewan yg sensitif. Mereka tahu bagaimana cara mati yg baik. Dan jelas saja ikan lele sekalipun akan mati jika pemutar air tak hidup selalu, ruangan pengap, gelap dan bau rokok begini. Dan lagi pula kita sudah lima hari tak di rumah ini, mereka jelas kelaparan.”jawab Neil sambil memboyong toples berisi Linda ke kamarnya”.

Tapi kan Neil, kata bapak pedagang itu mereka ini ikan kuat, tak akan mati sekalipun seminggu tak makan.”jawab Zack”.

Sudah ku bilang, ikan itu hewan sensitif, di lautan dan danau sana mereka jadi indikator kelayakan laut dan danau itu sendiri. Kau pikir mereka ikan dari samudera dekat kutub sana yang sanggup hibernasi berbulan. Mereka ini ikan tropis, setidaknya tiga hari kita harus tebar makanan mereka. Lagian apa yg tidak di ucapkan oleh pedagang”ucap si Neil”.

Sudahlah, mari kita kubur saja si ikan yg malang ini”ucap Ramon”.

Robin pun menyaksikan Linda diboyong ke kamar seberang dan Icon di bawa ke halaman belakang tuk dikubur.

Robin pun berputar sesekali menikmati pelet, ia juga kerap melihat kedua tuannya berbincang sambil menyulut rokok, ia juga ikut menyaksikan televisi yg terus menyiarkan kematian seorang komedian karena sakit kronis, ia juga sering memdengar musik elektro di kamar ini. Kadang2 jendela di buka walau tirai di tutup. Asap rokok terus mengepul seraya asbak yang makin penuh.

Eh Zack, kasihan yah ikan ini sendirian. Mungkin kalau kita pergi ke Toba, kita lepaskan saja dia disana.”ucap Ramon”.

Ke Toba, jauh sekali. Sebaiknya kita beli saja beberapa ikan lagi supaya dia tidak sendirian”ucap Zack”.

Nanti mati lagi, lagian kita mungkin belum tepat memelihara ikan. Kita masih tinggal di dua kota, belum bisa merawat mereka dng maksimal”ujar Ramon”.

Anggap saja latihan”jawab Zack”

Robin pun kembali lemas, ia sempat terbuai membanyangkan Danau Toba yg maha luas itu, dalam mimpi pun ia tak berani bermimpi dilepaskan kesana. Tapi nampaknya Tuan satu itu tak menyukai ide tuan satu lagi. Apakah sampai mati aku harus di akuarium ini? Yang jika senin hingga kamis gelap dan pemutar air bisa berhenti kapan saja, ia harus tersengal-sengal karena lapar dan kekurangan oksigen. Apakah ia harus berjuang untuk tidak mati konyol seperti Icon dan 17 kawannya? Atau apakah ia harus tetap berbahagia dan menari seperti Linda?”pikir Robin”.

Sementara di seberang sana, Linda mengibas ekornya untuk Robin. Ia berteriak. Hey Robin, jangan sedih. Kau hanya cukup terus bernafas dan memakan pelet. Sepertinya di era sekarang ikan harus makan pelet mau tidak mau. Jadi nikmati saja!”ujar Linda”.

Robin pun menangkap pelet sambil membayangkan seperti apa Danau Toba itu.

Sementara dua tuannya, pulas dan memdengkur.

Robin berputar dalam akuarium mungil ditemani lantunan Paloma Faith dari telefon seluler tuannya.

Aku, Kau dan KUA.

Kau, memaksa ku pergi ke gedung kusam itu. Tempat segala berkas kawin orang tertumpuk busuk di makan cecurut.
Lin, tidak salah jika kita pergi ke KUA. Toh kau mencintai ku. Jadi mari kita satukan saja. “Saran Reza”.

Reza, kita sudah bersama selama tiga tahun, kita bahkan mengenal lebih lama. Aku masih 27 tahun. Jangan kau paksa aku ke KUA, aku masih belum seyakin itu.”jawab Linda”.

Aku heran pada mu, orang tua kita sudah bertanya, aku sudah 32 tahun, kau dan aku sudah lebih dari cukup untuk menghidupi anak. Lagian kita bagian masyarakat, menikah itu identitas masyarakat kita. “Balas Reza”.

Apakah kau tahu? Aku hanya punya satu alasan kenapa aku ogah ke KUA dengan mu. Pemikiran dangkal mu ttg pernikahan. Pernikahan bukan ttg identitas kemasyarakatan kita, bukan juga jadwal hidup setelah di atas 25 tahun untuk perempuan dan di atas 30 untuk laki-laki, pernikahan itu tentang komitmen kita satu sama lain yang naik satu tingkat. Dan satu lagi aku bisa menikah tanpa harus ke KUA. “Jawab Linda”.

Kau terus keras kepala, kau dan aku hidup diantara orang tua, diantara makhluk sosial bernama masyarakat. Kau pikir pemikiran mu itu akan mudah pada akhirnya. Kau akan menambah populasi tanpa memberi kemudahan administrasi pada anak jika kelak ada di antara kita. Kau tak boleh egois. “Jawab Reza”.

Lalu kita harus ke KUA hanya karena surat untuk anak? Alasan apa itu? Apakah tak bisa kau berikan alasan lain?” Tanya Linda”.

Aku tak ingin kita ribut, tapi jika kau tak ke KUA sepenuhnya bukan masalah bagi ku tapi jadi masalah bagi orang tua mu dan orang tua ku. Dan aku di mata mereka menjadi pejantan tak bertenaga kuda karena tak berhasil membujuk mu menikah, hilang daya sengatku. “Jawab Reza”.

Jika sengat mu hanya dinilai dari pergi tidaknya kita ke KUA maka aku tak butuh sengat karbitan macam begitu. Sengat mu dalam menciptakan kita yang beritme teratur dan bernafas pelan sudah jauh lebih dari cukup, tak perlu hitam atau tanda tangan dari pria berpeci yang tiba-tiba mendadak sakral dalam hidup kita. Aku tak butuh sengat karbitan itu. “Jawab Linda”.

Apakah kau akan menikah dengan ku kelak?”tanya Reza”.

Kita akan ke KUA suatu hari baik nanti, saat dimana aku dan kau tidak lagi ribut karena KUA, saat dimana aku adalah manusia yang kau hargai kesiapannya. Menikah itu tidak sama dengan membeli perabot yang ketika tak cocok bisa kau jual kembali, menikah itu seperti memilih tempat berwisata, kita harus tahu apa yang mau kita kunjungi, kita nikmati baik dan buruknya dan juga tentang rupiah jadi tunggulah sampai aku benar-benar paham tentang tempat yang akan kita arungi itu.”jawab Linda”.

Linda, mencintai mu tak mudah apalagi memahami isi kepala mu yang tak sederhana tapi meski begitu kau magnit bagi segala yang diam di dalam aku” bisik Reza dalam hati”.